
"Mars.." sebuah sentuhan yang terasa dingin di bahuku. Aku menoleh dan mendapati Maria berdiri di belakangku.
"Oh, kau di sini. Syukurlah," ucapku lega.
Maria menarikku mendekat dan memasuki pelukanku mendadak. Ia berkata bahwa ia bersyukur atas kehangatannya, atas kemantapan lenganku yang melingkarinya.
Aku menarik napas dalam-dalam, gemetar dan melepaskan semuanya, napasku berhembus ke arahnya. Aku menghirup aroma kulitnya yang kaya dan memabukkan, aroma samar gardenia yang entah bagaimana dia bawa. Detik berlalu dalam keheningan yang sempurna dan kami saling mendengarkan napas. Perlahan, detak jantungku stabil.
Untuk sementara hanya aku dan Maria, tersentuh oleh kabut samar kegelapan.
"Aku menginginkanmu, Mars" bisik Maria.
"Aku mencintaimu," ucapnya.
Mencintai Maria? Tetapi cinta ini baru, hijau, kedalamannya belum dipetakan, belum teruji. Dalam jendela yang singkat dan berkilauan di mana lubang menganga dalam ingatanku terasa sepenuhnya diperhitungkan, adakah hal di antara kami yang berubah? Bahkan sekarang, bahkan dengan kebisingan di kepalaku, aku merasakannya.
Aku merasa dia tiba-tiba menegang dan aku mundur, khawatir. Aku tidak bisa melihat banyak dari Maria dalam kegelapan yang perlahan sempurna. Maria menyentuh lembut tanganku, merasakan bulu-bulu halus di sepanjang lenganku.
"Apa yang kau pikirkan?" Aku bertanya.
"Aku baru saja memikirkanmu," balasnya.
"Aku?"
Maria menutup jarak di antara kami lagi. Mengangguk di dadaku.
Mataku melebar, pemahaman menghilangkan kekhawatiran. Dia tidak mengatakan apa-apa, tapi aku bisa mendengar detak jantungnya, berpacu dalam keheningan, dan akhirnya aku mendengarnya menghembuskan napas. Itu adalah suara yang berat dan tidak rata, seperti dia mungkin menahan napas terlalu lama. Aku berharap aku bisa melihat wajahnya. Tidak peduli berapa banyak waktu yang kami habiskan bersama, aku masih lupa betapa dia bisa merasakan emosiku, terutama pada saat-saat seperti ini, ketika tubuh kami merapat tanpa jarak.
Dengan lembut, Maria menjalankan tangannya ke punggungku. "Aku sedang memikirkan betapa aku mencintaimu," katanya.
Maria lalu terdiam, tetapi hanya untuk sesaat. Dan kemudian dia menyentuh rambutku, jari-jarinya perlahan menyisir helaiannya.
“Apakah kamu merasakannya?” ia bertanya.
Aku tidak menjawab, aku mundur untuk membuat sedikit jarak diantara kami. Aku berkedip melawan hitam sampai aku bisa melihat kilatan matanya, bayangan mulutnya.
“Mars?”
"Ya," jawabku.
"Ya, kamu merasakannya?" dia terdengar sedikit terengah-engah.
"Ya," jawabku lagi.
“Seperti apa rasanya?” tanya Maria lagi. Dia mendesah.
Maria mengecup lembut lenganku dan bergerak berputar menuju punggungku. Dia diam sedikit lama di sana sehingga, untuk sementara, aku tidak yakin apa yang ingin ia lakukan. Hembusan napasnya terasa hangat di sana. "Katakan, Mars.. apa rasanya," Maria mengulangi.
“Sulit untuk dijelaskan. Ini adalah kesenangan yang begitu dekat dengan rasa sakit sehingga terkadang aku tidak bisa membedakan keduanya," jawabku diantara perasaan yang sulit dimengerti.
“Kedengarannya mengerikan.” ucap Maria diiringi tawa kecil dari mulutnya.
"Tidak," balasku. “Ini sangat indah.”
"Aku mencintaimu, Mars." katanya.
Aku menarik napas tajam. Dalam kegelapan ini, dalam pelukan Maria aku merasakan ketegangan hingga ke rahangku, aku menggenggam tangan Maria, menatap langit-langit.
"Mars..." suara lain memanggilku pelan, seperti bisikan.
Getaran hebat menerpa kulitku dan tulang punggungku menjadi kaku, tulang-tulangku tertahan oleh peniti yang tak terlihat, mulutku membeku dan mencoba menarik napas.
Panas memenuhi pandanganku. Aku kemudian tidak mendengar apa-apa selain irama statis, angin. Aku tidak merasakan apa-apa untuk sesaat. Kosong.
Kelopak mataku berkedip, api masuk ke dalam diriku, meledak...
Mars!
Mars...
Mars!
Dua suara dari pemilik berbeda.
Rasa sakit yang tajam menyerang tubuhku hingga ke lutut. Bayangan saudara perempuanku memenuhi pikiranku, tulang dan kulit yang meleleh, jari-jari berselaput, mulut basah, tanpa mata. Tubuhnya tergantung di bawah air, rambut cokelat panjang seperti segerombolan belut. Suaranya yang aneh dan tanpa tubuh menembus diriku.
Aku berteriak tanpa berbicara. "Marbi!"
Apa yang terjadi? Aku bertanya.
Aku melihat Jiso, panik dan marah, menuntut Marbella mengumpulkan pasukan tikusnya, berbicara tentang uang, berbicara tentang pulau. Aku melihat Moonflower yang menangis tersedu, kedua sayapnya patah, tubuh manusia dengan sayap besar yang terkulai, wajahnya sangat basah. Aku kembali melihat Marbella... Ia kini berdiri tegak, melangkah dengan pasti ke arahku.
"Kembalilah, Mars. Kita tidak bisa tidak menang!" Ucap Marbella.
Aku terkesiap.
Aku menghirup udara dengan satu tarikan kuat yang mengisi paru-paruku. Menggerakkan dadaku.
"Marbi!"
Aku menggenggam erat tangan Marbella dengan kedua tanganku yang bergetar. Keringat mengalir menyentuh alisku, perih, memasuki mataku.
"Moon, James....," ucap Marbella.
Aku memutar kepalaku mengikuti gerakan Moonflower yang tergesa. Oh, James tergeletak di lantai basah, merah pekat. Dadanya bergerak, dia masih bernapas. Sedikit perasaan lega menghampiriku.
Moonflower membelakangi kami, tidak membiarkanku melihat apa yang tengah ia lakukan dan kembali bangkit dalam sekejap. James tidak lagi di sana.
"Kemana James?" tanyaku panik.
"Sekarat," katanya padaku.
"Aku masih berharap ia akan segera pulih," ucap Moonflower dengan kepala tertunduk.
"Maria?" tanyaku ketika ingatan menyambarku.
"Dia tidak di sini, lagi," sahut Marbella dingin.
"Sebagian pasukan tikus telah dibawa pergi, kita harus segera keluar dari sini," sambungnya.
"Kemana mereka pergi?" tanyaku dalam pikiran yang tersesat.
"Aku—aku gagal melindungi mereka yang mati dan mereka yang hidup," suara Marbella bergetar.
Aku dilumpuhkan oleh kebingungan, lalu ketakutan, lalu ketidakpercayaan.
"Tidak Marbi, aku... aku yang terlambat melindungimu," ucapku.
"Kau sudah melakukan bagianmu dengan baik, dik," ucap Marbella dengan senyum getir di bibirnya.
Tidak.
Sebaliknya, aku di sini, sekarat karena radang dingin dan horor, menyaksikan dunia kami berguncang sekitarku. Semuanya nyata, dan mau tak mau aku bertanya-tanya, neraka macam apa yang membawa kami ke saat ini.
Sebelumnya aku pikir akulah yang mengalami malam yang aneh, hingga aku melihat wajah tidak berdaya Marbella. Aku melihatnya, aku secara aktif menyaksikannya—dan tetap saja aku tidak bisa mempercayainya. Sebagian dari kami menghilang malam ini. Maria menghilang dengan apa yang ia tinggalkan dalam benakku.
Aku lambat, lebih lambat dari sebelumnya, seperti berlari di bawah air. Sesuatu dengan sengaja menahanku, secara fisik mendorongku menjauh dari Marbella—dan tiba-tiba, semuanya masuk akal. Kebingunganku sebelumnya larut. Tentu saja tidak ada Maria di sini.
James yang terluka adalah nyata. Marbella yang menderita adalah nyata. Sayap Moonflower yang patah adalah nyata. Dan Maria tidaklah nyata. Perasaanku, perasaan kami, tidaklah nyata.