
Marbella datang untuk membicarakan hal yang cukup serius dengan Jiso. Hal yang bukan untuk dinegosiasikan. Jiso mengerti itu.
Setelah Marbella meninggalkannya, Jiso melangkah menuju ke ruangan dimana pasukannya berada. Suasana riuh seketika menjadi sunyi ketika ia melangkah memasuki ruangan itu dengan wajah muram. Ia mendudukkan dirinya pada sebuah kursi di sudut ruangan. Tidak ada yang berani bersuara. Pasukan tikus dapat mengenali kemuraman itu sebagai sesuatu yang tidak menyenangkan yang mungkin telah atau akan terjadi.
Sampai Superman akhirnya memecah kesunyian.
Dengan lembut, dia membersihkan tenggorokannya, berkumur dengan air minum. Beberapa orang mengangkat kepala mereka. Jiso melotot ke lantai.
“Superman,” katanya lembut, “bisakah aku bicara denganmu sebentar? Di luar?"
Tubuh Superman menegang.
Ia melihat sekeliling, tidak yakin, seperti Jiso membuatnya bingung dengan orang lain. Castle dan Jimmy berbelok tajam ke arah Superman, melebarkan mata mereka. Sam, di sisi lain, menatap Superman, berusaha menyembunyikan rasa frustrasinya.
"Um"— Superman menggaruk kepalanya—"mungkin kita harus bicara di sini," katanya. “Sebagai kelompok?”
"Di luar, Superman." Jiso berdiri, kelembutan hilang dari suaranya, wajahnya. "Tolong sekarang."
Dengan enggan, Superman berdiri.
Superman mengunci mata dengan Jimmy, bertanya-tanya apakah dia memiliki pendapat tentang situasi ini, tetapi ekspresinya tidak terbaca.
Jiso memanggil nama Superman lagi.
Superman menggelengkan kepala tapi mengikuti komandan pasukan tikus itu keluar pintu. Membawa ke sudut, ke lorong sempit antara gudang dan pintu ruang bawah tanah.
Sebenarnya ini adalah jalur akrab bagi pasukan tikus, ruang yang senantiasa di lewati setiap hari jika mereka enggan melewati pintu utama. Yang sedikit mengejutkan Superman saat pertama kali berjalan memasuki lorong, karena ruang ini sangat berbeda dari yang ia ingat sebelumya. Lorong ini memiliki aroma seperti pemutih, obat-obatan di mana-mana. Pekerjaan medis mereka selama ini jauh lebih tradisional, dipraktikkan oleh Marbella atau Moonflower pada saat-saat tertentu saja dengan bantuan beberapa tikus yang telah dilatih. Sudut lorong ini sekarang berisi campuran persediaan obat-obatan yang aromanya penuh ketakutan.
Superman mengangkat tangannya dengan lambaian yang canggung saat ia kembali menyadari keberadaan Jiso di sana. Mencoba tersenyum. Jiso memberi senyum cerah sebagai balasannya, menahannya dengan mantap sampai tikus muda itu didorong ke ruangan lain. Jiso memojokkannya. Mata Jiso berkedip, bulunya yang cokelat tua bersinar dalam cahaya redup seperti peringatan. Tulang belakang Superman lurus.
Jiso secara mengejutkan menakutkan. "Apa yang terjadi di luar sana?" dia berkata. "Apa yang kamu lakukan?"
“Oke, pertama-tama”— Superman mengangkat kedua tangan—“Aku tidak melakukan apa-apa. Dan aku sudah memberitahu kalian apa yang sebenarnya terjadi—”
"Kau tidak pernah memberitahuku bahwa roh ruang dimensi mencoba mengakses pikiranmu."
Itu menghentikan Superman.. "Apa? Ya aku lakukan. Aku benar-benar memberitahumu itu, Pak. Aku menggunakan kata-kata yang tepat itu.”
"Tapi kau tidak memberikan rincian yang diperlukan," katanya. “Bagaimana awalnya? Seperti apa rasanya? Kenapa dia melepaskannya?”
"Aku tidak tahu," kata Superman, mengerutkan kening. "Aku tidak mengerti apa yang terjadi—yang kutahu hanyalah tebakan."
"Kalau begitu tebak," katanya, menyipitkan matanya. "Kecuali— Dia tidak lagi ada di kepalamu, kan?"
"Apa? Tidak." Superman menggeleng panik.
Jiso mendesah, lebih banyak perasaan terganggu daripada lega. Dia menyentuhkan jari-jarinya ke pelipisnya untuk menunjukkan kepasrahan. "Ini tidak masuk akal," katanya, hampir pada dirinya sendiri. “Kenapa dia berusaha keras untuk menyusup ke pikiran kami? Mengapa milikmu? Aku pikir dia berjuang melawan Marbella, melawan kita melalui pikiran kita, melalui tikus kami. Ini terasa seperti tikus kami bekerja untuk mereka.”
Superman menggelengkan kepala. " Aku kira tidak demikian, Pak. Ketika roh itu ada di kepalaku, rasanya lebih seperti upaya terakhir yang putus asa—seperti dia khawatir gadis itu tidak akan tega membunuhnya, dan dia berharap aku menyelesaikannya lebih cepat. Dia menyebutku pemberani, tapi lemah. Seperti, entahlah, mungkin ini terdengar gila, aku mungkin sudah cukup kuat untuk menahannya. Tapi kemudian dia melompat ke kepalaku dan menyadari bahwa dia salah. Saya tidak cukup kuat untuk menahan pikirannya, dan jelas tidak cukup kuat untuk membunuhnya.” Superman mengangkat bahu.
"Jadi Jimmy menyelamatkanmu dengan membangunkan mu paksa." Jiso meluruskan. Superman terlihat terkejut.
“Kamu pikir dia benar-benar putus asa untuk mati? Kamu pikir dia tidak akan melawan jika seseorang mencoba membunuhnya? Berhentilah menjadi alat dari kecerobohan, Nak.” Jiso merapatkan giginya.
berada di tempat yang sangat buruk.”
" Kecerobohan dapat membuatnya lebih buruk lagi, paham!?" Jiso menekan kening tikus Superman.
"Paham, Pak!" Superman menegakkan tubuhnya.
*******
"Berapa lama kita akan berada di sini, Moonflower?" Tanyaku setelah mengetahui di mana kami berada saat ini.
"Aku memperkirakan itu sekitar tiga hingga empat hari," jawab Moonflower.
"Aku tidak melihat Maria di sekitar sini. Maksudku, apa dia baik-baik saja?"
Moonflower mengangguk, ia meyakinkanku tentang keadaan Maria yang berada di salah satu ruangan. "Beberapa pasukan tikus baru saja membawakan kudapan untuknya."
"Kau ingin menemuinya?" Tanya Marbella.
"Tidak," jawabku cepat.
"Aku merasa lega mengetahui dia baik-baik saja, bagaimanapun keselamatan gadis itu telah menjadi tanggung jawab kita saat ini," jelasku.
"Aah ya... Tanggung jawabku tepatnya," ucap Marbella.
"Aku akan duduk di sini."
"Baiklah," Moonflower mempersilahkan. Ia bergeser ke sebelah Marbella.
"Kau ingin aku membawakan sesuatu?" Tanya Moonflower.
"Ya, sesuatu yang hangat jika itu tidak merepotkan," jawabku.
"Baiklah, aku akan segera kembali," Moonflower berjalan menuju dapur.
"Apa itu buku sihir lainnya?" Tanyaku pada Marbella.
"Ini?" Ia balik bertanya.
Aku mengangguk.
"Buku resep masakan. Aku sedang mempelajari cara memasak cheesecake." Marbella memperlihatkan lembaran yang berisi gambar cheesecake yang terlihat menggiurkan.
"Wah —aku menelan ludah. Kapan kau akan membuat itu, Marbi?" Tanyaku antusias.
"Keju cukup mahal, aku sedang berhitung," Marbi mengangkat buku lainnya.
"Apa kita kekurangan uang?" Tanyaku khawatir.
Marbella melemparkan buku kecil itu ke tanganku. "Uang selalu kurang, Mars."
Aku membuka lembaran buku kecil itu. Dan Mataku hampir lepas dari wajahku saat melihat apa yang tertera pada buku kecil di tanganku.