
Udara terasa beku di sekeliling.
Aku bergerak menjauhi Ichan. Pria berambut coklat itu mengepalkan kedua tangannya, pandangannya..., seolah dia akan membakar semuanya, membakarku. Matanya semerah saga, kemarahan di dalamnya ditujukan pada Ichan, dan arus yang beriak darinya membuatku gugup.
Kemudian pria itu menatapku, dan kemarahan yang membara itu berubah menjadi sesuatu yang lain. Rasa sakit mengiris alam bawah sadarku, begitu tajam dan pedih sehingga aku berlari beberapa langkah terakhir ke arahnya.
"Kau—" kataku, menyentuh wajahnya.
Dia menutup matanya dan menarik napas di dekat telapak tanganku, tegang melintasi wajahnya. "Kau berbau seperti pria itu. Katakan kau hanya berpura-pura, Maya, atau aku harus membunuhnya."
Aku menarik tanganku perlahan. Menggeleng.
Suara tawa Magenta bergema. "Aku tidak menyesali kesendirianku, ini lebih menawan dari pada membuat cacat di sana sini atas nama cinta. Setidaknya aku tahu untuk tidak menipu diri sendiri tentang cinta yang aku rasakan untuk seseorang. Atau memperdaya orang lain."
Aku tersenyum melalui kilau merah muda yang tiba-tiba dalam pandanganku. "Aku dan Ichan? Ayolah, Magenta. Kau lebih tahu."
Mulut Magenta berkedut. "Kalian berdua terlihat sangat meyakinkan." Ia menatap tajam Ichan.
Ichan berjalan mendekati Magenta perlahan. Suaranya rendah penuh rasa bersalah. " Itu tidak seperti yang kau pikirkan, meskipun aku akan mengakui sedikit kesenangan di pihakku."
Aku menatap Ichan sinis? Kewanitaanku dihina tetapi aku yang lain tidak terlalu peduli. Aku hanya menyesali bahwa kami terganggu. Magenta. Dan pria itu, aku berharap amarahnya secara ajaib akan mengusirnya.
"Jadi bukan karena kau lemah dan bodoh?" Magenta mengeluarkan suara kekecewaan. "Sekarang aku bosan."
Ichan melirik pria berambut coklat dan kemudian kembali padaku. "Magenta benar tentang segalanya, aku yang lemah, bodoh dan salah. Aku akan berhenti , dan aku berharap kau akan menjalani hubungan yang lebih baik yang penuh ketulusan."
Ichan beralih pada pria berambut coklat. "Maafkan aku," ucapnya dengan menunduk.
Pria berambut coklat menatap Ichan tajam.
"Ada beberapa hal yang perlu kukatakan, Tuan," kata pria itu. "Aku tidak tahu berapa lama aku bisa menahan diri dari tidak menyerangmu." Ucapnya bergetar menahan amarah.
"Ya, aku mengerti," jawab Ichan singkat.
Ichan berbalik, dan melangkah pergi.
Aku menggelengkan kepala. "Kau pikir aku berbohong padamu?"
Ichan menghentikan langkah. "Kau mempermainkan perasaan seseorang, dan kebohongan mengikuti wilayah itu. Dia adalah pria baik."
Ichan berkata-kata tanpa menoleh dan kembali berjalan pergi. Aku tanpa sadar berlari mengejar langkahnya dan meraih tangannya. Aku tidak ingin dia pergi.
"Tidak!" kataku seketika, kengerian membanjiri diriku.
Ichan menutup matanya sebentar. "Maafkan aku sudah begini, tapi aku tidak punya ilusi tentang apa yang harus dilakukan. Percayalah, aku lebih baik mati seribu kali daripada menjadi memalukan dan menyakiti kalian. Usahamu hanya akan mendapatkan tubuhku, bukan aku."
Aku menjambak rambutnya tidak sekasar tadi, beberapa menit sebelumnya. "Tapi kau menerimaku tadi, kau menginginkan sama sepertiku, mereka menghentikannya!"
"Tidak," jawab Ichan pelan. Aku pria dan kau wanita dengan tubuh setengah telanjang, hanya itu yang menarikku kuat kearahmu tadi."
Tidak. Tidak. Kata-kata itu bergema di dalam diriku begitu keras sehingga butuh sedetik untuk menyadari bahwa orang lain sedang berbicara.
Rasa panas tiba-tiba menyerang telapak tanganku. Aku menarik tanganku cepat. Ichan kembali melangkah pergi, lebih tergesa.
"Aaaaaarrgghg...!" Jeritan frustasi dari pria berambut coklat. Ia menendang dan memukul udara.
Magenta tertawa sinis. "Kau mengabaikannya."
"Tutup mulutmu!" teriakku.
Sebuah belati meluncur menuju Magenta, ia dengan ringan menghindarinya.
Gelombang panas menampar wajahku.
"Hentikan," ucap Ichan pelan dan tajam.
Aku menatapnya tak percaya. Rasa sakit menjalari wajahku hingga ke leher. Aku menahan untuk tidak merintih.
"Aku benar-benar mencintaimu, aku bersumpah" air mata kembali menggenang di pelupuk mataku.
Kini aku hanya selangkah di hadapan Ichan, berharap ia melihat betapa besar perasaanku padanya. Tapi, Ichan menggeleng. Pandangannya berubah, udaranya berubah. Aku tidak menyukai itu. Aku memeluk tubuhnya, panas menjalari kulitku, lebih luas.
"Lepaskan," desis Ichan.
Aku masih menciumnya ketika aku mengeluarkan belatiku yang lain dan menghujam tepat ke jantungnya.
"Aku mencintaimu," bisikku di telinganya, sekali lagi. Membaringkan kepalanya di pangkuanku. Menatapnya dalam pandangan berkabut.
"Aaaaaaaaaaaaaaa.....," Aku memekik gila.
Air mataku seperti anak sungai. Tangisanku, tangisan pria berambut coklat.
Magenta yang menyala dan marah.
Apa yang terjadi adalah banyak orang tidak pernah memiliki sukacita mengetahui apa itu cinta. Akan selalu ada orang yang mengatakan itu tidak ada, tapi itu karena mereka tidak bisa mendapatkannya.
Sayangku, cintaku.... Kau mempermanis telingaku,
Hatiku yang kosong dan terluka,
Kau merobek perbanku,
Kau telah melihatku, kau telah mendengarkan kisahku,
Lalu...
Kau bertemu setanku,
dan kau pergi dalam diam.
Jahat! Jika kau tidak akan tinggal
mengapa kau menelanjangi jiwaku?.
Suatu hari mereka mengatakan kepadaku, untuk jangan pernah melepaskan sesuatu yang benar-benar aku cintai.
Dan itu membuatku berpikir, bagaimana jika sesuatu itu tidak mau berada di sisiku?
Bagaimana jika apa yang benar-benar aku cintai tidak mencintai ku?
Dan bagaimana cara melepaskan sesuatu yang bahkan bukan milik ku?
Tidakkah mereka mengerti itu, tidakkah?
Bahwa aku hanya menginginkan seseorang yang membuatku merasa musim gugur adalah musim semi.
Seseorang yang akan membuatku lupa bahwa aku pernah bersedih.
Seseorang untuk berbicara denganku saat aku tidur berbicara.
Seseorang yang ketika aku tidak mengerti, dia hanya mencium keningku.
Seseorang dengan siapa aku ingin berbagi kopi, pagi dan sore hari.
Tapi..., mengapa dia tidak diciptakan hanya untukku?
Mengapa dia harus memiliki hati yang condong pada yang lain dan bukan padaku?
Mengapa, mengapa, mengapa, hah!?
Kau adalah hidupku, hidup ini dan hidupku yang lain, jika ada yang lain.
Tapi kini, lihatlah... kau diam membeku, untuk pergi meninggalkanku.
Apakah pria berambut coklat mengerti dukaku? Apakah Magenta memahami arti tangisanku? Apa kalian mengerti?
Tidak, aku tahu kalian tidak...
Aku tahu aku memiliki mimpi yang tidak aku ceritakan kepada kalian. Bahwa aku tidak ingin bertemu dengan mereka. Bahwa aku tidak ingin dihakimi. Bahwa aku tidak ingin berbagi. Aku tidak memiliki hutang apapun pada kalian sebelumnya, lalu mengapa aku harus berbagi untuk hal yang paling aku inginkan? Hanya dia, hanya itu...
Tapi, tidak adakah satu diantara kalian yang akan memberi tahuku satu hal? Agar aku menghidupkan semuanya, menghidupkan mimpi-mimpiku, mimpi-mimpi itu, mendirikan altar untuk diriku sendiri!
Mengapa hidup dàn kalian selalu menuntut kesempurnaan melebihi kesempurnaan yang aku harapkan. Mengapa selalu ada cacat dari sebuah mimpi. Mengapa?...