LUCEM

LUCEM
Chapter XIII



Diantara angin dan sihir yang berhembus.


TarNow


Cukup bagus. Setidaknya kita tahu ia belum menyerah, hehehe.


Sisi


Umm.. Yah, aku harap ia tidak akan pernah menyerah walaupun ia pernah meredup.


TarNow


Apa sekarang kita akan pergi menemui gadis yang bernama Marbella itu?


Sisi


Tentu saja. Tapi kita juga tidak perlu tergesa-gesa, karena ia tahu sihir juga memiliki waktu dan prosesnya sendiri untuk mencapai tujuannya.


TarNow


Ya, kau benar... proses ini kadang membuatku berpikir tentang makna kita, hidup dan sihir.


Sisi


Yang memberi makna pada hidup adalah momen-momennya. Sihir hanya sebuah alat tak kasat mata.


TarNow


Ya, kau benar lagi.


Dibanyak momen ada orang-orang yang memberi mereka banyak kepentingan dan membiarkan mereka berlalu seolah-olah tidak terjadi apa-apa.


Sisi


Seperti saat-saat yang bagi dunia masih sial dan bagimu itu berarti segalanya?


TarNow


Huh, kau benar-benar memahami mereka.


Sisi


Sedikit. Itu hanya seperti hari-hari saat fajar menyingsing dan kau melihat matahari masuk melalui jendela. Keajaiban biasa setiap hari.


TarNow


Keajaiban biasa!?


Ah, ya... aku mengerti. Fenomena ajaib namun terjadi berulang dan terus menerus. Sihir yang bisa dilihat dan dinikmati siapa saja. Buku terbuka, tapi hanya yang mau membaca dan berpikir yang akan memahaminya, penikmat diluar itu mungkin hanya akan merasa senang dan kesal, bersyukur dan menggerutu di waktu lainnya.


Sisi


Pada dasarnya manusia jauh lebih terikat pada kenangan dibanding pada makna hidup. Manusia mudah lena pada angan-angannya.


TarNow


Ya, mereka berusaha mendapatkan sesuatu atau seseorang, namun melupakan cara menjaga, merawat dan menyayanginya. Memilih larut dalam keegoisan, seolah selalu siap untuk kehilangan.


Sisi


Kenangan-kenangan tentang 'pertama'. Manusia sungguh menyukai itu. Seperti lelucon.


Dan pertama kali mereka meninggalkanmu, lalu mereka menatap pada titik tertentu yang tidak ingin berhenti menangis mendengarkan lagu yang akan mereka ingat selamanya. 


TarNow


Begitukah cara otak manusia berpesta?


Melukai yang lain, lalu berteriak dalam kenangan bahwa dirinyalah korban.


Apa menurutmu... aku terlalu sederhana dalam memaknai hidup?


Sisi


Hahahha... TarNow, makna hidup kita berbeda dengan mereka. Kita hidup dalam tarikan nafas para pelantun kalimat sihir.


TarNow


Aku tidak melupakan itu Sisi. Dan aku juga tidak bisa melupakan apa yang telah aku saksikan dalam kurun waktu. Beberapa hal indah.


Saat kakimu basah di pantai. Suara tawa seorang anak. Bagaimana kita menutup mata ketika sesuatu akan jatuh. 


Atau, ketika kerabat seseorang meninggal, seseorang yang dirasa begitu dekat sehingga kau akan memberikan hidupmu untuknya. Tangis kehilangan namun terdengar tulus dan menghangatkan.


Mendiskusikan banyak hal dengan seorang teman dan tidak ada lengan yang harus dipelintir. 


Dan bagaimana tubuh seseorang gemetar setelah orgasme itu begitu kuat sehingga ia tidak bisa bergerak.


Itu beberapa pengetahuan indah dari pengalaman manusia yang mampu direkam otakku.


Sisi


Kita ada untuk menyaksikan lebih dari yang mereka bisa.


Bekas luka di tubuh kita yang kita kenal dan hampir tidak ada orang lain tahu.


Itu membuatku selalu ingin berteriak pada mereka untuk bangun dari mimpi yang tidak akan pernah mereka bangun karena dapat melanjutkannya. 


TarNow


Well... Sisi, mari bernapas seringan biasanya lagi, kalimat-kalimat kita sudah memuaskan keegoisan kita dalam menilai mereka. Aku puas dan kau juga.


Kau terlihat lebih membara hari ini.


Sisi


Hah.. tentu.


Lihatlah bahwa orang asing ini, pada suatu saat, adalah kenalan terbesar mereka. 


Dan di atas segalanya, mengetahui bahwa dua orang yang saling mengingat ini ketika mereka bahkan tidak berbicara, mampu melakukan apa saja. Sisi TarNow.


TarNow


Wow!!... itu ekspresi wajah angkuh dengan kalimat angkuh yang luar biasa cantik, Sisi. Aku menyukainya.


Sisi


Terima kasih.


Kita sudah di sini, berikan tanganmu!