LUCEM

LUCEM
Chapter XXXVII



Ada petualangan besar dan petualangan kecil, Marbella dan pasukan tikus tahu itu. Kita tidak diberitahu ukurannya sebelum kita mulai. Terkadang kita bisa memiliki petualangan bahkan ketika kita berdiri diam.


"Halo? Halo, Marbella ini aku. Moonflower memberikan ketukan rahasia 'sekarang' pada pintu yang membatasinya dengan Marbella. Ada tiga ketukan di pintu kayu itu. Kemudian dua nada naik dan turun menyusul sebelum ia berlalu menuju halaman belakang.


Marbella dalam wujud kucing telah menempati posisinya saat Moonflower sampai di bawah pohon.


"Mungkin dia akan pergi jika kita tetap diam," bisik Moonflower dari bawah.


"Seharusnya tidak," kata Marbella.


Dia meninggikan suaranya dan berseru, "Kami di atas sini!"


"Hey, kamu masih harus memberikan ketukan atau tanda rahasia sebelum melakukannya, Moonflower berseru pelan.


"Oh, brrrppphhgggrueu,' erang Marbella pelan, dan untungnya tidak ada manusia atau makhluk selain kucing yang tahu betapa buruknya kata umpatan dalam bahasa kucing.


Sosok di seberang pagar belakang itu hanya menatap sekilas ke arah pohon di mana Marbella dan Moonflower berada dan kembali fokus pada rumah.


"Menurutku kau bukan kucing yang pandai berdialog," kata Moonflower sambil menaiki tangga.


"Astaga, kau benar, Moon. Maksudku, kau tidak memakai sepatu bot, pedang dan juga tidak memiliki topi besar di kepalamu," ucap Marbella sambil menarik dirinya ke sisi dahan.


Moonflower menatapnya lama. "Sepatu bot?" katanya akhirnya. "Pada cakar ini?" Moonflower mengangkat kaki burungnya.


"Ya, jika kau enggan mengepakkan sayapmu," Marbella menyentuh bulu hitam licin milik Moonflower dengan cakarnya.


"Ngomong-ngomong, sudah berapa lama makhluk itu berada di sana?" Tanya Marbella.


"Lebih dari satu jam," jawab Moonflower.


"Tampaknya pelindung bekerja dengan baik sejauh ini, walau keberadaan kita tidak bisa ditutupi sepenuhnya," Marbella menggaruk wajahnya bosan.


Cukup lama mereka berdua berdiri di sana. Ketika Marbella nyaris tertidur di dahan, Moonflower berseru. "Lihat! Dia mendekat."


Jantung kucing Marbella berdegup cepat. "Aku menantikan ini."


Marbella merapatkan tubuhnya ke dahan yang ia pijak. Moonflower menahan napas. Menunggu aksi dari sosok yang mereka intai hampir setengah hari ini. Tapi, beberapa langkah sebelum mencapai pelindung cahaya, sosok itu berhenti dan kemudian berjalan mengitari sisi kanan rumah menuju jalan utama dan menghilang di sana.


Marbella mendengus kesal.


"Aku akan memeriksanya," Moonflower melompat tinggi dan terbang mendekati jalan utama. Tak berselang lama ia kembali. "Tidak ada."


"Baiklah, ayo kembali masuk," ajak Marbella mengambil ancang-ancang untuk turun.


"Marbella membalikkan tubuhnya segera dengan raut waspada. "Dia kembali?"


"Tidak, tapi kita harus melakukan sesuatu. Berpegangan!" Moonflower terbang dengan mengangkat tubuh kucing Marbella.


"Lain kali beri aku aba-aba, kucing tidak lahir untuk penerbangan," ucapnya sambil mengatur napas saat mendarat di dahan pohon lain yang ada di halaman.


"Ssssttt...., di bawah," Moonflower memberi tanda.


"Ngomong-ngomong, sudah berapa lama makhluk itu berada di sana?" pertanyaan yang tidak asing terdengar di telinga Moonflower.


"Beberapa saat sebelum makhluk sebelumnya datang, jawab Moonflower. Ada sebatang es krim strawberry di tangannya saat aku melintas tadi."


Kucing itu menyeringai. Sekilas kemudian ia melompat cepat, tepat di mana seekor tikus putih tua tengah menikmati diam-diam sepotong kue coklat yang kebesaran untuk ukuran perutnya.


Bumm! Kaki kucing itu segera menekan ekor tikus itu begitu mendarat di tanah lalu mengangkat tubuh kecil tikus itu ke arah mulutnya yang terbuka. Tikus itu panik dan serta-merta memukulkan sendok kayu yang ia pegang ke wajah Marbella secara bertubi-tubi. Moonflower yang menyaksikan dari dahan pohon tertawa terpingkal-pingkal.


Marbella menurunkan tubuh James dengan kesal.


"Marbella, um... itu... maaf ya... itu respon panik, aku tidak benar-benar bermaksud untuk memukulmu" James beringsut mundur dari jangkauan Marbella.


"Pastikan lemari makanan terkunci rapat," Marbella berucap pada Moonflower dengan melirik James tajam.


Tubuh James mengecil, ia memeluk kedua lututnya yang menggigil.


"Tikus tua nakal." Marbella bergerak maju mendekati James hingga sungutnya berjuntai tepat di depan mata rabun James. Meski tidak dapat melihat dengan baik, tapi James dapat merasakan keberadaan Marbella yang begitu dekat dengannya. James menelan ludahnya.


"Sekali lagi aku mendapatimu memakan sesuatu yang manis secara diam-diam, maka aku akan menelan mu saat itu. Mengerti!?" Ancam Marbella dengan semakin mendekatkan wajahnya pada tikus tua yang gemetar itu. James mengangguk keras.


Seakrab apapun ia dengan Marbella, James selalu memiliki perasaan khawatir mendekati takut saat mengingat bahwa gadis itu juga seekor kucing. James tidak pernah yakin bahwa insting liar Marbella terhadap tikus tidak akan pernah bangkit walau gadis itu pernah bersumpah tidak akan memakan sesuatu yang bisa berbicara layaknya manusia. Tapi, di luar sana James tahu tidak semua tikus berbicara. Apakah Marbella pernah mencicipi salah satunya? James merinding.


Sebagai tikus tua James tidak takut mati, pertama, ia hanya berharap dapat mati dengan terhormat sebagai seekor tikus yang terpelajar. Dan juga sebuah harapan lain, yaitu banyak kesempatan untuk menikmati kudapan manis kesukaannya. Tapi Marbella telah memupuskan sebagian dari harapan kedua James. Moonflower sempat merawat James beberapa hari setelah kepergian Marbella ke hutan, kemudian memberikan laporannya pada gadis kucing itu, bahwa dirinya mengalami beberapa kendala pada kesehatan dan harus melakukan diet sehat. Itulah awal dari kegiatan sembunyi-sembunyi James.


Marbella bergerak melintasi batang pohon dan muncul kembali sebagai manusia. Itu mendatangkan perasaan lega untuk James. Sedikit.


"Aku akan membawa ini," Marbella mengambil sisa kue dengan wajah jijik dan berlari meninggalkan James.


Moonflower mengamati dari atas pohon ketika tikus putih tua berjalan gontai menuju ke dalam rumah.


Wuussh.... Sekali lagi Moonflower memutuskan untuk terbang mengitari sisi luar kediaman mereka.


Dan kepakan sayap Moonflower terhenti saat sesuatu menabrak tubuhnya dengan keras sebelum kemudian ia jatuh mendarat di tanah dalam wujud manusianya.