
Kebutuhan atau tujuan yang sama, atau sekedar harus berbagi jalan.
Mengarungi lautan hari, bersembunyi tapi harus terlihat, menahan diri, bermain peran, bernegosiasi dan berkompromi, membengkokkan alur tanpa kehilangan arah.
Saat menemukan musuhmu di perjalanan dan itu bukanlah kesempatan untuk menghabisinya meski kau tahu kau mampu untuk itu.
Berat.
Tahu diri untuk tidak mengundang kegagalan dan penyesalan.
Menahan karakter itu seperti merubah warna kulitmu, mudah jika kau bewarna cerah. Ini tentang sisi manusia tentu saja.
Tahu
lebih
dan
mengerti
banyak
beban sejarah panjang yang menuntut akhir.
Magenta.
**********
"Aku tidak menawar jiwaku atau orang lain," adalah kata-kata pertamaku ketika aku mengikuti Magenta dan Venus di sebuah ruangan lain malam ini.
Magenta menghentikan langkahnya tiba-tiba."Baiklah, kita akan sampai di sana dalam beberapa hari," ucapnya.
Aku terpaku menatapnya sejenak sebelum kemudian tersenyum dengan senang."Terima kasih, Magenta."
"Jangan terlalu senang dulu, aku tidak akan membawa seseorang jika hanya akan menjadi beban. Selesaikan makan malammu dan bersiaplah untuk latihan yang sebenarnya besok pagi," Magenta mengulas senyuman tipis.
Aku bingung antara harus melompat atau membungkuk, jadi aku memutuskan dengan cepat untuk melambai padanya." Terima kasih," ucapku lagi dan berlalu ke ruang makan dengan berlari kecil.
Beberapa hari, adalah tidak lama. Aku bisa menyampaikan hal itu pada pasukan tikus dan menenangkan mereka.
❄️
❄️
❄
Aku bangun sangat pagi, aku kedinginan.
Aku berpakaian dalam kegelapan, memakai pakaian ternyaman yang aku dapat dan sepatu bot mengkilap. Aku menyisir rambutku ke belakang menjadi tampilan yang rapi dan licin.
Gigi disikat. Wajah dicuci. Lupakan mandi.
Magenta menjanjikan latihan yang ia sebut dengan 'latihan sungguhan' sebagai persiapan penyelamatan pasukan tikus. Hari ini adalah kesempatanku untuk membuktikan bahwa aku tidak sekedar diberkati tapi juga berkemampuan. Entah aku akan pamer untuk siapa.
Aku mengikat sepatu botku, mengikatnya dua kali. Membuka jendela. Aku berpaling dari silau cahaya yang perlahan menyeruak masuk dari jendela untuk bertemu dengan bayanganku sendiri di cermin kecil di atas wastafel. Aku berkedip, fokus.
Kulit pucat, rambut gelap, mata aneh.
Aku berkedip lagi.
Tanganku bergetar.
Aku melirik ke bawah, telapak tangan ke atas, saat cahaya biru lembut menembus kulit tipis di pergelangan tanganku.
"Saatnya latihan sungguhan," aku menghela napas gugup.
Seumur hidup aku hanya pernah melakukan latihan dibawah bimbingan Marbella, dan dia tidak pernah sekalipun mengatakan tentang 'latihan sungguhan' hanya latihan tanpa ajakan kalimat yang jelas. 'Latihan sungguhan' ternyata memberiku sensasi gugup dan mendebarkan.
Aku mendorong membuka pintu.
Udara pagi yang sejuk menyeruak masuk, menggigil di wajahku. Matahari masih terbit. Cahaya keemasan memandikan segalanya, mendistorsi pandanganku sebentar. Burung berkicau saat aku menapaki taman. Aku menyeret diriku melewati rerumputan.
Segera, aku melihat Magenta dan Venus di kejauhan.
Aku berhenti.
"Oh, wow," Suara Marbella menyambutku.
"Apa?" Aku meliriknya.
"Tidak, ayo..," Marbella menyelipkan tangannya di lenganku.
Mengikuti langkah Magenta menuju pagar luar.
Magenta melangkah dengan irama yang tetap, diikuti Venus yang menyejajarkan langkahnya.
Gerbang telah dilewati dan kami telah berjalan menjauh dari rumah untuk puluhan langkah. Aku memasang mata waspada.
Tapi tidak ada yang terjadi.
Langkah kami semakin menjauh. Pemandangan berubah. Pegunungan terhuyung-huyung melintasi langit. Sebuah danau besar berkilauan di dekatnya. Kami melawan hembusan angin yang liar dan ganas saat kami mendaki. Tanpa alasan sama sekali, seekor kupu-kupu hinggap di bahuku.
Aku mencabut pelan serangga cantik itu dari bajuku, menjepit sayapnya di antara jari-jariku. Kupu-kupu itu berkibar dengan putus asa saat aku mempelajarinya, mengamati tubuhnya yang mengerikan saat ia terbalik di telapak tanganku. Perlahan, aku meningkatkan intensitas sentuhanku, dan kepakannya semakin putus asa, sayapnya mengepak di kulitku. Aku berkedip. Kupu-kupu meronta-ronta.
Dengung rendah terdengar dari tubuh serangganya, dengungan lembut yang terdengar seperti jeritan. Aku menunggu, dengan sabar, apakah makhluk indah itu akan mati, tetapi ia hanya mengepakkan sayapnya lebih keras, melawan yang tak terelakkan.
Saat kupu-kupu itu berhenti sama sekali, aku meletakkannya perlahan di rerumputan. Serbuk warna di tanganku, aku menutup jari-jariku, meremasnya di kepalanku. Aku menyeka sisa-sisanya pada batang gandum yang tumbuh terlalu banyak dan kami terus berjalan.
Ruang dimensi apakah mengenal bulan ini?
Secara teknis cuaca musim gugur di luar ruang dimensi, dan biasanya suhu tidak menentu, tidak konsisten. Seperti hari ini, angin bertiup kencang, yang membuat udara menjadi sangat dingin. Hidungku mati rasa saat kami mendapati lapangan, ketika aku menemukan sedikit sinar matahari, aku mendekat untuk menghangatkan diri di bawah sinarnya. Pagi ini kami melakukan pendakian sejauh dua mil dari rumah. Magenta mengatakan aku memerlukan latihan dan juga olahraga sebelumnya.
Dia tidak menjelaskan alasannya.
Ketika kami akhirnya mencapai tempat yang dimaksud, matahari telah bergeser di langit. Aku melirik ke arah bintang yang sekarat itu sesaat.
Kami berhenti di bawah sebatang pohon yang kesepian. Besar dan sendirian. Magenta menatapku yang masih berdiri dari tempatnya duduk.
Dia tersenyum.
"Aku salut," katanya.
Aku membuat senyuman kilat untuknya.
"Bagaimana apa kau dapat menyesuaikan diri?" katanya, menutup kakinya dengan rok panjang yang ia kenakan. Dia tidak memintaku untuk duduk.
"Ya, ini jauh dan berangin. Tapi aku tidak memiliki keluhan untuk itu," jawabku lugas.
"Dan?" Dia mencondongkan tubuh ke depan, menggenggam tangannya di depannya. "Bagaimana perasaanmu?"
"Aku?"
Dia memiringkan kepalanya ke arahku. Mengambil sebotol air minum. Aku melihatnya menyesap dan tindakan sederhana itu menimbulkan gagap emosi di dalam diriku. Perasaan menekan pikiranku dalam kilasan ingatan, rumah, para tikus, kabut hitam, Maria... lalu tidak ada apa-apa, aku menghalaunya. Venus gagal menyalakan api, terlalu berangin.
“Apakah kamu merindukan seseorang?” dia bertanya.
“Aku tidak punya," aku melirik Marbella yang duduk menyandarkan tubuhnya di batang pohon.
"Teman-teman? Seorang pacar?”
Iritasi samar muncul di dalam diriku. “Tidak ada, kecuali pasukan tikus yang tersandera tapi itu bukan jenis kerinduan yang itu."
Magenta membuat duduknya lebih santai, senyumnya semakin lebar. “Lebih baik seperti itu, tentu saja. Lebih mudah."
"Ya," jawabku singkat.
Magenta berdiri. “ Pelatihanmu harus lebih baik dari yang kita harapkan. ” Kemudian dia melirik ke arahku, menunggu reaksi.
Aku hanya menatap.
Dia meneguk minumannya lagi sebelum meletakkan botolnya di rumput. Magenta berjalan dan berdiri di depanku, menilai. Satu langkah lebih dekat dan aroma dari tubuhnya menguasaiku. Aku menghirup aroma manis dan bunga seperti mimpi musim semi membanjiri indraku. Namun, aku menatap lurus ke depan.
Semakin dekat dia, semakin aku sadar akan dirinya. Kehadiran fisiknya solid. Secara kategoris wanita.
Dia adalah sosok dengan tampilan anggun namun tangguh yang berdiri di depanku, pakaian longgar yang dia kenakan tidak bisa menyembunyikan lekuk lengan dan kakinya yang halus dan terpahat. Wajahnya, garis rahangnya begitu halus. Dia berbau seperti melati dan sesuatu yang lain, sesuatu yang bersih dan harum. Secara tak terduga menyenangkan, itu memenuhi kepalaku.
"Mars," katanya.
Sebuah jarum kegelisahan menembus pikiranku. Sangat tidak terbiasa setiap kali seseorang untuk memanggil namaku tepat di depan wajahku. Hanya Marbella.