LUCEM

LUCEM
Chapter LXXI



Aku kini dapat memastikan dengan jelas bahwa mie adalah nyata. Tanpa ragu aku berlari dengan sisa-sisa tenaga yang ada menghampiri mie dengan sukacita. Duduk tanpa permisi lagi, aku meraih piring dan memeluknya. Marbella melemparkan sebotol air putih ke arahku, dan aku langsung meneguknya. Kesegaran kembali menjalari tubuhku.


"Bagaimana?" Tanya Magenta.


Aku menggeleng tanpa kata-kata. Lelah masih membuatku tidak ingin bersuara. Aku menarik tubuhku untuk bersandar pada batang pohon. Berdiam diri sejenak di sana.


Venus menghampiriku. Aku menoleh sekilas dan mendapati wajahnya yang muram. Aku menarik napas dalam sebelum mulai bertanya padanya."Hei, ada apa?"


Pria itu bungkam. Ia meletakkan kedua tangannya pada lututnya yang tertekuk. Pandangannya jauh.


"Apa mie-nya habis?" Aku bertanya dengan berdebar.


Venus beralih menatapku dan mendengus. "Apa kau begitu suka mie?"


Aku tersenyum canggung. "Ya, jika sedang lapar," jawabku.


Aku kembali meraih piringku, dan melirik mie. Aku tersenyum lega. Aku meninggalkan Venus untuk menemui mie-ku yang menggoda. Menyendok dan meletakkannya di piring dengan hati-hati, lalu menambahkan garpu tanpa sendok di sisinya. Aku kembali duduk di samping Venus. Dia masih terlihat lesu.


Aku membuat suapan pertama sebelum kembali bertanya. "Ayolah, katakan ada apa?"


Ia hanya menghela napas panjang dan melirikku malas.


"Ikut aku ke pohon di sana," aku menunjuk pohon lain yang tidak terlalu jauh. Ia mengangguk setuju.


"Dapatkah kau tidak terlalu terlihat tertarik pada Magenta, Mars?" Venus membuatku menghentikan suapan dan terbatuk. Ia menyerahkan botol minum ke tanganku.


Aku mengusap sisa air dari daguku. Dan memutar arah dudukku, menatap serius pada pria itu.


"Dengar," kataku, berusaha untuk melembutkan suaraku. “Aku tahu apa yang kalian miliki itu spesial. Aku tahu bahwa aku tidak dapat benar-benar memahami cinta semacam itu. Maksudku, aku tahu kau mungkin berpikir untuk melamarnya suatu hari nanti, dan—"


"Aku memang melamarnya," potong Venus.


Aku tiba-tiba kaku.


Aku bisa tahu hanya dari suaranya bahwa dia tidak bercanda. Dan aku tahu dari raut wajahnya, pancaran kesengsaraan yang sangat kecil di matanya, bahwa inilah celahku. Ini data yang aku lewatkan. Inilah sumber penderitaan yang menenggelamkannya.


Aku memindai area sekitar seolah orang lain akan menguping pembicaraan kami. "Apa kau cemburu padaku?" Bisikku.


Venus tersentak. "Umm...kau terlihat seperti pria dan lumayan..., jadi aku rasa itu memang dapat membuatku—," Venus terlihat kesal.


Tanpa meneruskan kata-katanya ia memalingkan wajahnya dariku dan menatap para gadis yang tengah menyantap mie. Aku mengikuti pandangannya.


"Magenta memang sangat cantik," ucapku.


Venus berbalik, terlihat raut kesalnya bertambah.


"Ayo," kataku padanya. "Aku akan mengajakmu makan siang."


Venus berkedip, kebingungan untuk sementara menghilangkan amarahnya. Dan kemudian, dengan tajam. "Aku tidak lapar."


Itu jelas omong kosong." Aku memandangnya dari atas ke bawah. Dia terlihat bagus, dia selalu terlihat bagus, tapi dia juga terlihat lapar. Bukan hanya rasa lapar yang biasa, tapi juga rasa lapar dengan tambahan kesan putus asa.


"Dan kau pasti tahu lebih baik daripada aku bahwa kau tidak akan berguna dalam misi penyelamatan jika kau pingsan bahkan sebelum kau sampai di sana. Magenta mungkin tidak akan suka itu," kataku padanya.


Dia memelototiku.


“Ayo, kawan. Ini bukan tampilan yang bagus. Semua otot ini perlu makan.” Aku menyodok bisepnya. “Beri makan mereka.”


Venus tersentak menjauh dariku dan menarik napas panjang kesal. Aku hampir membuatnya tersenyum.


Aku pikir aku membuat kemajuan.


"Mars, maafkan aku. Kau benar, aku cemburu... tapi, itu hanya karena dia terlalu menempel padamu saja. Jangan ambil hati keluhanku ini, aku sudah merasa lega karena sudah melampiaskannya padamu secara langsung dan kau... kau jauh lebih dewasa dari yang aku kira."


"Permintaan maaf diterima," ujarku.


"Terima kasih, kawan. Venus menepuk bahuku. Tahukah kau, kawan? Aku tidak pernah berharap lebih darinya karena aku tahu, dia telah menerima cintaku dan aku telah menerima persahabatannya, kami berdua tahu betapa kecilnya perbedaan antara yang satu dengan yang lainnya."


"Kau terlihat puas dengan itu," aku menyunggingkan senyum.


"Umm.. ya, itu seperti bersyukur dan berharap dalam waktu bersamaan, kau pasti mengerti yang aku maksud, kan?" Venus berkedip.


"Well... Pria adalah pria, kita tentu saling mengerti," aku membalas kedipannya. Kami tertawa lepas.


Suara tawa kami menarik perhatian kedua gadis itu, Marbella memanggil kami dengan isyarat tangannya. Kami kembali ke bawah pohon besar, bersama para gadis menyantap mie.


Hmmmmm..... mie mungkin cinta pertamaku. Aku bahkan tidak mampu melirik kecantikan Magenta saat mie bersamaku, tidak sama sekali.


Makan yang aku tebak sebagai makan siang itu usai. Aku melakukan percakapan kecil dengan Marbella sebelum melakukan latihan kembali.


"Apa kau menyaksikan yang aku saksikan, Marbi?" Tanyaku.


"Tidak, tapi aku mengerti," balas Marbella.


"Magenta menunggumu, Dik. Marbella mendorongku pelan.


"Jangan ragu, aku di sini," Marbella mengusap lembut lenganku. Seketika perasaan yakin dan tenang mengaliriku.


❄️


❄️


Akhirnya, Magenta menghela napas, menyeret tangan ke rambutnya yang tertata sempurna. Ia menatapku tanpa berkedip.


Pengamatan itu membuatku takut.


Aku berpaling tajam dan melirik ke arah lain. bertanya-tanya dalam hati, tiba-tiba, apakah aku akan diizinkan untuk berkemih.


"Mars."


Timbre suaranya yang marah membuat jantungku berdebar kencang. Aku meluruskan pandanganku padanya dalam sekejap. 


"Ya, Magenta," kataku, terdengar sedikit terengah-engah.


Aku kemudian menyadari bahwa dia bahkan tidak melihatku. Dia memeriksa sesuatu yang ia pegang ditangannya ketika dia berkata, dengan tenang, "Apakah kau sedang melamun?"


"Tidak." Jawabku cepat.


Dia melihat ke atas.


"Ini semakin melelahkan," katanya pelan. "Aku sudah kehilangan kesabaran denganmu, dan kita bahkan belum sampai di penghujung hari pertamamu." Dia ragu-ragu. "Apakah kau ingin tahu apa yang terjadi ketika aku kehilangan kesabaran denganmu, Mars?"


Jari-jariku gemetar. Aku kembali menjawab singkat. "Tidak."


Dia mengulurkan tangannya. “Kalau begitu, beri aku apa yang menjadi milikku.”


Aku mengambil langkah maju yang tidak pasti dan tangannya yang terulur terangkat, telapak tangannya menghadap keluar, menghentikanku di tempat.


"Pertanyaanku mengacu pada pikiranmu," katanya. “Aku ingin tahu apa yang kau pikirkan saat kehilangan fokus cukup lama untuk menatap ke sembarang arah. Aku ingin tahu apa yang kau pikirkan saat ini. Aku akan selalu ingin tahu apa yang kau pikirkan,” katanya tajam. 


"Aku ingin setiap kata, setiap detail, setiap emosi. Setiap pikiran longgar dan berkibar yang melewati kepalamu, aku menginginkannya, ”katanya, berjalan ke arahku. "Apakah kau mengerti? Ini milikku. Kau milikku."


Magenta berhenti hanya beberapa inci dari wajahku. Kenapa ia harus selalu melakukan gerakan yang membuat kikuk ini?


"Mengerti" jawabku, suaraku seperti hilang.


"Aku hanya akan menanyakan ini sekali lagi," katanya, berusaha menenangkan suaranya. “Dan jika kau membuatku bekerja sekeras ini lagi untuk mendapatkan jawaban yang aku butuhkan, kau akan tahu akibatnya. Apakah itu jelas?"


"Sangat jelas," Aku menjawab dengan tegas.


Matanya menyipit. "Apa yang kau lamunkan?"


Aku menelan. "Ah, itu..., apakah kau mengizinkanku untuk pergi berkemih? Sebentar."


Wajah Magenta tiba-tiba menjadi kosong.


Dia tampak tertegun. Dia menatapku lebih lama sebelum berkata, dengan datar: "Kau bertanya? Kau bertanya-tanya apakah kau bisa pergi untuk melakukan itu?"


"Umm... ya..." Wajahku memanas.


Magenta menyilangkan tangan di depan dada. "Itu saja?"


Tiba-tiba aku merasa terdorong untuk memberitahunya apa yang kupikirkan tentang rambutnya, tapi aku melawan keinginan itu. Rasa bersalah membanjiri diriku seketika.


"Ya, hanya itu saja," jawabku.


"Aku mengerti," katanya.


aku menatap.


Magenta menarik napas dalam-dalam dan membuka kancing teratas kemejanya. Dia mendorong kedua tangan melalui rambutnya. Mulai mondar-mandir.


Dia menjadi bingung, aku menyadari, dan aku tidak tahu apa yang harus dilakukan tentang hal itu.


"Pergilah, hanya buang air kecil, kan?" Ia meyakinkan.


Aku mengangguk.


"Aku melihatmu makan banyak," ucapnya lirih.


Astaga!


Perlahan aku kembali dapat melihat keberadaan Marbella dan Venus yang asik berbincang di bawah pohon besar. Aku menatap sekeliling, mencari tempat persembunyian terbaik untuk melakukan itu.