LUCEM

LUCEM
Chapter XXVI



“Pria tua itu akan memandu Anda melalui semua hal ketika giliran Anda tiba, dan dia akan dapat menjawab sebagian besar pertanyaan Anda. Jika ada sesuatu yang tidak bisa dia jawab, kemungkinan itu di luar jangkauannya. Tapi Anda dapat menggunakan cara itu jika Anda menginginkannya, Pak.” Hanya itu yang didapat Rong dengan membawa lembaran yang ia peroleh dari tangan Anna.


Rong tiba-tiba tampak kesal, tetapi dia tidak mengatakan apa-apa. 


________


Tidak ada desus desus yang mengalir keluar dalam kelompok rahasia. Tapi Rong selalu mengetahui cara untuk menemukan celah dan meletakkan telinga dan matanya di sana.


Rong bergegas mengganti pakaiannya, membungkus tubuhnya dengan kemeja putih bersih dan melapisinya dengan longcoat bewarna gelap. Untuk berjaga-jaga, Rong mengalungkan sarung pistol di bahu dan membiasakan diri dengan berat benda baja itu di atas jantungnya.


Memasuki kendaraan yang ia tumpangi bersama sang jendral menuju istana. Jalanan terasa panjang dan kosong malam itu, meskipun lalu lalang manusia terlihat ramai di sepanjang sisi jalan menuju pusat kerajaan.


Mendadak, lengkingan suara lonceng yang diayunkan kuat-kuat terdengar, mengagetkannya. Rong seolah bisa merasakan moncong pistol menempel kuat di lapisan longcoat-nya. Irama napasnya meningkat.


“Ini memasuki awal musim dingin, dan Anda terlihat agak pucat. Apakah Anda baik-baik saja, Tuan Penasehat?” Tanya jenderal Panpan.


“Kesehatanku sangat baik, Jenderal. Terima kasih telah bertanya,” Rong memperlihatkan senyuman pendek yang biasa ia gunakan.


Jenderal Panpan hanya menganggukkan kepalanya.


Jenderal Panpan menarik napas dan menghembuskannya dengan hembusan panjang dan kasar. “Aku selalu merasa sayang jika harus menyingkirkan orang-orang berbakat. Tapi, hukum bukan milik kita, kau bahkan satu tingkat di atasku dalam hal menentukan kebijakan, Tuan Penasehat.”


Rong mengangkat pandangannya. “Kerajaan akan selalu bangga memiliki seseorang seperti Anda, Jenderal. Ngomong-ngomong, apa rasanya membunuh seseorang yang pernah Anda ajak duduk bersama dan berbincang banyak hal dalam waktu yang panjang, Jenderal?”


“Seperti perasaan seorang pengkhianat,” sang jenderal menelan ludahnya pahit.


Rong tersenyum sinis. “Kita telah bersama dalam banyak tahun, bagaimana jika aku adalah orang yang kelak akan mengayunkan tangan pada Anda?”


“Kita tidak lagi semuda dulu, seperti saat pertama kali bekerjasama. Sebagai pria... memiliki pekerjaan dan mencapai puncaknya, menjadi kaya dan berhasil menjamin perut orang-orangku tetap kenyang di segala musim, aku... umm, aku tidak lagi menolak untuk dikalahkan,” sang jenderal menatap Rong.


Rong menelisik kedalam wajah sang jenderal untuk menemukan kebenaran dari ucapannya. 'Cih, aku paus dan kau hiu lapar,' batinnya.


Jenderal Panpan adalah seorang putra pengabdi rendahan di sebuah rumah persembahan. Dia dibesarkan di sebuah desa yang jauh, namun di kirim ke pusat kota untuk menempuh pendidikan militer. Semangatnya berkobar saat menyaksikan kemegahan dan membandingkan itu dengan perut lapar yang sering ia tanggung bersama keluarga besarnya yang tumpah ruah. Tubuh mudanya yang mudah beradaptasi dan mentalnya yang mudah digembleng membuatnya lekas berkembang di pusaran prajurit yang kasar menjadi tombak yang paling tajam. Saat masa pendidikan usai, ia telah menjadi seseorang yang paling menonjol di pasukan. Ditengah radikalisme yang berkembang, kerajaan memberinya posisi yang penting di perbatasan. Kesetiaannya tidak bisa diragukan, keahlian dan juga kemampuannya melampaui yang diharapkan. King Grimo tidak pernah merasa kecewa dengan setiap aksi sang jendral muda hingga menariknya ke dalam pasukan khusus sebagai yang terpercaya. Ia hanya akan bergerak di bawah perintah sang raja.


Rong mengetahui itu.


Rong menatap pria tua yang biasanya memendam dirinya di ruang bawah tanah, ia terlihat berbeda dalam pakaian terang berbulu, mencolok sekali. Pria tua berjalan perlahan menaiki tangga, memegang tongkat kayu berukir, ia didampingi seorang pria muda dengan jubah putih. Rong tidak berniat untuk menyapa dan memilih berjalan memutar menuju taman untuk mengulur waktu di sana.


Masih satu jam menuju pertemuan.


_______


King Grimo, duduk di kursi kebesarannya. Berada di sisi terujung meja panjang yang beralaskan kain beludru hitam dengan sulaman emas di tepinya. Wajahnya putih seperti tidak mendapat aliran darah, menonjolkan bintik-bintik hitam dan coklat di kedua pipi hingga lehernya, kerutan menumpuk di bawah mata dan rambutnya yang menjulur abu-abu membuatnya terlihat seperti seorang pria tua yang menunggu malaikat maut berkunjung dan merenggut yang tersisa dari dirinya.


Di sisinya terlihat Bababawanna berdiri dengan sedikit membungkukkan bahunya, sesekali berbisik di telinga sang raja dan mengangguk-angguk.


Satu persatu kursi terisi. Rong mendapatkan kursi yang berjarak lima hitungan dari sang raja. Beberapa wajah lama dan banyak wajah baru hadir. Rong tidak terlalu peduli.


Setelah sekumpulan pria tua membacakan doa-doa, seorang pria muda dengan jubah putih berjalan mengelilingi semua yang duduk memberikan bola-bola kuning manis sebagai berkat. King Grimo mengangkat tangan kanannya dan menerima bola kuning bagiannya, memakannya sedikit lalu meletakkannya kembali pada piring kecil di hadapannya, dan semua yang hadir mengikuti.


“Dimana mereka?” King Grimo bertanya dengan suara tua yang bergetar.


Dari pintu besar yang terbuka, jenderal Panpan berjalan masuk diikuti seorang pria dan seorang wanita di belakangnya, membungkuk hormat pada sang raja sebelum melanjutkan langkah mendekati penguasa Grimoland itu.


“Berikan gulungannya sekarang!” Sang raja memerintahkan.


Bababawanna bergerak maju dan memberikan beberapa gulungan pada jenderal Panpan.


Jenderal Panpan menatap Rong sebagai isyarat, Rong pun berdiri dan bergabung dengan mereka.


King Grimo mengetuk-ngetukkan tongkat yang ia pegang ke lantai. “Baiklah, sudah saatnya di mulai.”


Lalu kelompok besar itu mulai bergerak meninggalkan ruangan menuju tanah lapang dengan saling berbisik-bisik.


Rong dan kedua orang di sampingnya berjalan mengikuti langkah jenderal Panpan tanpa mengeluarkan sepatah katapun.


Rong memadatkan gulungan di tangannya berulang kali. Menatap dengan perasaan cemas yang ia tahan pada kerumunan.