LUCEM

LUCEM
Chapter LXXXI



________________***_________________


Jiso dan Jimmy, mereka berdua menatap adegan berdarah itu beberapa saat lebih lama sebelum Mars tiba-tiba jatuh tak sadarkan diri, Jimmy segera berlari menuju pintu. Sementara Jiso menarik belati yang terselip ke ikat pinggang celananya dan perlahan bergerak, mengawasi situasinya dari dekat. Pintu telah dibuat untuk tidak menutup di belakang mereka. Ia tidak ingin sesuatu terjadi lebih jauh dari ini.


"Hei," kata Sam yang berpapasan dengan wajah panik Jimmy, ia berbalik berlari menyusulnya. "Kemana kau pergi?"


"Untuk menemukan nona Marbella atau Moonflower."


"Tergesa-gesa. Oke. Kau bisa memberitahuku apa yang sebenarnya terjadi? Saya tidak suka mengejarmu seperti ini. Ini melelahkan.”


"Cepat bantu saya untuk menemukan para gadis," Jimmy terus berlari menuju pintu kamar Marbella.


"Kedengarannya seperti masalah yang serius, baiklah saya akan memeriksa taman."


“Ya, tolong cepatlah.”


Sementara Jimmy dan Sam mencari keberadaan para gadis, Venus telah terlebih dahulu memasuki ruangan tempat di mana Mars tergeletak. Venus menatap Lusio dengan pandangan gelap.


"Ah, Venus... Kau di sini tepat waktu. Sudah lama sekali aku tidak mendapat kunjungan beberapa tamu sekaligus," Lusio tampak tidak terkejut dengan kehadirannya. " Ada apa dengan tatapan itu, kau kelihatan memiliki masalah pribadi."


"Kau sebaiknya mengatasi turbulensi mentalmu sendiri sebelum mengkritikku," ucap Venus dingin.


"Eh, apa maksudnya itu?"


“Artinya seekor anjing gila bisa mengendus keadaanmu yang putus asa dan hancur. Kau tidak dalam posisi untuk menilaiku."


"Permisi?" Lusio memiringkan kepalanya.


“Kau membohongi dirimu sendiri, Lusio. Kau menyembunyikan perasaanmu yang sebenarnya di balik lapisan tipis, bermain badut, ketika kau sedang mengumpulkan detritus emosional yang kau tolak untuk diperiksa. Setidaknya aku tidak bersembunyi dari diriku sendiri. Aku tahu di mana letak kesalahanku dan aku menerimanya. Tapi kau," katanya. "Mungkin kau harus mencari bantuan."


Mata Lusio membelalak kesakitan, kepalanya menggeleng bolak-balik. “Kau pasti bercanda denganku sekarang. Kau mengatakan agar aku mendapatkan bantuan dengan masalahku? Ha-ha-ha... apa yang terjadi?" Lusio terbahak ke langit-langit. "Apakah aku sudah mati? Apakah ini neraka?”


"Aku tahu apa yang terjadi denganmu dan Magenta."


Lusio sangat terkejut ia berhenti sebentar di tempat.


"Apa?" Lusio berkedip padanya. Masih bingung. "Apa yang kau bicarakan? Tidak ada yang salah denganku dan Magenta.”


Saat Lusio akan membuka mulutnya lagi, saat itulah Marbella tiba. Dengan langkah cepat dan kemarahan. Ketika tangannya terayun, tubuh Lusio terbang membentur dinding dengan telak. Erangan kesakitan meluncur dari mulutnya yang mengeluarkan darah.


Pasukan tikus berlari menyergap Lusio, belati di sekeliling lehernya. Pria itu terduduk dengan kaki menjulur di lantai, tertawa mengejek menatap Marbella. Saat ia kembali berusaha untuk bersuara, Marbella kembali mengayunkan tangannya di udara, melontarkan mantra-mantra bagai makian, cepat. Tubuh Lusio seperti seonggok daging tanpa tulang, bahkan napasnya nyaris tak terdengar lagi. Darah membasahi separuh tubuhnya. Ia terlihat mengerikan, tapi Marbella tidak berkedip.


"Sampah," desis Marbella.


Venus tertegun pada apa yang ia saksikan. Jiso menyentuhkan pangkal belatinya pada kaki pria itu, memberi isyarat agar ia mengambil tindakan pada Mars. Venus bergerak, mengangkat tubuh Mars dengan hati-hati. Ia terkesiap saat Marbella berbalik tiba-tiba dan deru angin menyertainya.


"Ini aku...!" Ucap Venus cepat.


Marbella menarik turun tangannya. Menata napasnya yang memburu. Terlihat air mata menggenang di matanya, berkilau di bawah warna neon.


"Marbella," Jiso menatap gadis itu.


"Mars harus kita keluarkan dari sini segera," sambung Jiso.


"Hentikan," suara Magenta.


Marbella berpaling menatap Magenta dengan pandangan nanar.


"Aku akan mengurus pria ini," lanjut Magenta.


Tubuh Marbella kembali bergerak, tangannya turun dan ia melangkah pergi meninggalkan ruangan itu tanpa berbicara sepatah kata pun.


Venus berjalan bergegas menyusul dengan Mars dalam pangkuannya.


“ Bodoh, kau menjadi lebih tidak senonoh dalam beberapa minggu terakhir daripada selama aku mengenalmu. Sesuatu yang salah." Magenta berjalan mendekati Lusio di lantai.


Para tikus tidak menjauhkan belati seinchi pun dari leher pria itu.


"Aku stres," katanya, merasa diriku gelisah. "Terkadang aku bersumpah ketika aku stres." balas Lusio dengan suara lemah.


Magenta menggelengkan kepalanya. "Ini berbeda kau mengalami stres yang tidak biasa, bahkan untukmu sendiri.” tangan kiri Magenta berpendar dengan cahaya kuning lemah saat ia mengucapkan itu.


Memberi isyarat agar para tikus memberinya ruang. Saat ia berdiri tepat di sisi kepala pria itu, Magenta melepas cahaya itu dari tangannya ke arah Lusio yang merayap di lantai.


"Wow." Pria itu berseru pelan. “Aku benar-benar berharap kau tidak repot-repot menggunakan—maksudku... kemampuan supranatural untuk merasakan emosi," Lusio terbatuk, dan darah segar meloncat keluar dari mulutnya.


"Diamlah," ucap Magenta.


"Jelas aku sangat stres sekarang. Dunia sedang terbakar. Daftar hal-hal yang membuatku stres sangat panjang sehingga aku bahkan tidak bisa melacaknya." Ceracau pria itu.


Lehernya kini tampak menghitam bagai dilumuri kotoran. Napasnya tersengal, ia berusaha membuat dirinya duduk. Magenta beralih pada pasukan tikus.


"Sebagian teman tikus kita menghilang dan diculik dalam pertempuran. Seseorang dari mereka mengkin telah membelot. Mars terluka berulang, dan kau...," Magenta kembali berbalik pada Lusio yang kini telah bersandar di dinding. "Kepalamu terlalu tinggi, kupikir kau tidak akan pernah muncul lagi dan—”


Lusio terbatuk-batuk, tampaknya ia mencoba untuk memotong Magenta tapi ia terus berbicara.


“—dan benar-benar lima belas menit yang lalu,” katanya, “seseorang dari masa depan—ha, lucu, Lusio... kau baru saja mencoba membunuh anak itu, dan jika kau sampai melewati batasmu maka aku yakin tidak akan ragu untuk membunuhmu karenanya."


"Lima belas menit yang lalu. Jadi ya, aku pikir aku mengalami stres yang tidak biasa sekarang, jenius," Lusio bertepuk tangan dengan lemah. Tepukannya nyaris tanpa suara.


"Kau sialan," maki Magenta, kakinya menendang kasar kaki Lusio yang terjulur.


"Aku bersumpah, akulah yang akan mengakhiri hidupmu jika kau mencoba berulah, bedebah," geram Magenta.


Lusio menolak pidato Magenta dengan satu gelengan kepala. “Penggunaan kata-kata kotormu meningkat secara eksponensial saat kau kesal denganku, uh. Bahasamu tampaknya berhubungan langsung dengan hubunganmu dengannya. Mengapa?"


Magenta mencoba untuk tidak memutar matanya. “Bukan berarti ucapanmu ini benar-benar relevan, tetapi Venus dan aku membuat kesepakatan beberapa tahun yang lalu," Magenta menghentikan ucapannya.


"Kau menjijikkan, bersihkan dirimu dan kita akan membahas ini kembali setelahnya," Magenta menyentuh dada pria itu dengan tangannya yang menyala.


Pasukan tikus kembali pada sikap waspada. Hanya beberapa detik dan Magenta kembali berdiri, membersihkan tangannya ke dinding dengan wajah jijik. Lalu melangkah cepat meninggalkan pria yang terus memegangi dadanya dan terbatuk-batuk di lantai itu.


"Ayo," ajaknya pada pasukan tikus.


Kelompok kecil itu mulai bergerak mengikuti langkah Magenta. Suara pintu berderit pelan saat mereka melewatinya. Dan pintu itu kembali menghilang tanpa seekor tikus pun yang menyadarinya.