
"Dia benar-benar menantikanmu," ucap Magenta, memandangi pergelangan tanganku.
"Seperti apa dia?" Tanyaku parau.
Magenta berhenti, menatap mataku dari bawah daguku. "Cantik," jawabnya.
"Dia akan secantik seseorang yang kau inginkan," lanjut Magenta, menarik tanganku turun dan menatap lekat padaku.
Aku menelan ludahku perlahan.
"Dia akan terlihat seperti siapapun atau apapun yang kau inginkan atau kau pedulikan, Mars," ucapnya lagi.
Magenta melangkah mundur, aku mengikutinya dengan pandangan berharap menemukan sesuatu dari matanya.
"Dia akan menginginkanmu tapi dia mungkin juga akan menyakitimu atau orang-orangmu di luar dugaanmu," suara Magenta meninggi.
Udara tiba-tiba bergerak cepat, berputar. Sebuah tamparan sangat keras di pipiku. Dua tamparan, tiga, empat... Aku menunduk menahan sakit di kedua pipiku.
Marbella di hadapanku, senyuman miring tersungging di wajahnya. Angkuh seperti kakakku. Sekali lagi ia mengangkat tangannya untuk menghantam ke arahku, aku menangkap tangannya. Dan sebuah tendangan bersarang di perutku tanpa ampun, diikuti oleh beberapa pukulan yang tidak dapat aku perkirakan. Darah segar menetes dari sudut bibirku yang pecah. Saat sekali lagi ia bersiap menghantam wajahku dengan tinjunya, aku mengangkat tanganku... Wajah Marbella memucat, lehernya terangkat tinggi. Saat itulah aku melihat bulir air mata mengalir jatuh dari sudut matanya. Aku terhenyak.
"Maaf, Marbi," aku terengah. Aku berusaha menangkap tubuhnya saat ia mendarat, namun sebuah kejutan, tubuhnya luruh bersama angin. Hilang bersama kabut. Menjauh menjadi suara lolongan pilu.
Lolongan tanpa tubuh itu tumbuh menjadi kresendo yang menggelegar, meledakkan gendang telingaku. Ledakan kekuatan menghantamku dengan efek bola perusak yang berayun. Tapi kemudian, tiba-tiba seperti sambaran petir, tidak ada apa-apa selain keheningan. Angin dan tekanan menghilang, seolah lautan di sekitarku berhenti berbuih, dan meskipun aku merasakan darah menetes dari telingaku, aku tersenyum. Gendang telingaku akan segera sembuh, dan memikirkan apa yang aku alami tidak benar-benar melibatkan Marbella, membuat rasa sakit kecil itu terasa manis
Perlahan tubuhku berpendar, menghangat dan mengantarkan sebuah gelombang cahaya dengan kekuatan ke sumber suara. Pekikan pilu di udara. Aku jatuh di atas lututku. Kabut berhenti dan memudar, cahaya matahari kembali menerpaku dan bayanganku di tanah. Marbella berjalan dengan senyuman ke arahku.
Saat aku berpikir semua telah baik-baik saja, kegilaan lainnya datang, dan aku meneriakkan peringatan saat sepotong puing terbang ke arahnya. Aku melompat cepat untuk menarik tubuh Marbella ke dalam pelukankanku, dan sebuah pukulan ke tulang punggungku, rasa sakit yang begitu menakjubkan hingga aku melihat bintang. Punggungku, aku yakin itu terluka, dan aku dapat memperkirakan setidaknya memar parah di sana sekarang. Tapi ketika Marbella mengunci mata denganku dalam kepanikan yang tiba-tiba dan ketakutan, aku mengangguk, membiarkan dia tahu aku baik-baik saja. Aku punya dia.
Inci demi inci menyakitkan, kami bergerak kembali menuju ke bawah pohon besar. Magenta memberi isyarat, ia berteriak seperti film lambat tak bersuara.
Rasanya seperti berabad-abad berlalu sebelum kami dapat mencapai bagian bawah pohon yang telah berpelindung, semuanya terasa lambat.
Aku tidak tahu apa yang terjadi lagi.
Tapi sekarang,
Marbella tiba-tiba berbalik dan berteriak. "Menunduk, Mars!"
Aku serta merta menunduk dalam, menoleh ke belakang untuk mencari tahu apa yang terjadi. Gelombang asap hitam menyelubungi Marbella, ia berputar dan membuat pukulan-pukulan menghentak ke berbagai arah. Marbella tidak melakukan serangan jarak dekat, ia tidak ahli untuk itu. Aku berusaha bangkit dengan sisa kekuatan yang ada. Tapi aku tidak bisa bergerak. Aku menangkap dan menarik tangan Marbella untuk menjauh, namun saat aku melangkah kakiku tidak bergerak secepat yang aku harapkan, aku yakin sekali tidak bisa berlari lebih cepat dari gelombang api yang datang. Aku tidak tahu bagaimana salah satu dari kami akan bertahan hidup. Sedetik kemudian sebuah gelombang udara dan cahaya menyapu melewatiku. Magenta datang dan menarik mundur tubuhku dan Marbella.
Dan aku tidak benar-benar mengerti semua yang terjadi selanjutnya.
Owanna di mana-mana, mereka tiba-tiba ada di depan kami, tiba-tiba di antara kami. Magenta menarik Marbella ke dalam pelukannya, dan mulai berteriak pada Venus agar menarik tubuhku untuk lari ke dalam pelindung.
Magenta menghalau bola api yang datang, sementara Marbella mulai merapal sesuatu yang menyebabkan gelombang air melompat entah dari mana dan meskipun usahanya memadamkan api tidak sepenuhnya berhasil, itu cukup untuk memberi kami keunggulan yang kami butuhkan untuk melarikan diri. Venus dan aku menyeret diri kami kembali ke bawah pohon pelindung dan begitu kami nyaris memasuki area terlindung, aku bertemu dengan lautan wajah yang panik. Sosok yang tak terhitung jumlahnya melonjak ke depan, teriakan dan tangisan mereka dan keributan histeris menyatu menjadi satu badai suara yang tak terputus. Logikaku pudar, aku tidak mengerti mengapa orang-orang di sini, khawatir, menangis, dan dari mana mereka semua datang? Venus terus menarik tubuhku yang menjadi seberat batu besar. Ia berteriak untuk mengembalikanku, tapi aku bergeming. Diam.
Marbella sepertinya menyadari sesuatu, ia membaca pikiranku.
Ia merapal kata-kata yang mengalir tajam, perintah ke kerumunan dalam pandanganku, tubuh-tubuh tanpa nama mulai menghilang. Venus tidak lagi berteriak, tapi berjalan cepat, menembus sisa-sisa tubuh yang memudar, orang-orang yang menghalangi jalan kami. Suara napasku di telingaku. Orang-orang menghilang, orang-orang dengan wajah-wajah pilu. Pertarungan berakhir cepat setelah kami mencapai pelindung.
Di sini, langit kembali cerah.
Cuaca, menetap. Tanah tampaknya telah dijahit kembali bersama-sama. Dinding api yang mencoba mengejar kami sepanjang perjalanan kembali ke bawah pohon besar sekarang hanyalah asap yang memudar. Pohon-pohon dalam posisi tegak, badai tidak lebih dari kabut halus. Sore terlihat hampir cantik. Dan untuk sesaat aku mendengar kicau burung.
Aku ambruk di tengah jalan usang yang mengarah kembali ke rumah Magenta, wajahku membentur rumput basah. Bau tanah yang segar dan lembab memenuhi kepalaku dan aku menghirupnya, semuanya. Ini adalah aroma terapi. Sebuah keajaiban. Mungkin, aku pikir. Mungkin kita akan baik-baik saja. Mungkin aku bisa memejamkan mata. Luangkan waktu sejenak.
Marbella berjalan melewati tubuhku yang tengkurap, gerakannya begitu intens sehingga aku terkejut, ke posisi duduk. Ia berjongkok mengangkat bahuku.
"Mars... Mars," suara Marbella terdengar seperti gelombang.
Aku menatap kakinya, dia bahkan tidak memakai sepatu. Lengan bajunya koyak, aku kembali menatap kakinya, tanpa kaos kaki, tanpa alas kaki. Celana coklatnya berlumpur. Aku perhatikan untuk pertama kalinya bahwa dia mendapat luka besar di dada atas. Beberapa luka di lengannya. Goresan jahat di lehernya. Darah menetes perlahan ke bawah tubuhnya, dan Marbella sepertinya tidak menyadarinya. Saat ia berbalik untuk berbicara pada Venus, aku melihat luka di sekujur punggungnya, darah berceceran di bagian depan dan belakang tubuhnya. Dia terlihat gila. Tapi dia masih bergerak, matanya panas karena marah dan sesuatu yang lain— Sesuatu yang membuatku takut.
Aku kembali tersungkur. Kehilangan semua sisa cerita.