
Apa yang benar-benar berbeda di sini?
Kenangan menyelimutiku, mengikat tulangku.
Aku tidur. Ketika aku tidur, aku bermimpi aku sedang tidur. Dalam mimpi itu, aku bermimpi aku mati. Aku tidak bisa membedakan nyata dari fiksi, tidak bisa membedakan mimpi dari kebenaran, tidak bisa mengatakan waktu lagi mungkin sudah berhari-hari atau bertahun-tahun, dalam mimpi mati aku melihat aku berjalan perlahan dan juga berlari, panggilan untuk bangun dan belaian untuk tetap tertidur.
Terkadang aku berpikir bahwa tidak ada yang masuk akal dalam hidup. Di planet kecil yang telah berjalan menuju ketiadaan selama jutaan tahun, kita dilahirkan dalam kesakitan, kita tumbuh, kita berjuang, kita sakit, kita menderita, kita membuat orang menderita, kita berteriak, kita mati, dan orang lain dilahirkan untuk memulai komedi yang tidak berguna itu lagi. . .
Yang mengenal tawa juga harus mengenal tangis.
Adil?
Aku berbalik saat salah satu tikus dari pasukan datang berlari.
"Pak, saya harus menyampaikan pada nona Marbi bahwa tempat tujuan telah terlihat," ucap tikus itu.
Aku melepas pandangan jauh untuk melihat apa yang baru saja tikus itu sampaikan. "Masuklah," ucapku mempersilahkan setelah tidak menemukan apapun.
Rasanya enggan untuk meninggalkan tangga teras yang aku duduki.
✳️°
🌲
Tidak berselang lama Marbella datang menghampiri. "Kita akan segera sampai dan menjumpai seseorang, Mars."
"Disini?" Tanyaku.
Marbella mengangguk.
"Tujuan pertama kita," Marbella menunjuk.
Rumah lain? Rumah di ruang dimensi pertama yang aku lihat. Ada berapa banyak rumah di ruang ini?
Aku mengikuti langkah Marbella saat ia berjalan cepat menyusul Moonflower dan pasukan Jiso menuju gerbang halaman belakang.
"Ada ruang yang tidak terlindungi hingga kita mencapai rumah itu," ucap Marbella, lebih ditujukan untuk semua. "Bersiaplah!"
Saat pagar di buka, pelindung bercelah kami melangkah dengan gerakan cepat dan waspada seperti yang Marbella dan Moonflower lakukan.
Pagar kayu tinggi mengelilingi rumah itu, dan tanaman merambat dimana-mana. Sepasang pria dan wanita telah berdiri di depan pagar menanti kami dengan tersenyum.
"Selamat datang," sapa sang pria ramah pada semua.
Wanita di sampingnya berjalan menghampiriku.
"Hei, Mars." wanita itu menyapaku, beberapa langkah di hadapan kami.
"Dia mengenaliku!?" Aku mencari jawaban dari Marbella.
Marbella hanya tersenyum singkat lalu beralih untuk terlibat saling sapa yang akrab dengan kedua orang itu sebelum aku sempat membalas sapaan wanita itu.
Kami memasuki rumah. Kursi-kursi tanpa meja berjajar rapi di sisi dinding yang dilapisi kertas dengan gambar tanaman merambat dari langit-langit hingga menyentuh lantainya yang tutupi karpet bewarna merah. Mereka terkesan sangat menyukai tanaman, terutama yang merambat.
Pria itu dengan ramah meminta kami duduk dan berlalu keruangan lain untuk melakukan sesuatu. Sementara wanita itu terus menatapku dengan tersenyum dari sudut ruangan.
"Marbi, tidakkah wanita itu terlihat mencurigakan," ucapku sepelan mungkin. Tikus-tikus mengangguk tampak setuju
Marbella memutar bola matanya. “Tidak ada yang menakutkan dari wanita itu. Satu-satunya masalah adalah bahwa dia adalah penyihir yang sombong, dia bisa—”
"Tunggu," kataku, berkedip. "Ke mana dia pergi?" Aku berdiri.
Aku bersumpah, lima detik yang lalu dia berdiri di sana. Aku memutar kepalaku ke kiri dan ke kanan seperti karakter kartun.
Aku mengusap lenganku sendiri, menjatuhkan diriku kembali ke kursiku terlalu keras, hampir menjatuhkan diriku sendiri. Aku membungkuk, bernapas sedikit lucu, dan kemudian, tanpa alasan yang rasional, aku tertawa. Moonflower, Jiso serta para tikus semua menatapku seolah aku gila, dan aku tidak menyalahkan mereka. Aku tidak tahu apa yang salah denganku. Aku bahkan tidak tahu kenapa aku masih saja begitu terkejut pada trik sihir. Tidak ada yang menakutkan tentang wanita itu, wajahnya bahkan tidak seperti seorang penyihir samasekali. Aku pikir aku terlalu banyak berpikir.
"Apa yang salah dengan kamu?" Moonflower menatapku, tertegun.
Aku melirik Marbella. Wajahnya memerah, tampak ia tengah berusaha keras menahan tawanya pecah. Aku mendengus kesal.
“Ah.. itu, aku tidak tahu, penyihir ada di sini, tiga aku rasa,” kataku, menjaga suaraku tetap rendah. Aku menghindari tatapan Moonflower.
"Aku kira kau bagian dari kami, tidakkah begitu?" Moonflower duduk di sebelahku.
"Karena kepalaku bodoh sekarang, itu sebabnya aku tidak tahu." Aku memelototi Marbella. Ia masih saja memasang wajah mengejek itu.
"Terserah," kata Moonflower, dan mengangkat bahu.
"Dia menuju ke sini," bisik Jimmy yang duduk di sebelahku.
Langkahnya berhenti tepat di hadapanku. Aku melihat ke atas. Dia tersenyum.
Ugh, sangat cantik.
"Hai," sapaku spontan. "Apa kabar?"
Dia melihat sekeliling. Melawan tawa. "Aku baik-baik saja," katanya.
Tanpa mengatakan apapun lagi wanita itu melangkah kehadapan Marbella, dan Marbella segera berdiri menyambutnya. Ia menaruh sebuah kotak ke tangan Marbella.
Moonflower melirikku, lalu Marbella dan kembali lagi. "Aku tahu kamu benci ketika aku menanyakan ini, tapi— Apakah kamu mabuk?" Bisiknya.
"Tidak," kataku terlalu keras. Aku merosot lebih jauh di tempat dudukku. "Tidak mabuk. Hanya sedikit . . . kusut."
Wanita itu mengangkat alis menatapku.
Moonflower menggelengkan kepalanya dan menghela nafas.
“Mars, ini bukan situasi yang ideal, tapi aku membutuhkanmu untuk berdiri," ucap wanita itu kemudian.
"Apa?" Aku menjulurkan kepalaku. Aku menatapnya. "Mengapa?"
"Berdirilah!" katanya.
Aku langsung menuruti permintaannya, berdiri canggung menantikan instruksi lanjutan darinya. Semua diam ikut menantikan. Wanita itu membisikkan sesuatu ke telinga Marbella dan Marbella mengangguk.
"Ah maafkan aku teman-teman, minumannya sedikit terlambat, kalian pasti haus," ucap si pria yang tiba-tiba muncul dari balik sebuah pintu dengan nampan penuh berisi cangkir-cangkir porselen dengan corak bunga.
Moonflower tampak berbinar menatap nampan yang diedarkan.
"Terima kasih. Aku akan menundanya, Mars," ucap wanita itu. Ia melangkah pergi dengan cangkir ditangannya menuju sebuah pintu lain yang terdapat di dinding.
"Apa aku baru saja menyela?" tanya si pria dengan raut bodoh.
"Tidak," jawabku.
Teh buatannya sangat enak.
Pria itu berdiri memegangi nampan yang telah kosong seperti seorang ibu yang antusias di jam sarapan. Ia terlihat takjub pada para tikus yang terlihat sangat beretika. Jimmy yang menyadari sebuah perhatian menyorotnya melipat paha kecilnya dan menyeruput tehnya lebih elegan dari sebelum-sebelumnya. Dan Jiso yang selalu jengah jika seseorang memandangnya lebih dari dua detik terlihat duduk terlalu tegak dan jarang berkedip meski asap dari cangkir kerap memaksanya.
Aku menoleh ke arah Moonflower, dia menjadi sangat pendiam. Menatap cangkir porselen di tangannya dan menyentuh setiap detailnya dengan hati-hati. Tehnya masih terlihat utuh.
Sedangkan Marbella, cangkirnya telah kosong entah sejak kapan. Benar-benar kakakku. Aku tersenyum pada sisa teh di dalam cangkir.
'Kau benar, James. Hidup selalu pantas untuk dirayakan'