
_______________LUSIO_________________
Dalam kegelapan, aku membayangkan cahaya.
Aku memimpikan matahari, bulan, ibu. Aku melihat anak-anak tertawa, menangis, aku melihat darah, aku mencium bau gula. Cahaya menghancurkan kegelapan yang menekan mataku, tidak memecah apa pun menjadi sesuatu. Bentuk tanpa nama mengembang dan berputar, menabrak satu sama lain, larut saat bersentuhan. Aku melihat debu. Aku melihat dinding gelap, jendela kecil, aku melihat air, aku melihat kata-kata di lembaran—
aku tidak gila aku tidak gila aku tidak gila aku tidak gila aku tidak gila aku tidak gila aku tidak gila aku tidak gila aku tidak gila aku tidak gila aku tidak gila aku tidak gila aku tidak gila aku tidak gila aku tidak gila aku tidak gila aku tidak gila aku tidak gila aku tidak gila aku tidak gila aku tidak gila aku tidak gila aku tidak gila aku tidak gila aku tidak gila aku tidak gila aku tidak gila aku tidak gila aku tidak gila aku tidak gila aku tidak gila aku tidak gila aku tidak gila aku tidak gila aku tidak gila aku tidak gila aku tidak gila aku tidak gila aku tidak gila aku tidak gila aku tidak gila aku tidak gila aku tidak gila aku tidak gila aku tidak gila aku tidak gila aku tidak gila aku tidak gila aku tidak gila aku tidak gila Saya tidak gila, saya tidak gila, saya tidak gila, saya tidak gilagila aku tidak gila aku tidak gila aku tidak gila aku tidak gila aku tidak gila aku tidak gila aku tidak gila aku tidak gila aku tidak gila aku tidak gila aku tidak gila aku tidak gila aku aku tidak gila aku tidak gila aku tidak gila aku tidak gila aku tidak gila aku tidak gila aku tidak gila aku tidak gila aku tidak gila aku tidak gila aku tidak gila aku tidak gila aku tidak gila aku tidak gila aku tidak gila aku tidak gila aku tidak gila aku tidak gila aku tidak gila aku tidak gila aku tidak gila aku tidak gila aku tidak gila aku tidak gila aku tidak gila aku saya tidak gila saya tidak gila saya tidak gila saya tidak gilaaku tidak gila aku tidak gila aku tidak gila aku tidak gila aku tidak gila aku tidak gila aku tidak gila aku tidak gila aku tidak gila aku tidak gila aku tidak gila aku tidak gila aku tidak gila aku tidak gila aku tidak gila aku tidak gila aku tidak gila aku tidak gila aku tidak gila aku tidak gila aku tidak gila aku tidak gila aku tidak gila aku tidak gila aku tidak gila Saya tidak gila, saya tidak gila, saya tidak gila, saya tidak gilaaku tidak gila aku tidak gila aku tidak gila aku tidak gila aku tidak gila aku tidak gila aku tidak gila aku tidak gila aku tidak gila aku tidak gila aku tidak gila aku tidak gila aku tidak gila aku tidak gila aku tidak gila aku tidak gila aku tidak gila aku tidak gila aku tidak gila aku tidak gila aku tidak gila aku tidak gila aku tidak gila aku tidak gila aku tidak gila Saya tidak gila, saya tidak gila, saya tidak gila, saya tidak gilagila aku tidak gila aku tidak gila aku tidak gila aku tidak gilagila aku tidak gila aku tidak gila aku tidak gila aku tidak gila
Dalam rasa sakit, aku membayangkan kebahagiaan.
Pikiranku seperti angin, bergegas, meringkuk ke kedalaman diriku, mengusir, mengusir kegelapan
Aku membayangkan cinta, aku membayangkan angin, aku membayangkan rambut hitam dan mata berkilauan dan bisikan, tawa
Aku membayangkan
Aku
luar biasa, tak terputus
Pria yang mengejutkan dirinya sendiri dengan bertahan hidup, pria yang mencintai dirinya sendiri melalui pembelajaran, pria yang menghargai kulitnya, memahami nilainya, menemukan kekuatannya
kuat
lebih kuat
terkuat
Bayangkan aku
penguasa alam semesta aku sendiri
Aku adalah semua yang pernah aku impikan.
___________________
Kami berada di ruangan utama. Berdiri di dekat dinding. Tidak ada pintu yang terlihat seperti yang di katakan Marbella, tapi pintunya di sana seperri yang dia katakan.
Kami sudah berada di sana selama setengah jam sekarang. Tapi Marbella belum datang. Jiso mengatakan bahwa butuh lima jam untuk mencapai ujung lorong dari pintu itu dan itu membuatku gelisah mengingat panjangnya waktu perjalanan nanti, sementara sekarang kami masih di sini.
Perbincangan kecil untuk membunuh waktu, sampai seseorang datang, Magenta!
Tanpa senyuman dia melangkah mendekat. Ketegangan menyeruak, aku mewaspadainya.
"Dimana Marbi," aku berusaha bertanya dengan setenang mungkin.
"Aku di sini," suara Marbella.
Aku meresa lega. Aku menatap Marbella untuk bertanya.
Semua orang mengangguk dan diam. Venus datang dengan sebuah ransel besar di punggungnya, sedikit berlari dan terengah.
Aku tiba-tiba teringat dengan pria Lusio, di mana dia?
""Semua orang akan ikut, bawa semua sisa pasukan tikus... Kita membutuhkan mereka," ucap Magenta.
Jiso mengangguk dan segera berlalu.
Tidak tahan lagi dan akhirnya pertanyaan meluncur dari mulutku, "Dimana tuan Lusio?"
"Heh, aku tidak menyangka kau akan menanyakannya," Magenta melirikku.
"Um.. aku hanya ingin tahu."
"Dia akan tetap berada di balik salah satu pintuku, dan kau aman darinya," Magenta berbicara tanpa menatapku kali ini.
Aku menggaruk kepalaku yang tidak gatal, mendekati Moonflower untuk percakapan baru.
"Apa kita membawa cukup makanan?" Tanyaku.
Moonflower menatapku sejenak. "Kau lapar lagi?"
Aku menyeringai. "Sedikit."
Jiso kembali dengan pasukan lengkap di belakangnya.
"Grimoland memiliki cukup tikus yang dapat kau undang," ucap Magenta.
"Hah?"
"Maksudku, serulingnya.. itu akan berguna," sambungnya.
"Oh...," Aku tersenyum singkat.
Marbella kembali menjadi lebih banyak diam, sampai sebuah pintu secara mengejutkan tiba-tiba muncul kepermukaan dinding.
Marbella terlihat menarik napas sebelum melangkah masuk. dan ajakannya untuk kami semua.
Sebuah ruangan dengan penerangan yang kurang, kami terus melangkah di belakang Magenta. Venus beberapa kali harus berlari kecil untuk menyamai langkah kaki wanita itu.
Aku memilih untuk memperlambat langkahku, menghampiri Marbella dan mengambil tangannya. Dia menatapku sesaat, tersenyum lalu membalas menggenggam tanganku. Kami bergandengan tangan, berjalan pasti di barisan paling terbelakang setelah pasukan tikus.
Tidak ada yang berbicara, hanya kebisingan dari sepatu-sepatu kami yang beradu dengan lantai dan suara napas yang memenuhi udara dalam ruangan kecil memanjang itu.
Di ujung lorong, kami dapat melihat cahaya yang lebih terang di sana. Membuatku ingin segera sampai di sana.