
“Kau bisa pergi ke Jepang suatu hari nanti. Kemampuan bahasa dan analisismu akan sangat berguna di sana,” pria tua itu berjalan melewati Rong menunju tumpukan buku di sebuah meja kayu berbentuk bulat dengan permukaan seperti relief. Ia kemudian mengambil sebuah buku tebal bersampul biru. Melemparkan buku itu kearah Rong, Rong menangkap dengan kedua tangannya.
“Mr. Rong, isi datamu! cetus pria itu sembari melambaikan tangannya. “Hanya sedikit orang yang mendapat hak istimewa ini. Kami mengharapkan yang terbaik darimu.”
Rong pun mulai menggerakkan tangannya untuk membuka buku bersampul biru yang semula ia pikir adalah sebuah buku tebal yang berisi literatur sejarah atau sejenisnya.
Pada dua lembar terdepan terdapat tulisan dengan tinta biru yang berisikan data dari dua orang, seorang laki-laki bernama Venus dan seorang perempuan bernama Magenta, Rong membaca data mereka sekilas dan ia mengetahui Magenta adalah seseorang dari keluarga Ghoyanta seperti dirinya.
Suara buku yang diletakkan secara kasar ke meja mengejutkan Rong. Ia segera membuka lembar ketiga untuk dirinya dan mulai menulis.
______
Sejak hari itu, Rong setiap hari turun ke ruang bawah tanah, berbincang banyak hal dengan pria berambut abu itu, Rong akan menyimak penuh perhatian selama pria tua itu memaparkan pengalaman-pengalamannya atau ketika mereka harus mendiskusikan rencana-rencana. Pria tua itu merasa sangat penting kerena masuk dalam pasukan rahasia kerajaan dan dalam tahun yang panjang diserahi tanggung jawab posisi di ruang bawah tanah dalam banyak misi-misi rahasia kerajaan.
Di banyak kesempatan, Rong merintis pendekatan menyeluruh untuk mendapatkan data spesifik perorangan dengan memanfaatkan database masyarakat Grimoland dan laporan sensus dasar, meskipun hal tersebut kuno. Keduanya digabungkan dengan jaringan luas kecerdasan manusia yang dikembangkannya dan juga sihir, bekerjasama dengan beberapa orang yang ia percayai bakat dan kesetiaannya, semuanya berjalan dengan tersembunyi. Rong tetap tampil sebagai penasehat yang ambisius, pintar dan terkendali.
Pengaruh proyek hitam membuat terjadinya pengusiran sekaligus penangkapan membabi buta terhadap suku-suku penyihir tertentu dan juga pengungsian penduduk kerap memaksa Rong terpaksa bergantung pada model statistika.
Sisi lain Rong, dengan pencapaian-pencapaian hebatnya sebagai pemuda genius yang ambisius membuatnya tetap mendapat apresiasi dari kerajaan maupun dalam kelompok yang lebih kecil bersama sang jenderal.
Sekali waktu, Rong memprediksi akan terjadinya bencana alam yang terjadi dengan prediksi yang mendekati akurat dengan penyebutan tanggal dan waktu, di kota pertambangan di sisi paling timur kerajaan Grimoland, yang diperkirakan akan menelan korban jiwa hingga ribuan orang banyaknya. Ketika gempa bumi akan melanda, King Grimo berkesempatan untuk mengungsikan sebagian besar penduduk dan dan juga penyelamatan terhadap aset-aset berharga yang ada di sana. Hal tersebut menguatkan posisi dan pandangan baik terhadap penguasa Grimoland yang tengah mendapatkan sorotan dan rundungan dari isu-isu negatif dari sisi lain kerajaan yang berhubungan dengan proyek hitam. Rong serta merta mendapatkan segala pujian dan kelimpahan, rongga dadanya dipenuhi rasa bangga yang membuatnya melontarkan banyak kata-kata bahkan tanpa diminta.
Itu adalah masa-masa berat bagi Rong, Dengan kebanggaan yang tidak wajar, ia menjelaskan kegembiraan itu pada pria tua berambut abu di ruangan bawah tanah. Ketika memperhatikan ekspresi ganjil dari pria tua, dia menambahkan “Maksudku, aku bukan merasa gembira karena seolah-olah telah menyebabkan kejadian celaka itu. Aku hanya memperediksinya.”
Tetapi pada akhirnya, sebagai keturunan penyihir Ghoyanta, ia merasa tidak cocok dengan kehidupan belakang kerajaan yang glamor dan berkelimpahan harta. Secara alami Rong lebih tertarik pada kelompok yang berisi orang-orang sejenisnya.
Dalam sebuah perjalanan dari kerajaan menuju perkemahan prajurit, Rong bertemu Gloria, putri seorang pengembang yang kaya raya. Mereka menikah dan memiliki beberapa anak. Yang kemudian anak-anaknya beranjak dewasa, menjadi sukses dan memulai jalan mereka masing-masing. Salah satu dari putranya bernama Alfi, di suatu hari memperkenalkan seorang gadis muda bernama Anna sebagai kekasih yang ingin ia nikahi. Bagai mengembalikan cerita pada tempat semula, Anna adalah putri dari Venus dan Magenta, orang yang tak pernah Rong lihat sebelumnya tapi terus mengingat nama mereka.
“Kapan kami bisa menemui orang tuamu?” Rong bertanya dengan rasa antusias yang ditahannya.
Anna menggigit bibir bawahnya sebelum menjawab. “Mereka telah ditangkap, Tuan.”
Ada genangan di matanya saat ia mengangkat kepala, Alfi menggenggam tangan Anna untuk menyatakan kehadirannya.
“Berikan sesuatu agar aku dapat mengenali mereka,” pinta Rong.
Anna membuka dompet tangan yang ia genggam dan mengeluarkan beberapa lembar kertas yang dilipat-lipat dan juga selembar foto. Rong menerimanya. Ia tahu kemana harus membawa itu.
Demi sebuah harapan, Anna dan Alfi bersedia menunda tujuan utama dari pertemuan itu.
"Berkunjunglah lebih sering,” pesan Rong sebelum Anna berpamitan.
______