LUCEM

LUCEM
Chapter LVII



"Apakah menurutmu dia akan mati, Marbi?" Aku bertanya.


"Aku tidak tahu, Mars," ucap Marbella sambil menggelengkan kepalanya. “Dia kehilangan banyak darah dan dia tikus tua. Yang bisa kita lakukan sekarang adalah menunggu dan melihat.”


Moonflower tidak pernah berhenti dengan James. Tapi penantian kami menuju jawaban. Napas James tumbuh lebih cepat dan lebih cepat, dan ada derak yang mengerikan di tenggorokannya. Aku berlutut dan meletakkan kepalanya di telapak tanganku saat kelopak mata James bergerak lebih cepat dan ia membuka matanya perlahan. Menatapku sendu.


"Selamat tinggal," bisik James. Kemudian dia mengerahkan seluruh kekuatannya dan melambaikan salah satu kaki depannya ke arahku.


James pasti tahu dia sedang sekarat. Dia menarik napasnya untuk yang terakhir, hentakkan lemah dari ekornya, lalu perlahan mata merah berkabut yang ramah itu tertutup selamanya.


Aku tidak percaya tikus putih kami mati. Aku mulai berbicara dengannya. "Tolong jangan mati, James," kataku bergetar. “Jangan tinggalkan aku sekarang.”


Aku melihat Moonflower untuk meminta bantuan. Wajahnya seputih kulit pohon sycamore dan kabut duka di matanya kembali merobek hatiku. Dia membuka mulutnya untuk mengatakan sesuatu tetapi kata-kata tidak keluar.


Merasa sedingin angin kutub, aku merasakan hawa dingin yang sangat dingin di sepanjang punggung dan leherku, itu saja. aku bangkit dan tersandung ke kursi. Marbella menghampiriku dan mengatakan sesuatu. Kata-katanya hanya gumaman di telingaku.


Pasukan tikus datang dan mengelilingi pembaringan James, menatap tubuh tikus tua itu tak bergerak. Jimmy terisak. Aku masih dapat melihat darah yang membeku pada sobekan luka di wajah tikus tampan itu. Mereka lebih terluka, tidak hanya aku. Aku bangkit perlahan.


Dengan sangat lembut aku mengangkat tubuh James tua ke dalam pelukan dan membawanya ke teras. Diikuti Marbella dan yang lainnya.


Temanku telah pergi, dia telah mati.


Aku berlutut di tanah yang basah, di hadapan sebuah lubang di tanah.


Moonflower menghampiriku, dia berkata, " Kami melakukan semua yang kami bisa, tapi aku rasa itu tidak cukup.... maafkan aku."


Mataku semerah saga tapi aku tidak menangis ketika aku berjongkok menurunkan tubuh James ke tanah yang sempit di halaman. Aku tidak dapat menghindari perasaan bahwa ini adalah pemakamanku sendiri, dan aku tidak dapat menangis dalam hal itu.


*


*


*


Hai..., James.


Tidak akan ada yang sama setelah kau pergi. Tidak akan. Namun kami yang hidup untuk tetap bernapas, tetap harus berlari meski sudah berbeda. Seperti yang kau selalu katakan 'hidup akan terus berjalan' tetapi masih sedikit lebih sedih karena kau tidak menemani kami.


Sekarang kami dengan senang hati mengingat saat-saat kau memberi tahu kami hal-hal untuk kebaikan kami sendiri. Kami telah belajar darimu cinta tanpa syaratmu.


Semua hal baik dan bahagia yang terus terjadi pada kami, sebagian karena semua yang kau ajarkan kepada kami dan kami tidak akan pernah melupakanmu, teman.


Kau mungkin tidak akan pernah tahu bahwa jiwamu yang bepergian dengan manis terlindung di lubuk hatiku dan bahwa tidak ada waktu, usia, atau kisah lain, yang akan mencegahmu untuk tetap ada.


Jalan yang kau ikuti, hari ini mereka mengarahkan aku ke jalanku, aku harap kau tahu bahwa aku membawamu bersamaku, seperti lampu emas untuk menerangi jalanku, aku harap kau tahu bahwa suaramu masih menembus jiwaku.


Sorot lembut sinarmu, api unggun manis semangatmu. Kau masih hidup sedikit karena aku hidup lebih lama darimu.


Aku tersenyum, mengusap lembut tanah basah di hadapanku.


Istirahatlah James tua, sampai berjumpa lagi.


*******


_________________POV___________________


⚪⚪⚪⚪⚪⚪⚪⚪⚪James⚪⚪⚪⚪⚪⚪⚪⚪⚪⚪


Seperti mendapatkan panggilan, Mars bangkit dari kursinya dan berjalan menuju pintu segera. Ia terlalu antusias dan memutar gagang pintu lalu melangkah ke teras. Saya harus berlari dan melompat untuk menghentikannya, tapi seolah itu terlambat.


Saya melihat sekelebat bayangan hitam mendahului Marbella dan pasukannya, menyerbu ke arah Mars yang berdiri di ambang pintu. Saya berteriak tapi percuma, Mars bergeming tak mendengar suaraku atau melihat bahaya. Ia melambai ke arah Marbella. Kami menyaksikan hal yang berbeda, saya menyadari itu.


Yang saya saksikan adalah Marbella berlari sekuat tenaga sesaat sebelum bayangan hitam itu menerjang tubuh Mars yang berdiri tegak, namun dia tetap saja terlambat. Marbella bergerak sangat lambat dan berat seolah udara menahannya. Saya berteriak dengan pedang kecil yang terhunus, mencoba menghalau kabut hitam yang menyelubungi tubuh pemuda yang masih menampakkan wajah antusias dan khawatirnya. Tapi tubuh tuaku mendapatkan beberapa pukulan yang tidak dikendalikan, bertubi-tubi.


Marbella seperti gambar hidup yang diperlambat, dia membuka mulutnya lebar-lebar tapi saya maupun Mars tidak mendengar apapun darinya. Saya bangkit, kembali menerjang udara gelap yang melilit tapi tubuh tuaku kembali terpelanting seperti daun kering ke lantai, mencoba menahan dadaku seolah-olah ada bagian padat dari diri ini. yang retak atau pecah.


Saya terus bangkit membuat yang menyaksikan berpikir semua serangan itu tidak menyakiti saya, atau setidaknya saya tidak membuat suara kesakitan. Saya memegang tangan ke dada dan merasakan jantung saya berdebar dan jatuh. Sebuah kolom udara didorong dari mulut saya dan tubuh saya terhuyung-huyung lalu terdiam, dan lantai menyambut tubuh saya. Lengan kanan saya jatuh walau saya berupaya mengangkatnya kembali. Saya tergeletak dengan darah yang menetes deras dari kulit dan daging yang menganga di dada saya, hangat membasahi punggung.


Terbaring di lantai, bagaimanapun saya berusaha, Mars tidak berbalik untuk menatap, bahkan untuk sesaat. Saya kemudian menyaksikan percakapan tidak wajar dari Mars, ia menyebut nama gadis itu, Maria. Kabut hitam tidak meninggalkannya hingga akhirnya tubuh kucing Marbella melompat kasar di teras kayu yang berderit nyaring. Gadis kucing itu murka. Kemudian saya melihat Mars jatuh di atas lututnya, saat asap hitam itu melolong dan membubung pergi. Saya merasakan lega yang datang, tapi tubuh ini tidak lagi dapat saya kendalikan.


Gadis burung menyentuh saya, ada hangat dan dingin mengalir bersama-sama. Saya terbaring di kasur yang terlalu luas. Gadis bernama Moonflower itu sepertinya mengharapkan jawaban dari saya, jadi saya menggelengkan kepala setiap kali ia mengajak saya berbincang.


Orang-orang berwajah muram, berbincang di sekitarku. Cinta terasa menghangatkan tubuhku yang mendingin. Mars, teman manusiaku.. petualangan panjang kami, kenakalan Marbella, dan pasukan tikus, wajah-wajah yang saya kenali. Saya berjanji akan membawa kalian pergi di dalam hati tua ini.


Mars meletakkan tangannya di bawah kepala saya yang terasa meringan, matanya menggenang. Entah mengapa saya merasa sangat senang, merasa sangat bahagia untuk tangisnya yang ia tahan sekuat tenaga. Saya berusaha bersuara, saya tahu ini waktunya pergi.


Saya berbisik mengejar udara terakhir yang akan melewati hidung saya.


Disinilah waktu berhenti untuk saya.


"Selamat tinggal."