
"Aku kira akan menerima secangkir teh," Aku menghirup aroma kopi yang menguar saat Moonflower memasuki ruangan. Meletakkan buku yang ku pegang di meja dan menyambut cangkir kopi dari tangan Moonflower.
"Aku berpikir kau sudah terlalu banyak tidur, Mars. Jadi, aroma kopi dapat membangunkanmu lebih lama, membuatmu merasa hangat di awal musim dingin," ujar Moonflower.
Aku tersenyum. Lebih dari sekedar terjaga, sejujurnya aku berharap kopi dapat membuat ketakutan tidak mengejutkanku lagi di siang maupun malam hari, bahwa kedamaian bukanlah mimpi.
Marbella tidak berniat dengan sengaja memberi tahuku segalanya atau menutupi segalanya. Dia telah mengisyaratkan, bahwa aku harus belajar menerima, bahwa aku harus belajar menolak, bahwa aku harus belajar dari mimpi dan kenyataan, bahwa aku harus siap menyambut atau kehilangan. Marbella ingin melindungi dan dilindungi. Marbella membiarkanku membentuk diriku hingga menemukan versi terbaikku. Sendiri.
Pada semua rencana Marbella, lebih baik berpura-pura bahwa aku sendiri tidak bingung.
Ketukkan pelan di pintu mengalihkan perhatian kami pada sosok tikus putih yang berdiri di ambang pintu. Dibelakangnya berdiri Jiso.
"Ada apa, James?" Tanya Marbella.
"Saya merasa sangat terusik karena itu saya datang dan ingin bertanya," ucap James.
Marbella tersenyum dengan sadar pada mereka berdua dan aku menangkap kilatan kemarahan di mata Marbella. Entah tikus yang mana yang membuatnya frustrasi, kelihatannya Marbella tidak akan pernah mengakuinya dengan lantang.
"Marbi, aku ingin berjalan-jalan di luar, bolehkah?" Aku menyela.
Marbella setuju dan meminta Moonflower untuk menemaniku. Meninggalkan Marbella dan kedua tikusnya untuk berbincang.
Di halaman. "Aku tidak menduga ruang dimensi memiliki siklus siang dan malam yang terasa normal," ucapku.
Menghirup aroma kopi, memandang langit yang memerah, merasakan angin semilir, ini masih kediaman Moonflower yang biasa. Dimanakah letak ruang dimensinya?
"Tidak ada yang berbeda, Mars. Selain ruang dan waktu," Moonflower menerawang.
"Apa maksud dari ruang dan waktu yang berbeda?" Aku kembali menatap langit.
"Kapan kau lahir, berapa usiamu, apa yang pernah kau makan atau minum, hal-hal yang pernah kau temui. Di sini, semua itu tidak berarti. Nilai kita sama. Apa kau mengerti?" Moonflower menatapku.
Aku menggeleng perlahan.
"Maksudku, aku seribu tiga ratus tahun lebih tua darimu dan berusia dua puluh satu tahun saat aku memasuki ruang dimensi ini," ucap Moonflower.
"Kau bercanda...," Ucapku spontan.
Aku menyipitkan mata, menyapu Moonflower dengan pandangan tidak percaya. Gadis itu melebarkan senyumannya. "Aku tahu kau tidak akan mempercayai ucapanku, meski kau tidak punya cukup alasan untuk meragukan ku juga. Adalah hal umum bagi manusia untuk mempercayai hal-hal yang dekat dengan pemikirannya. Dekat dengan pengalamannya. Dan meragukan hal-hal yang di luar jangkauannya, tapi bukan berarti hal-hal yang tidak kau lihat, tidak kau rasakan, tidak kau alami adalah tidak nyata."
Aku kembali menarik tanganku. Moonflower hanya tersenyum. "Apakah terasa nyata?" Tanyanya.
Aku tertawa kecil. "Kau sangat nyata untuk dua puluh satu tahun."
"Kau masih menolak hal yang berada di luar logika mu, dan itu bagus....," Ucap Moonflower.
"Apa yang bagus tentang itu? Tanyaku.
"Bagus, karena kau terlihat tidak akan menolakku secara fisik," Moonflower mendekat tiba-tiba.
Aku terkejut dan merasakan detak jantungku yang berpacu. Gadis ini menggodaku lagi.
"Boleh aku menciummu di sini?" Telunjuk Moonflower menyentuh bibirku. Aku menelan ludah.
"Pejamkan matamu, leluhur ingin....." Ia menggigit sudut bibirnya.
Aku beringsut mundur, detak jantungku semakin tidak beraturan. "A—aku akan ke sana... Ma—maaf."
Aku segera berdiri dan berjalan menjauh.
”Mars..!" Seru Moonflower.
"Ya?" Aku berhenti.
Moonflower menutup mulutnya dengan tangan dan sedetik kemudian suara tawanya bergema. Ia tertawa keras hingga harus mengusap sisi matanya yang berair. Aku merasa kesal dan malu sekaligus lucu. Leluhur yang nakal, pikirku.
"Kemarilah... Aku tidak akan menggodamu lagi," Moonflower menepuk-nepuk rumput di sampingnya. Ia masih berusaha menahan tawa. Aku kembali mendekat dan duduk di sana dengan perasaan kikuk namun tidak punya alasan lain untuk menolaknya.
"Kau takut?" Tanyanya.
Aku menggeleng.
"Aku tidak akan menciummu, kecuali kau yang memintanya," ujarnya
Aku meminum kopi yang tersisa di cangkir. Menarik napasku dalam-dalam. " Seribu tiga ratus tahun, huh?"