
Tidak butuh waktu kama untuk melakukan itu. Aku telah kembali berdiri beberapa langkah di hadapan Magenta. Lurus.
"Apa yang akan kau lakukan," katanya, menganggukkan kepalanya satu inci ke kiri, "jika aku memintamu untuk melemparkan dirimu ke bawah sana?"
Aku berbalik, mengikuti arah telunjuk Magenta. Aku mengintip hamparan hijau di bawah. Kami setidaknya lima ratus kaki di atas, tapi jarak itu tidak membuatku takut. Aku bisa melakukan lompatan itu dengan mudah, tanpa cedera.
Aku kembali menatap lurus Magenta. "Aku akan melakukannya dengan senang hati."
Magenta mengambil langkah lebih dekat. “Bagaimana jika aku memintamu melakukannya tanpa menggunakan kekuatanmu? Bagaimana jika itu hanya keinginanku agar kau melemparkan dirimu saja ke bawah sana?"
Aku ingin menjawab setuju. Namun, mendadak gelombang panas yang membakar bergerak menyapuku, sensasi melepuh. Tanganku tidak bergerak. Aku tidak bisa membuka mulutku sendiri melawan serangan yang mengerikan itu. Magenta pasti mencoba mengujiku.
Dia pasti mencoba menjebakku ke dalam momen ketidaktaatan. Artinya aku harus membuktikan diri.
Dibutuhkan kekuatan sendiri yang luar biasa untuk melawan kekuatan tak terlihat yang menutup mulutku, tetapi aku berhasil. Dan ketika aku akhirnya bisa berbicara, aku berkata,
"Aku akan melakukannya dengan senang hati, Magenta."
Magenta mengambil satu langkah lebih dekat lagi, matanya berkilat karena sesuatu. Sesuatu yang benar-benar baru. Sesuatu yang mirip dengan bertanya-tanya.
"Benarkah?" katanya lembut.
"Ya."
“Maukah kau melakukan apapun yang aku minta? Apapun?"
"Ya."
Magenta masih menatap mataku ketika dia kembali mengangkat pergelangan tangannya ke mulut dan berkata pelan. "Kemarilah."
Dia menjatuhkan tangannya.
Jantungku mulai berdebar. Magenta menolak untuk berpaling dariku, matanya semakin biru dan cerah setiap detik. Sepertinya dia tahu bahwa matanya saja sudah cukup untuk mengganggu keseimbanganku. Dan kemudian, tanpa peringatan, dia meraih pergelangan tanganku. Aku menyadari terlambat bahwa dia memeriksa denyut nadiku.
"Begitu cepat," katanya lembut. “Seperti burung kecil. Katakan padaku, Mars. Apakah kau takut?"
"Tidak."
"Apakah kau bersemangat?"
“Aku—aku tidak tahu.”
Kabut memudar, Magenta menjatuhkan pergelangan tanganku. Untuk pertama kalinya dalam beberapa menit, Magenta memalingkan muka dariku, akhirnya memutuskan hubungan yang menyakitkan yang tak terlihat di antara kami. Tubuhku mengendur karena lega.
Seorang pria berdiri memperhatikan kami.
Venus. Dia terlihat tidak yakin.
"Mars," kata Magenta, ia tersenyum penuh arti menatap Venus.
Aku berbalik menghadap Venus.
Venus tidak mengatakan apa-apa. Wajahnya tanpa riak.
“Aku tidak akan membutuhkan jasa Venus lagi,” kata Magenta sambil melirik ke arahku.
Venus pucat. Bahkan dari tempatku berdiri, aku bisa melihat tubuhnya mulai bergetar.
"Magenta?" kataku, bingung.
"Bukankah sudah jelas?" ucap Magenta. "Aku ingin kau membuangnya."
Aku mengangguk.
Saat aku menoleh ke arah Venus, dia berteriak. Itu adalah suara yang tajam dan mengerikan yang mengganggu telingaku. Dia berlari menjauh dan aku berputar dengan cepat, mengulurkan tanganku untuk menghentikannya. Aku menariknya kuat, tubuhnya terbanting dengan erangan lembut, ke tanah.
Aku membuka telapak tanganku. Dia berteriak.
Kekuatanku melonjak. mengisi darahku dengan api. Perasaan itu memabukkan. Menyenangkan.
Aku mengangkat tanganku dan tubuh Venus terangkat dari tanah, ia menahan kepala belakangnya kesakitan, tubuhnya ditusuk oleh tongkat yang tak terlihat. Dia terus berteriak dan suaranya memenuhi telingaku, membanjiri tubuhku dengan endorfin. Kulitku bersenandung dengan energinya. Aku memejamkan mata.
Lalu aku menutup tinjuku.
Jeritan segar menembus kesunyian, bergema di tanah luas. Aku merasakan senyum tersungging di bibirku dan aku kehilangan diriku dalam perasaan itu, dalam kebebasan kekuatanku sendiri. Ada kegembiraan, menggunakan kekuatanku dengan begitu bebas, akhirnya.
Mataku terbuka lebar tetapi aku merasa terbius saat aku melihat tubuhnya yang tertahan mulai mengejang. Darah menyembur dari hidungnya, menggelegak di dalam mulutnya yang terbuka dan terengah-engah. Dia tersedak. Hampir mati. Dan aku baru mulai—
Api meninggalkan tubuhku begitu tiba-tiba membuatku terhuyung ke belakang.
Venus jatuh, dengan suara keras, ke tanah.
Kekosongan yang putus asa membakar diriku, membuatku merasa akan pingsan. Aku mengangkat tangan seolah sedang berdoa, mencoba mencari tahu apa yang terjadi, tiba-tiba merasa hampir menangis. Aku berputar, mencoba memahami—
Magenta mengangkat tangannya ke arahku.
Perlahan aku menurunkan tanganku.
Kekuatan terasa melonjak mengaliriku sekali lagi dan aku menarik napas dalam-dalam, perasaan lega membanjiri indraku, mengisi kembali pembuluh darahku. Aku berkedip beberapa kali, mencoba menjernihkan kepalaku, tapi rengekan menyedihkan Venus yang membawaku kembali ke saat ini. Aku menatap tubuhnya yang rusak, genangan darah dangkal di tanah. Samar-samar aku merasa kesal.
Aku berbalik.
Magenta menatapku dengan keheranan yang tak terlukiskan. “Luar biasa,” katanya lagi. “Itu luar biasa.”
Aku menatapnya, tidak yakin.
"Bagaimana perasaanmu?" dia bertanya.
“Kecewa.” jawabku pendek.
Alisnya menyatu. “Kenapa kecewa?”
Aku melirik Venus. “Karena dia masih hidup. Aku tidak menyelesaikan tugas.”
Magenta tersenyum begitu lebar sehingga wajahnya menggetarkan. Dia terlihat muda. Dia terlihat baik. Dia terlihat luar biasa. Cantik.
"Ya ampun," katanya lembut. "Kau sempurna."
Aku menunduk dalam. Air mataku menggenang tertahan saat kabut menebal menjadikan hanya Magenta satu-satunya yang dapat aku rasakan kehadirannya.
Kami berjalan melalui jalan yang berkelok-kelok. Langkah kaki Magenta begitu teratur di jalan setapak dan berbatu. Sesekali, cahaya yang terlalu terang membuat bayangan mencolok dalam bentuk yang aneh. Aku merasakan kulitku tertusuk-tusuk.
Pikiranku mengembara.
Kilatan tubuh lemah Venus berkobar di benakku, membawa sengatan tajam yang melilit perutku. Aku melawan dorongan untuk muntah, bahkan saat aku merasakan makan siangku yang sedikit keluar dari tenggorokanku. Dengan susah payah, aku memaksanya kembali, pedas dan pahit. Manik-manik keringat di dahiku, menjalar hingga ke bagian belakang leherku.
Tubuhku berteriak untuk berhenti bergerak. Paru-paruku ingin mengembang, mengumpulkan udara. Aku tidak mengizinkan keduanya.
Aku memaksakan diri untuk terus berjalan.
Aku menghapus gambar-gambar itu, menghilangkan Venus dari pikiranku. Perutku yang bergolak mulai melambat, tetapi setelah itu kulitku merasakan sensasi lembap. Ada yang tidak beres dengan perutku. Aku merasa demam. Aku berkedip.
Aku berkedip lagi, tapi kali ini terlalu lama dan aku melihat kilatan darah, menggelegak di dalam mulut Venus yang terbuka. Mual kembali dengan kecepatan yang membuatku takut. Aku menarik napas, jari-jariku bergetar, putus asa untuk menekan perutku. Entah bagaimana, aku tetap stabil. Aku tetap membuka mataku, melebarkannya sampai ke titik kesakitan. Jantungku mulai berdebar. Aku berusaha mati-matian untuk mempertahankan kendali atas pikiranku yang berputar-putar, kulitku mulai merinding. Aku mengepalkan tinjuku. Tidak ada yang membantu. Tidak ada yang membantu. Tidak ada, aku pikir.
tidak ada.
Aku mulai menghitung jariku.. Aku menghitung napasku. Aku menghitung langkah kakiku, mengukur kekuatan setiap langkah kaki yang bergemuruh di kakiku, bergema di sekitar pinggulku.
Aku ingat bahwa Venus masih hidup. Venus baik-baik saja, bersama Marbella. Bercengkrama di bawah pohon besar.
Magenta hanya mengujiku, aku sadar. Mengujiku, sekali lagi, untuk memastikan bahwa aku mampu untuk patuh padanya dan hanya dia.
Aku menarik napas dalam-dalam dan menguatkan.
Aku fokus pada sosok Magenta yang terus melangkah di depanku. Untuk alasan yang tidak bisa kujelaskan, menatapnya memantapkanku. Memperlambat denyut nadiku. Menenangkan perutku. Dan dari sudut pandang ini, aku tidak bisa tidak mengagumi cara dia bergerak. Dia memiliki tubuh yang mengesankan, bahu lebar, pinggang sempit, kaki yang kuat dan mungkin aku sangat mengagumi cara dia membawa diri. Dia memiliki langkah percaya diri. Dia berjalan tinggi, dengan efisiensi yang halus dan mudah. Saat aku memperhatikannya, perasaan yang akrab mengalir dalam diriku. Itu berkumpul di perutku, memicu panas redup yang mengirimkan kejutan singkat ke hatiku.
Aku tidak melawannya.
Ada sesuatu tentang dia. Sesuatu tentang wajahnya. Aku menemukan diriku bergerak secara tidak sadar lebih dekat dengannya, mengawasinya hampir terlalu saksama. Aku memperhatikan dia tidak memakai perhiasan, bahkan daun telinganya kosong. Rambut, ada siluet perak, yang hanya terlihat dari dekat. Matanya berwarna biru kehijauan dari perairan pirus yang dangkal. Tidak biasa. Aquamarine.
Aku sadar aku mulai menyukainya. Percaya padanya hampir seperti aku mempercayai Marbella.
Tiba-tiba, Magenta berhenti.
Aku merasakan pergelangan tanganku sendiri bergetar. Aku melihat ke bawah, terkejut, pada cahaya biru yang menembus kulit di denyut nadiku.
Perasaan seperti seseorang sedang memanggilku. Ini aneh.
Magenta berdiri tepat di sampingku. Aku menatapnya dengan pandangan bertanya.
Dia menoleh, alisnya terangkat seolah mengatakan— Ya? Dan sesuatu yang terasa seperti kelegaan berkembang menjadi hidup di dalam diriku.
Aku mengangkat pergelangan tanganku untuk menunjukkan padanya. Dia mengerutkan kening.
Dia melangkah lebih dekat ke arahku, mengambil lenganku di tangannya. Ujung jarinya menekan kulitku saat dia dengan lembut membengkokkan persendiannya, matanya menyipit saat dia mempelajari itu. Aku diam secara tidak wajar. Dia mengeluarkan suara kesal dan menghembuskan napas, napasnya berhembus di kulitku.
Seberkas sensasi bergerak melalui diriku.
Dia masih memegang lenganku ketika dia berbicara ke pergelangan tangannya sendiri. “Hentikan, Maya" Desisnya.
Aku terkesiap dalam kesunyian.
Maya?
Tanpa sadar jari-jarinya melingkari pergelangan tanganku. Aku terkejut, dan dia berbalik, mata kami bertemu, bentrok.
Magenta mengernyit.
Aromanya yang menyenangkan memenuhi kepalaku dan aku menghirupnya hampir tanpa sengaja. Menjadi sedekat ini dengannya itu sulit. Aneh. Kepalaku berenang dengan kebingungan.
Gambar-gambar rusak membanjiri pikiranku, kilasan rambut keemasan, jemari menyentuh kulit telanjang dan kemudian rasa mual. Pusing.
Itu hampir membuatku pingsan.
Aku memalingkan muka saat Magenta menarik lenganku ke atas, ke arah udara menyipitkan mata untuk melihat lebih baik. Tubuh kami hampir bersentuhan, dan aku tiba-tiba begitu dekat sehingga aku bisa melihat sebuah garis, gelap dan melengkung, merayap di tepi tulang selangkanya.