
*******
Detik dibangun. Menit berlalu.
Tidak ada apa-apa.
Detak jantungku yang cepat melambat menjadi gagap ketakutan yang menyakitkan. Aku sudah kehilangan perspektif, waktuku seperti dibelokkan dalam kegelapan, aku tidak diperkenankan tidur entah sudah berapa hari. Aku bersumpah rasanya kita sudah terlalu lama berada di sini. Di ruang dimensi. Meski aku tidak mengeluarkan keluhanku yang tidak perlu dan membiarkan Marbella mengkhawatirkanku.
"Ada yang salah," kata Marbella tiba-tiba.
Aku mendengar tarikan napas tajam dari Marbella.
Moonflower berkata dengan lembut, "Mungkin kita salah perhitungan."
"Tidak," seru Marbella.
Saat itulah kami mendengar teriakan.
Kami berlari, meluncur ke arah suara, hampir melewati pagar halaman belakang. Marbella bereaksi tidak biasa, pergelangan kakiku bergerak saat kakiku tersandung pada akar yang tumbuh terlalu besar, langkah cepat kami mendorong diri kami ke dalam kegelapan dengan kekuatan kepanikan yang murni. Pagar mencair, jalanan melebar, rumah menjauh.
Isak tangis mengoyak langit. Tangisan keras bergema di kejauhan. Suara tidak jelas, erangan serak, merinding naik di sepanjang kulit yang melapisi dagingku. Kami seperti berlari menuju kematian.
"Tidak!..." Marbella berseru panik. Meraih tanganku keras, menyeretku mundur. "Tidak," katanya lagi.
"Aku—aku bercahaya." terkejut tak percaya.
Aku memancarkan cahaya halus di atas tanganku hingga ke lengan.
Kami melambat. Marbella menggenggam tanganku semakin keras. "Moon... Bawa dia masuk!" perintah Marbella tanpa ingin dibantah.
Moonflower mengangguk, menyambar tubuhku dalam wujud burung hitam. Ia melesat lebih cepat dari angin, namun kecepatan Moonflower seolah tak berarti, rumah terus menjauh, kami tidak dapat mencapainya. Waktu tampaknya berkembang, retak terpisah saat tubuhku melayang dalam genggaman cakar burung Moonflower.
Kami melintasi Jiso dan pasukannya yang mengambil jalan memutar. Aku berharap mereka datang langsung ke tempat Marbella, langsung menuju Marbella.
BUGH..!!
Suara benturan keras. Sesuatu menabrak Moonflower. Sesuatu yang tidak dapat aku lihat.
BUGH..!!
Sekali lagi.
Moonflower terpelanting. Sesuatu yang tumpul memukulku dengan kekuatan, membuatku tercengang, membuatku terlempar ke samping. Aku tersungkur di tanah. Aku bisa merasakan pikiranku terputus, mengancam ketidaksadaran, dan entah bagaimana aku memaksa diriku untuk tidak pingsan karena ngeri. Teror.
Aku tetap membuka mata.
Moonflower berlutut dalam wujud manusia, memegangi lengannya berdarah di dekat dadanya.
Kembali terdengar tangisan tersiksa yang menusuk di tengah malam yang aneh. Aku menatap udara gelap, mencerna pada apa yang sedang terjadi. Moonflower telah berdiri di sampingku, tubuhnya tampak lemah. Aku mendengar isak tangisnya yang setengah tersedak. "Tanganmu patah?"
Moonflower tidak menjawab. Jiso berlari seorang diri ke arah kami. Ia mengatakan pasukan hitam mungkin melakukan ini. Moonflower berhenti terisak. "Aku tahu," ucapnya.
"Marbella?" Seruku pada Jiso.
" Kami bersamanya, pergilah..!" jawab Jiso.
Udara menjadi hitam dan biru, angin tidak bertiup tapi segalanya tampak bergerak. Entah bagaimana aku masih tidak bisa mempercayai mataku. Aku sangat ingin ini menjadi mimpi buruk. Tapi kenyataan tetap ada.
Moonflower tergeletak di kasur, sesuatu yang keras tampak menonjol dari dalam dan menembus kulitnya. Aku mendekatinya perlahan. Tanganku terulur untuk menyentuh bagian itu. Tapi Moonflower dengan cepat menahan tanganku. "Jangan," ucapnya.
"Aku dapat menyembuhkan diriku sendiri, menjauhlah tapi jangan kemana-mana," pintanya.
Aku mengambil jarak dari tempat Moonflower terbaring. Ia tidak bergerak, tapi tulang itu, berderak dan kembali mengisi tempat yang semestinya. Aku bergidik ngeri.
Luka pada lengan Moonflower tidak serta merta pulih seperti perkiraanku. Itu tetap ada dan menganga. Moonflower memintaku membantunya untuk mengobati dan membalut lukanya. Ia sudah duduk di kasur dengan tenang saat aku kembali dari ruangan lain.
"James akan menjagamu, jangan meninggalkan rumah ini... Maksudku, jangan keluar dari pintu itu satu langkah pun," jelasnya.
Aku belum sempat memberikan jawabanku saat tubuh Moonflower berubah menjadi asap dan melewati dinding begitu saja hanya meninggalkan suara kepakan sayapnya yang terdengar jelas.
James telah berdiri di kasur saat aku berbalik. Ia menatapku lekat. "Kau tadi benar-benar bercahaya."
Aku terkejut. Aku telah melupakan itu. Kembali menatap kedua tanganku, tidak ada apa-apa di sana. "Kau melihatnya?"
"Ya, kau masih cukup bercahaya saat Moonflower mendarat di sini," James menunjuk ke arah kasur di bawah kakinya.
"Sejak kapan kau di sini?" Tanyaku heran.
"Sejak kalian sampai," balasnya.
"Ambil ini, Mars!" James menyodorkan sebuah baja berat ke genggaman tanganku.
"Pistol?"
James mengangguk. "Gunakan hanya dalam keadaan mendesak, kau bukan seorang ahli."
"Kau dapat menyimpannya di sini," James menyerahkan sebuah tas kulit kecil dengan tali panjang. Aku menerimanya. Memasukkan benda itu ke dalam tas dan menaruhnya di meja.
Aku teringat Marbella. Aku berjalan tergesa menuju jendela dan diikuti James. Pandanganku seolah menjadi teramat jernih. Dari tempatku berdiri, aku menghitung enam tikus, mati. Mata mereka terbuka, mulut ternganga, darah segar masih menetes ke tubuh lemah mereka. Jae berlutut, memuntahkan darah segar. Jimmy tersandung ke belakang, menabrak pohon. Saat sesuatu yang gelap menerjang tubuh tikus muda itu, Jiso menariknya ke sisi yang lain, ia selamat. Beberapa tikus dalam posisi waspada dan siap bertarung. Tapi dimana kakakku? Ada sesuatu tentang kesadaran itu yang membuat hatiku takut.
"Mundur, Mars," suara James memecah perhatianku.
Aku menoleh sebentar lalu kembali ke jendela. James menarik sisi celanaku dengan tarikan yang kuat. Aku menatapnya sesaat, lalu memutuskan untuk mengikutinya untuk bergerak menuju kursi.
"Tetap di sini, kita hanya perlu tetap di sini. Begitulah caranya jika kau ingin membantu mereka," tutur James.
Aku terdiam. Suasana hening diantara aku dan James berlangsung beberapa saat sampai aku kembali bertanya.
"Eh, dimana Maria?" Aku teringat gadis itu.
"Dia tidak di sini," jawab James.
Aku memberinya tatapan bertanya. "Gadis itu menghilang saat tidak ada siapapun yang menjaganya. Marbella hanya berpesan jika itu terjadi aku harus menjagamu agar tetap di sini."
"Jadi Marbi telah memprediksi hari ini," gumamku.
Ah, aku kembali terlambat beberapa langkah. Sekeras apapun aku berusaha aku tetap terlambat. Untuk menjaganya.
Suara langkah di luar, aku spontan bergerak ke jendela.
Marbella, Moonflower, Jiso, Sam yang memapah Jimmy diikuti sisa-sisa pasukan tikus. Mereka berjalan dengan tenang melewati rerumputan, wajah serius. Aku tidak tahu apa yang telah mereka lihat dan alami diluar dari apa yang telah aku saksikan. Mereka telah menjadi bagian dari apa yang baru saja terjadi, pertempuran sungguhan yang sebelumnya hanya menjadi permainan kecil kami. Jantungku berdebar menunggu mereka berada di balik pintu ini, dimana aku berdiri.