
*******
Tuan Jhonatan melompat dari tempat tidurnya segera ketika kepala pelayan menyampaikan bahwa ada seorang utusan yang tengah menunggu dan perlu berbicara dengannya segera. Ia telah terbiasa dengan kehadiran tamu di sembarang waktu. Untuk membersihkan diri dan berpakaian dengan benar ia tidak membutuhkan bantuan jasa pelayannya sama sekali. Terutama sejak kehilangan istri tercintanya, Sary.
Tuan Jhonatan berjalan tergesa menuruni tangga dan mulai memperlambat langkahnya mendekati ruang pertemuan dimana seseorang telah menunggu beberapa menit lamanya.
"Halo, selamat pagi, Pak!" Sapa seorang pria yang memakai seragam kerajaan.
Setelah pria itu membungkuk, ia menyerahkan sebuah surat. Tuan Jhonatan memperhatikan stempel segel yang terdapat pada bagian depan surat. Tuan Jhonatan membuka surat itu dan membacanya tanpa bersuara. Raut wajahnya berubah, tangannya bertumpu pada meja dan perlahan mendudukkan tubuhnya di kursi.
Utusan itu tampak khawatir dan bertanya apa walikota baik-baik saja, tuan Jhonatan tidak dapat menjawabnya dengan tepat membuat utusan itu menduga-duga. Tuan Jhonatan menawari utusan itu untuk sarapan bersama mengingat hari masih sangat pagi tapi ia menolak dengan sopan dan mengatakan bahwa ia harus segera kembali ke kerajaan.
Setelah melepas kepergian sang utusan, Tuan Jhonatan terduduk lesu di kursinya, wajahnya memperlihatkan bahwa ia dalam kesulitan.
*******
Aku mulai membuka buku yang diberikan Marbella dan membaca perlahan.
Matahari bergerak ke barat. Aku telah membaca tulisan dalam buku ini lebih dari sejam dalam kata-kata yang rumit dan aku merasa semakin sulit untuk berpikir. Dibutuhkan waktu yang lama untuk memadukan pikiran. Bahkan aku butuh waktu lama untuk menggerakkan tanganku. Untuk mengangkat kepalaku. Untuk melihat-lihat. Pada saat aku berhasil membuka mulutku, tidak ada suara yang keluar dari sana. Aku mencobanya berulang kali, mencoba berteriak memanggil Marbella dan Maria, tapi tidak membuahkan hasil. Aku didera rasa panik.
Berlari tergesa menuju tenda Marbella dan Maria, kosong.
Aku menarik napas dalam dan mencoba untuk tetap tenang. Kembali ke bawah pohon, membuka buku itu lagi untuk mencari-cari sesuatu. Aku meraba setiap hurufnya dengan jari, membaca dengan teliti setiap kalimat yang ada, mencoba mengulang-ulang bacaan pada bagian yang terasa mengganjal. Tapi, suaraku tidak kembali. Aku terduduk pasrah.
Saat matahari sepenuhnya tergelincir di barat, terdengar samar-samar suara Marbella dan Maria yang berjalan menuju tenda, aku segera menyusul mereka.
"Marbi!" Aku berharap Marbella dapat mendengar itu, tapi tampaknya tidak.
Menyadari kehadiranku keduanya melambai.
"Hai, Mars!" Sapa Maria.
"Maria." Aku berusaha memanggil namanya. Suaraku!
Seketika wajah Maria menjadi pucat, ia memegangi lehernya sendiri dan mulutnya terbuka seolah berusaha menangkap udara sebanyak mungkin.
Marbella meletakkan keranjang yang ia pegang dan memapah Maria untuk bersegera ke tenda. Terlihat wajah Maria semakin memutih dan tubuhnya mengejang. Aku bertanya dengan panik, apa yang terjadi? namun tidak ada satu suara pun yang meluncur dari mulutku.
Marbella meraih tanganku dengan tangannya yang gemetar.
"Mars," Marbella membantu menggerakkan tanganku untuk menyentuh Maria.
"Berpikirlah untuk menyelamatkannya, Mars," ucapnya.
Aku berusaha memahami ucapan Marbella. Tanganku bergetar di puncak kepala Maria.
"Tenanglah, Maria." Kalimat itu mengalir dari mulutku. Aku menatap Marbella heran.
Sebuah tarikan napas panjang dan kasar terdengar dari mulut Maria, secara perlahan wajah Maria bersemu merah, ia kembali bernapas dengan baik. Ia terbatuk.
Marbella membantunya duduk dan aku bersegera mengambil segelas air untuknya.
"Minumlah," aku menyodorkan gelas yang telah terisi.
Maria meminumnya.
"Sangat sakit, rasanya seperti mengalami hipoksemia yang sangat buruk," jawab Maria sembari memberi pijatan ringan pada dadanya sendiri.
[Hipoksemia adalah kondisi di mana kadar oksigen di dalam darah turun dan berada di bawah batas normal.]
"Hmm.. kau memulainya dengan baik, Mars," Marbella menepuk bahuku.
Aku menatap Marbella dan Maria bergantian.
"Ayo, makan malam!" Ajak Maria.
Ia terlihat telah pulih sepenuhnya, wajahnya kembali dihiasi senyum ceria seolah tidak terjadi apa-apa.
Aku tersenyum singkat, dan memohon izin untuk membersihkan diri sejenak sebelum bergabung untuk makan malam.
"Apa yang terjadi, Marbi?" tanyaku saat makan malam.
"Kau sedang mempelajari hal baru, Mars, aku dan Maria akan menemanimu untuk latihan esok hari."
"Apa tenggorokanmu terasa tidak nyaman?" Tanyanya.
"Sedikit," aku beralih menatap Maria.
Maria hanya tersenyum lalu kembali asik menghabiskan makan malamnya.
"Berapa banyak yang sudah kau hapalkan?" tanya Marbella kembali.
"Baru beberapa halaman terdepan saja, kalimatnya rumit dan sulit, juga membuatku bisu dan...., lumpuh sesaat," jawabku mengingat-ingat."
"Pada awalnya akan menyakitkan sampai kau benar-benar menguasainya," Marbella tersenyum miring.
"Bagaimana dengan Maria?" aku kembali menatap gadis yang tengah sibuk menyimpan sisa makan malam kami.
"Akan lebih menyakitkan untuk dia, tapi dia tidak akan berkeberatan," balas Marbella.
"Kau telah melakukan sesuatu padanya," tebakku.
Marbella tertawa pelan. "Ada harga untuk setiap transaksi, sayang."
"Malam ini, apa kita akan melakukan sesuatu?" aku membuntuti Marbella yang berjalan menuju pohon besar.
"Menikmati malam," ucapnya.
Lalu berjinjit, mengangkat tangannya dan berseru memanggil Maria. "Kemarilah!"
Maria berlari kecil kearah kami.
Sekeranjang jagung yang telah direbus ada di tangannya.
"Aku akan membawa sedikit air untuk kita," aku berlari menuju tenda.
"Dan selimut," Marbella menunjukkan tiga jarinya.
"Baik, Tuan Putri," aku membungkuk lalu kembali berlari.