LUCEM

LUCEM
Chapter XLVIII



********


Aku bermimpi bahkan ketika aku bangun, memimpikan bibir merah dan jari-jari ramping, memimpikan tubuh seorang gadis di dekapanku, memimpikan mata, ratusan mata, aku memimpikan udara dan kemarahan dan kematian.


Aku memimpikan mimpi Maria. "Maria!?"


Dia disini.


Dia menjadi diam begitu dia menetap di sini, dalam pikiranku. Dia diam, mundur. Bersembunyi dariku, dari dunia. Aku merasa berat dengan kehadirannya tetapi dia tidak berbicara, dia hanya membusuk, pikirannya membusuk perlahan, meninggalkan kompos di belakangnya. Lalu kembali terlihat dalam dekapanku.


"Maria, apa ini semua?" Tanyaku.


Maria memalingkan wajahnya ke sisi lain. Aku kembali memanggilnya, namanya, lagi... lagi, Maria. Kembali bertanya.


Dia hanya menyembunyikan wajahnya di dadaku. Menolak semua sentuhanku, menolak untuk menjawab pertanyaanku.


Aku berat dengan itu, berat dengan penolakannya. Aku tidak mampu menanggung beban ini, tidak peduli seberapa kuat aku berusaha, aku tidak mampu, tidak kompatibel. Aku tidak cukup untuk menahan pikiran kita, digabungkan. Kekuatan mimpi Maria terlalu besar. Aku tenggelam di dalamnya, aku tenggelam di dalamnya, aku terkesiap ketika kepalaku membentur dinding kamar lagi. Kasur ini terlalu menempel ke dinding.


Aku menarik udara ke paru-paruku, memohon agar mataku terbuka dan mereka tertawa. Mata menertawakan paru-paru yang terengah-engah karena rasa sakit yang memantul ke tulang belakangku.


Aku teringat kembali. "Maria?"


"Mars," panggilan dari suara Maria. Ia menuntunku, menggerakkan sendi-sendi di tubuhku. Ia ingin kami berjalan-jalan menyusuri sebuah taman.


Taman ini indah dan luas sekali. "Dimana kita?"


Maria kembali diam, menjadi berat dan dingin.


Ada seorang anak laki-laki.


Bukan salah satu dari anak laki-laki biasa. Ini anak baru, anak laki-laki yang belum pernah kutemui sebelumnya. Aku berjalan mendekat. Dia membuat langkah mundur dengan perlahan. Aku berdiri diam di sampingnya.


Aku tahu, hanya dengan berdiri di sampingnya, dia ketakutan. Kami berdiri di taman besar dan luas yang dipenuhi pepohonan. Kami menatap burung-burung putih, burung-burung dengan garis-garis kuning dan mahkota di kepala mereka. Anak laki-laki itu menatap burung-burung seolah dia belum pernah melihat yang seperti mereka. Dia menatap semuanya dengan terkejut. Atau takut. Atau khawatir. Itu membuatku sadar bahwa dia tidak tahu bagaimana menyembunyikan emosinya.


Setiap kali aku menatapnya, dia menghela napas. Setiap kali aku melihatnya, dia menjadi merah padam. Setiap kali ibunya berbicara dengannya, dia gagap. "Ibunya!!?"


Seorang wanita dengan pakaian yang tampak anggun berdiri di samping anak itu.


"Bagaimana menurutmu?" Ibunya bertanya padaku. Dia mencoba berbisik, tetapi taman ini sangat besar sehingga suaranya menjadi lebih lirih dari seharusnya.


Ibunya memiringkan kepalanya ke arah anak laki-laki itu. Mempelajari dia. "Usiamu..., enam tahun sekarang?" Tapi dia tidak menunggu anak itu untuk menjawab. Ibu itu hanya menggelengkan kepalanya dan menghela nafas. "Apakah benar-benar selama itu?"


Aku menatap anak itu. Aku meliriknya, pada anak laki-laki yang berdiri di sampingku, dan melihat dia menegang. Air mata mengalir di matanya, dan itu menyakitkan untuk dilihat. Itu sangat menyakitkan.


"Aku sangat membenci Tuan Grimo. Aku tidak tahu kenapa Ibu menyukainya. Aku tidak tahu mengapa ada orang yang menyukainya. Tuan itu adalah orang yang mengerikan, dan dia menyakiti Jhonatan sepanjang waktu." Ucapnya berurai air mata.


Sekarang aku memikirkannya, ada sesuatu tentang anak ini yang mengingatkanku pada Maria. Sesuatu tentang matanya.


"Hei," bisikku, dan berbalik menghadapnya.


"Hei," aku mencoba lagi. “Aku Mars. Siapa namamu?"


Anak laki-laki itu mendongak, lalu. Matanya berwarna coklat tua yang dalam. Dia anak laki-laki paling menyedihkan yang pernah aku temui, dan itu membuatku sedih hanya dengan melihatnya.


"Saya A-Adam," katanya pelan. Matanya memerah.


Aku mengambil tangan kecilnya. Tersenyum padanya. “Kita akan menjadi teman, oke? Jangan khawatir tentang Tuan itu. Tidak akan ada yang menyukainya jika dia jahat pada kita semua. Aku janji.” Aku mengangkat dua jariku.


Adam tertawa, tapi matanya masih merah. Tangannya gemetar di tanganku, tapi dia tidak melepaskannya.


"Aku tidak tahu," bisiknya. “Aku hanya tahu dia sangat jahat padaku dan Jhonatan.”


Aku meremas tangannya. "Jangan khawatir," kataku. "Aku akan melindungimu."


Adam tersenyum padaku kemudian. Senyum yang nyata. Tetapi ketika kami akhirnya melihat ke atas, mendongakkan kepala kami, Tuan itu sedang menatap kami.


Dia terlihat marah.


Ada serangga yang berdengung di dalam diriku, kumpulan suara yang menghabiskan pikiran, melahap percakapan.


Serangga menyebalkan, mereka berebut untuk membuat suara, suara menyebalkan dalam diriku, dalam kepalaku.


"Kami adalah lalat!! Berkumpul, berkerumun, mata yang melotot dan tulang rapuh yang beterbangan gugup menuju takdir yang dibayangkan. Kami melemparkan tubuh kami ke jendela-jendela yang menggoda, merindukan dunia yang dijanjikan di sisi lain. Hari demi hari kami menyeret sayap, mata, dan organ yang terluka di sekitar empat dinding yang sama, terbuka atau tertutup, pintu keluar menghindari kami.


Kami berharap diselamatkan oleh angin sepoi-sepoi, berharap mendapat kesempatan untuk melihat matahari."


"Puluhan tahun berlalu. Berabad-abad menumpuk bersama.


Tubuh kami yang memar masih meluncur di udara. Kami terus melemparkan diri pada janji-janji. Ada kegilaan dalam pengulangan, dalam pengulangan, dalam pengulangan yang menggarisbawahi hidup kami. Hanya dalam detik-detik putus asa sebelum kematian kami menyadari bahwa jendela tempat kami membenturkan tubuh kami ternyata hanyalah cermin, ...selama ini."


"Berhenti... berhenti... berhenti" aku memohon lirih. Suara mereka menyakiti pendengaran ku, menyakiti..., perasaanku? Ada apa dengan perasaanku? Apa yang yang menyakitinya?


Seketika sunyi datang, mengheningkan semua suara. Serangga-serangga mengecil, sayap-sayap mereka tidak mengepak lagi. Perlahan mereka berhenti berdengung, berhenti bergumam, berhenti berbicara. Ruangan menjadi senyap. Tapi, perasaanku tidak membaik. Serangga-serangga telah menghilang. Dan aku kesepian. Aku kehilangan.


"Maria?... Maria!?"


Dimana Maria?


Aku membuka pelukanku.


Aku memeriksa kiri dan kanan.


Bawah? Atas? Maria tidak mungkin di sana. Tapi aku memeriksanya entah untuk apa.


"Mars..."


*******