
"Apa yang kamu lakukan di sini?"
Aku berputar, mengangkat pistol, dan membidik ke arah suara itu. Aku menurunkan senjataku ketika aku melihat wajah Lusio. Dan bersegera menyimpan senjata itu kebalik pinggangku. Dalam sekejap, panas yang meresap keluar dari kepalaku.
Pikiranku dikembalikan kepadaku.
Pikiranku, namaku, kehadiranku, tempatku—perilakuku yang menerobos masuk, memalukan dan sembrono. Kekhawatiran dan kengerian membanjiri diriku, mewarnai wajahku. Bagaimana aku menjelaskan apa yang aku tidak mengerti?
Pandangan kami bertemu. Wajah Lusio tetap membatu.
"Tuan," kataku cepat. “Wanita muda ini adalah putri dari Magenta dan Venus. Aku tidak benar-benar berniat memasuki ruangan ini, tapi— aku merasa terdorong untuk membantunya.”
Lusio hanya menatapku. Untuk beberapa saat ia hanya menatapku tanpa bersuara atau bergerak.
Akhirnya, dia berkata, "Bagaimana kau tahu bahwa gadis ini adalah putri dari Magenta dan Venus?"
Aku menggelengkan kepala. “Tuan, ada. . . semacam penglihatan. Berdiri di lorong. Dia memberi tahuku bahwa dia adalah Anna, dan dia membutuhkan bantuan. Dia tahu namaku. Dia memberitahuku ke mana harus pergi.”
Lusio mengembuskan napas, bahunya melepaskan ketegangan yang ia tahan. "Ini bukan putri dari Magenta dan Venus" katanya pelan. "Kau telah disesatkan oleh pemikiran dan kegagalan latihanmu sebelumnya."
Pria ini mengetahui pelatihanku, mengejutkan. Apakah Magenta menceritakan segalanya pada pria ini?
Lusio menarik napas. Menampilkan raut kecewa.
“Maafkan aku, Tuan Lusio. Aku pikir— aku pikir aku telah terlalu ikut campur.” Aku bergerak, memulai langkah untuk mencari pintu keluar.
"Tunggu," katanya.
Aku mematung di tempat. Menunggu apa yang akan ia katakan selanjutnya.
Lusio berjalan kehadapanku, menatap mataku lagi. "Tentu saja."
"Dan?" dia berkata. "Apa yang kau pikirkan?"
Lusio menunjuk ke garis silinder kaca, ke sosok yang ditampilkan di dalamnya.
"Aku pikir itu tampilan yang indah, Tuan Lusio." jawabku.
Lusio hampir tersenyum. Dia mengambil langkah lebih dekat, mempelajariku. “Tampilan yang indah, memang.”
Aku menelan ludah.
Suaranya berubah, menjadi lebih bersahabat. "Kau tidak akan pernah mengkhianati kita, bukan, Mars?"
“Tidak, tidak akan,” kataku cepat.
"Katakan sesuatu padaku," katanya, mengangkat tangannya ke wajahku. Punggung buku-buku jarinya menyentuh pipiku, menelusuri garis rahangku"
Jantungku bergemuruh di dadaku. Apa yang pria ini lakukan, apa yang ia inginkan? Tidak dapat dia berbicara dengan jarak yang cukup?
"Maukah kau melakukan sesuatu untukku?" Ucapnya.
"Katakan, apa yang bisa aku lakukan untuk Anda." aku bergegas berharap percakapan diantara kami segera usai dan aku dapat pergi meninggalkan ruangan yang menyesakkan ini.
Aku menundukkan pandanganku.
"Apakah kau lupa," katanya, "bahwa kau adalah tamu?"
"Tidak sama sekali." Jawabku pelan.
"Pembohong!" teriaknya.
Suaranya bergema. Jantungku melompat ke tenggorokanku. Aku kembali menelan ludah. Tidak mengatakan apa-apa.
"Aku akan bertanya padamu sekali lagi," katanya, menatap mataku. "Apakah kau lupa bahwa kau adalah tamu?"
"Y-ya, maafkan aku."
Matanya berkilat. “Haruskah aku mengingatkanmu, Mars? Haruskah aku mengingatkanmu bahwa pintu yang tidak terbuka dan seseorang tidak mengundangmu masuk adalah terlarang untuk kau masuki."
"Ya, maafkan aku," kataku lagi, tapi aku terdengar bernapas dengan cepat. Aku merasa sakit karena ketakutan. Panas. Panas menusuk kulitku. Perdebatan kilat di kepalaku, siapa pria ini bagi Magenta, mengapa aku merasa dia sedang bertingkah seolah dialah tuan dari rumah ini. Bukankah itu seharusnya Magenta?
Sedetik kemudian aku melihat ia mengambil pisau dari dalam saku jaketnya. Dengan hati-hati, dia membuka lipatannya, logamnya berkilauan dalam cahaya neon.
Dia menekan gagangnya ke tangan kananku. Meletakkannya di sana sehingga aku dengan terpaksa menggenggam gagang pisau itu.
Lalu dia mengambil tangan kiriku dan menjelajahinya dengan kedua tangannya, menelusuri garis telapak tanganku dan bentuk jari-jariku, jahitan buku-buku jariku. Sensasi berputar dalam diriku, pijatan lembut dan mengerikan. Menekan di tempat yang tepat.
Kemudian dia menekan jari telunjukku dengan ringan. Dia kembali menatap mataku.
"Yang ini," katanya. "Berikan padaku."
"Potong itu. Letakkan di tanganku. Dan semuanya akan diampuni.”
Aku menatapnya tidak percaya. Berusaha menjernihkan isi kepalaku sendiri Apa yang baru saja ia katakan, apa yang baru saja ia minta untuk aku lakukan. Siapa pria ini, siapa Lusio sehingga ia bahkan menuntutku pada apa yang tidak benar-benar aku mengerti? Hanya dugaan tidak ada jawaban pasti yang dapat aku tangkap segera.
Sementara aku mencerna situasi, pria itu mengangkat tanganku. Aneh, tidak ada penolakan yang dapat aku lakukan. Lalu secara perlahan ia meraih gagang pisau dalam genggamanku. Pisau itu kini beralih padanya. Sebuah senyuman kecil tertangkap di wajahnya. Aku berkedip.
Dengan tangan gemetar, ia menekan pisau ke kulit lembut di pangkal jariku. Bilahnya sangat tajam sehingga langsung menembus daging di sana, dan suara tangis ku tertahan di tenggoranku saat ia menekannya lebih dalam, ragu-ragu hanya ketika ia merasakan penolakan dariku. Pisau melawan tulang. Rasa sakit menjadi meledak di sana, membutakan pandanganku.
Aku jatuh dengan satu lutut di lantai. Ia masih memegang tanganku.
Ada darah di mana-mana. Aku melihat darah mengalir deras dari tanganku. Perasaan berputar menyerang kepalaku.
Napasku memburu sehingga aku tersengal, berusaha mati-matian untuk tidak muntah karena rasa sakit atau kengerian. Aku mengatupkan gigiku begitu keras sehingga mengirimkan kejutan rasa sakit baru ke atas, langsung ke otakku, dan gangguan itu sangat membantu. Aku harus menekankan tanganku yang berlumuran darah ke lantai yang kotor agar tetap stabil, tetapi dengan satu tangisan terakhir yang putus asa, aku memaki pria itu, meneriakkan nama kakakku. Berteriak dan berharap seseorang akan datang dan mengakhiri semua kegilaan ini.
Pria itu menyeringai, matanya terbelalak seolah dia tidak menyangka pada apa yang telah ia lakukan pada tanganku.
Pandanganku kabur dipenuhi air mata yang menggenang tertahan.
Pisau itu jatuh dari tangannya yang gemetar, bergemerincing ke lantai. Jari telunjukku masih berada di tanganku dengan daging terkoyak, dan aku menutupnya dengan gerakan cepat dan keras. Tubuhku gemetar sangat hebat sehingga aku hampir tidak bisa berdiri, dengan sisa tenaga yang ada aku kembali meneriakkan nama Marbella sebelum ambruk ke lantai.
"Anak baik," katanya lembut. "Anak yang baik."
Hanya itu yang aku dengar dia katakan sebelum aku pingsan.