LUCEM

LUCEM
Chapter XXXVI



"Wow!!... Kau benar-benar tahu cara menghabiskan uang, yaa," ucapku sembari sibuk membantu mengangkut hasil berbelanja Maria begitu ia sampai di depan pagar dan turun dari keretanya.


"Tidak begitu banyak, aku berbelanja kebutuhan dapur juga beberapa pakaian dan sedikit yang lainnya," ujar Maria.


Maria memintaku untuk meletakkan semua bungkusan di ruangan terdepan. Marbella dan Moonflower menghampiri dengan bungkusan belanja terakhir yang tersisa dari kereta.


Maria mulai membongkar satu persatu apa yang ia beli, Moonflower dan Marbella turut serta, sementara aku membantu untuk merapikan bahan-bahan makanan menuju dapur dan lemari penyimpanan. Para gadis terlihat bergembira, dan aku cukup untuk terlihat sibuk saja agar tidak terlibat dengan keseruan yang tidak bisa aku mengerti itu.


Sampai akhirnya suara Maria memaksaku terlibat.


".. Mars!" panggilnya.


Perasaanku seketika tidak enak.


"Bisakah kau mendekat, sebentar saja," pinta Maria.


Aku tidak bisa mengelak. Aku melangkah mendekat. "Apa yang bisa aku lakukan untuk kalian?"


"Kami memiliki pakaian kembar, tiga. Maksudku, kami memiliki masing-masing tiga pakaian dan itu kembar tiga untuk kami bertiga. Marbella bilang, besok adalah waktunya untuk perjalanan keluar... dan, pakaian mana menurutmu yang terlihat lebih bagus saat kami gunakan?" Ketiga gadis berpakaian kembar tiba-tiba telah berbaris di hadapanku sekarang, dengan dress berpotongan mini lalu dipadukan dengan cardigan dan stocking. "Umm... kalian terlihat manis dan elegan, tapi...."


"Tapi apa?" Tanya Maria tidak sabar.


"Tapi kemanakah kita akan pergi besok?" tanyaku.


"Keluar menuju kerajaan," balas Moonflower.


Aku mengangkat kedua alisku dan bergumam 'oh'.


"Aku belum pernah melihat kerajaan sebelumnya, tapi aku berpikir itu adalah tempat yang di masuki orang-orang dengan kelas berbeda. Bisakah aku melihat seragam kedua?" pintaku.


"Baiklah," ketiganya dengan semangat berlalu untuk berganti pakaian selanjutnya.


Menunggu sekitar lima menit atau lebih hingga ketiganya kembali.


"Bagaimana?" Maria berputar dua kali, dua setengah lebih tepatnya.


Mereka berjalan mondar-mandir dan melakukan beberapa pose di hadapanku, seperti sekelompok wanita yang biasa ada di sampul majalah yang sering aku temukan di meja sudut di ruang tamu Moonflower.


"Aku tidak ingat Marbi bisa melakukan itu, juga" pikirku sambil menatap langit-langit dan menemukan beberapa jaring laba-laba tak berpenghuni di sana. "Kemana semua laba-laba itu pergi?"


"Mars.... Mars. ... kau masih di sini? tanya Maria tepat dari bawah daguku.


"Tuan Jhonatan, apakah Anda benar-benar harus ke sana? Aku takut Anda tidak akan kembali lagi, seperti nyonya," ucap pelayan dengan nada sedih dalam suaranya.


"Berapa kali aku kalah karena takut kalah, berapa kali aku diam karena takut akibatnya, berapa kali aku menjadi bukan aku? Aku rasa... aku harus berhenti menjadi sekedar hidup, Yan," ucap tuan Jhonatan.


Setelah mengenakan kemejanya dengan rapi, tuan Jhonatan melangkah ke luar ruangan meninggalkan pelayannya yang sibuk berkemas untuknya. Ia memiliki janji temu dengan seseorang sebelum nanti ia pergi meninggalkan kota Corado menuju kerajaan.


Tuan Jhonatan memilih untuk mengemudikan mobilnya sendiri kali ini. Melaju diantara keramaian kota Corado, ini adalah kegiatan yang hampir tidak pernah ia lakukan sebelumnya.


Tuan Jhonatan ragu-ragu memutar kemudi sewaktu lampu lalu lintas berubah hijau. Dia harus memutuskan apakah akan kembali ke kediamannya saja atau melanjutkan perjalanan.


Sejujurnya sesuatu yang dahsyat tengah menghantui pikirannya saat ia memaksakan kakinya untuk tetap melangkah memasuki sebuah bangunan.


Tuan Benny memperlihatkan senyuman lebar saat tuan Jhonatan menarik kursi dan duduk di hadapannya, dalam sebuah bar, tempat yang sebenarnya anti untuk tuan Jhonatan kunjungi. Pengecualian untuk hari ini. Lagi pula, ini memberinya kesempatan untuk bersantai sambil minum-minum.


" Jadi apa jawabannya?" tanya tuan Jhonatan.


"Kurasa aku bisa membantumu," jawab tuan Benny.


Kemudian percakapan panjang diantara keduanya terjadi, sesekali tuan Benny tertawa keras. Tuan Jhonatan menimpali sekedarnya.


Dua jam berlalu, keduanya meninggalkan bar menuju kendaraan masing-masing dan tuan Jhonatan berkendara menuju taman kota, mengelilinginya beberapa kali sebelum akhirnya kembali ke kediamannya.


"Aku akan membuat perhitungan denganmu kelak jika kesempatan itu datang."


______________


Pasukan tikus terus berlatih di bawah arahan Jiso. Mereka juga telah berhari-hari secara rutin melumuri tubuh dengan cairan hijau seperti jelly yang akan meresap cepat ke bawah bulu-bulu mereka dan menyatu dengan kulit. Moonflower membuat ramuan itu secara khusus untuk digunakan para tikus, sebagai penangkal katanya.


"Apakah menurutmu ini akan efektif?" tanya seekor tikus pada rekannya.


"Kita akan melihat hasilnya nanti," balas rekannya.


Jimmy tampan bergabung. "Jangan menyelipkan keragu-raguan di hati dan menakut-nakuti diri kalian dengan itu."


"Ucapan yang bagus, Nak," James menepuk pelan pada bahu Jimmy dengan satu tangannya sementara tangan lainnya menyembunyikan setangkai es krim di balik punggungnya, lalu berbalik pergi.


"Mmmmm... lllrruup...llruup... James duduk di bawah bayang-bayang pohon delima yang sedang berbunga menikmati es krim strawberry kesukaannya.