
"Hentikan kegiatan manis kalian dan cepat masuk," perintah Marbella yang telah berdiri di belakang kami. Ia menarik tanganku untuk mengikutinya.
Moonflower berlari kecil menyejajarkan langkahnya dengan Marbella yang berjalan tergesa memasuki rumah. "Aku tidak merasakan kehadiran mereka."
“Bagaimana kamu begitu tidak dapat melihat bagaimana hal-hal ini terhubung? Mereka kembali, sedang mencari kita melalui kita. Lebih tepatnya, mereka mencari Mars. Kita seharusnya tersembunyi, ingat? Sekarang mereka bergerak menuju tempat kita. Itu berarti mereka tahu apa yang terjadi di sini.
"Aku?" Bertanya tapi diabaikan.
Tikus itu, Superman baru saja mengarahkan mereka langsung pada kita,” ucap Marbella. “Entah disengaja atau tidak, para owanna sekarang memiliki perkiraan lokasi kita.”
Moonflower tampak terpukul.
“Artinya?" Tanyaku.
“Mereka lebih dekat untuk menemukan kita sekarang daripada beberapa jam yang lalu.” ucap Moonflower dengan tatapan kosong.
Kami menghentikan langkah di ruang utama di mana pasukan tikus telah berkumpul seluruhnya.
Marbella meminta Moonflower untuk membawakan sesuatu.
Semua orang duduk lebih tegak di kursi mereka. Udara tiba-tiba berbeda, intens dengan cara baru. Jimmy dan Sam bertukar pandang khawatir.
Sam-lah yang berkata, "Kamu benar-benar berpikir mereka tahu di mana kita berada?"
"Aku tahu ini akan terjadi," kata Jimmy, menggelengkan kepalanya.
Superman yang mencuri dengar menjadi kaku. "Maksudnya apa?"
Jimmy marah, tetapi kata-katanya tenang ketika dia berkata: “Kami mengambil risiko besar membiarkanmu tetap di sini. Kami mempertaruhkan mata pencaharian kami dan keselamatan kami sendiri untuk memungkinkanmu berlindung di antara kami. Kau telah bersama kami bagai keluarga, tapi imajinasi liarmu di sini sudah berhasil mengungkapkan lokasi kita kepada musuh.”
Aku terus menyimak percakapan pelan diantara tikus-tikus itu.
"Aku belum mengungkapkan apa pun— Dan apa yang terjadi hari ini bukan salahku—" ucapan Superman terhenti..
Jiso yang tiba-tiba berada diantara mereka mengangkat tangan. "Berhenti," katanya, ia menatap Jimmy, tatapan yang begitu singkat hingga aku hampir melewatkannya.
“Kau kehilangan fokus lagi. Kita tidak pernah ditakdirkan untuk hidup selamanya di kandang dan komunitas buatan sendiri.” tegas Jiso.
"Aku mengerti itu, Pak," kata Jimmy, suaranya yang mantap menyembunyikan kemarahan di matanya. Jiso mengabaikan itu dan meninggalkan pasukan menuju ruangan lain.
Superman kembali membuka suara. “Tetapi jika mereka benar-benar tahu lokasi mana yang harus dicari, maka kita dapat ditemukan dalam hitungan jam atau hari. Perencanaan kembali pasukan bisa kita dapatkan dalam satu jam, jika kita melakukannya.”
"Mereka telah melakukannya," ucap Sam, tampak sama jengkelnya dengan Jimmy.
"Sangat naif, tikus kita ini," kata Marbella, menatap beberapa tikus itu dengan pandangan gelap.
Aku menghela napas. Bagian mana yang membuat kakakku begitu gusar? Aku menatap Superman, meneliti tikus muda yang seolah kehadirannya tidak pernah terlihat selama ini.
Aku beralih menatap James yang bersandar di kursinya. Ketika pandangan kami bertemu James menggelengkan kepalanya.
__________________
Sisi
Lakukan!
TarNow
Sekarang?
Sisi
Nanti saja...
Sisi menghela napas. "Ini sulit."
TarNow
Kau mengeluh, Sisi.
Sisi
Apakah aku begitu?
TarNow
Sisi
Ya, aku hampir saja mengeluh.
TarNow
Ya, itu mirip hampir...
Sisi
Aku akan pergi untuk menghitung mata kadal.
TarNow
Sekarang?
Sisi
Tidak. Mungkin nanti saja setelah aku menghitung butiran garam.
TarNow
Baiklah...., Ayo lakukan itu sambil minum kopi ini.
Sisi
Apa menurutmu hal yang paling menakutkan, TarNow?
TarNow
Untuk kita adalah 'kita'.
Sisi
Heh..., Konyol. Kalau begitu jangan bicarakan 'kita'.
TarNow
Mungkin kematian.
Sisi
Itu hal yang tak terhindarkan bagi yang hidup, terutama manusia.
TarNow
Ya, ada beberapa hal yang tak dapat dihindari manusia.
Sisi
Maksudmu takdir?
TarNow
Takdir itu adalah jawaban dari berbagai upaya yang telah dilakukan manusia, bukankah begitu?
Sisi mengangkat kedua bahunya.
Sisi
Apakah aku pernah mengatakan ini padamu?
Bahwa ada sesuatu yang tak terhindarkan seperti kematian, dan itu adalah kehidupan!
..., dan itulah takdir yang sebenarnya.
TarNow
Rasanya pernah mengetahui kalimat itu sebelumnya, di bab berapa yaa?
TarNow terus mengingat-ingat, sementara Sisi menghirup pekatnya aroma kopi malam buatan TarNow.