LUCEM

LUCEM
Chapter XXX



*****


Nasi sudah tanak, meja makan siap tepat waktu, Maria dan Marbella pun tiba. Aku dan Moonflower melakukan tos tangan, perayaan kecil untuk kerja keras kami selama di dapur tadi.


Maria seperti siap tampil. Wajahnya berseri dan bercahaya. Dia kelihatan seperti roh anggun yang bebas, gadis hippie kota dalam balutan gaun tipis bercorak, dan sepatu bot diatas mata kaki. Sebenarnya, pikirku, Maria tidak mirip seorang tawanan samasekali. Bolehkah aku melontarkan itu?


"Kau menatapnya terlalu lama," Moonflower menyenggol pinggangku dengan sikutnya.


"Baiklah, aku akan mengaduk nasinya atau kita akan membutuhkan pahat nanti,” aku menahan senyum dan berlalu meninggalkan Moonflower.


Selama makan malam, semangat Maria meluap-luap. Dia menyuapkan sesendok besar sup ke dalam mulutnya dan membicarakan hal-hal sepele.


"Apa dia pernah belajar memasak secara khusus?" Tanya Maria pada Marbella.


"Dia memiliki bakat alami," jawab Marbella setelah menimbang-nimbang.


"Aku duduk di sini, kenapa tidak tanya langsung?"


" Oke. Mars, apa kau pernah belajar memasak secara khusus? Maria memiringkan kepalanya ke arahku.


"Aku memiliki bakat alami."


"Tuh, kan?" Marbella tertawa. "Tangannya membawa berkat, apapun akan menjadi baik dalam genggamannya."


"Berapa banyak museum dan pertunjukan seni yang sanggup dilihat pria?" Maria kembali mengajukan pertanyaan padaku.


"Pria seperti apa dulu?" Tanya Marbella.


"Apa kau bermaksud mengajak Mars untuk kencan?" Sela Moonflower.


Pertanyaan yang mengejutkanku. Sedikit. Aku menyendokkan nasi perlahan ke mulut, menunggu jawaban Maria.


"Mars tidak pernah mengenal seorang gadis secara khusus sebelumnya, aku tidak yakin dia memahami arti kata 'kencan'," Marbella berseloroh.


Aku merasa sedikit jengkel. "Pria sejati suka memancing."


Marbella serta-merta terbahak. " Kalau begitu, pergilah ke danau dan memancing di sana selama seminggu penuh! Nanti kami akan meminta bantuan Jiso untuk menangani dapur sementara."


Merasa kesal, aku mengubah topik pembicaraan. "Aku akan keluar setiap hari setelah ini, kemanapun aku ingin."


Marbella berhenti tertawa. "Aku hanya bercanda, Adik."


Makan malam berlanjut dengan celotehan-celotehan ringan tentang hari itu. Marbella terlihat lebih bersemangat dari sebelumnya. Aku merasa tenang.


_________________


Maria menggeser tubuhnya, duduk lebih dekat denganku. Sudah seperti kebiasaan, aku akan berada di halaman setelah makan malam usai dan Maria akan menyusulku sesaat setelahnya.


"Apa yang dikatakan Marbella tadi benar?" Suara Maria membuka obrolan.


Gadis ini pintar dalam memulai percakapan, terasa ringan dan menarik.


"Tentang apa?"


"Tentang kau sebagai pria lugu," Maria tertawa menggoda sembari mengigit lidahnya. Menggemaskan. Wajahku terasa memanas. Aku berdehem untuk menetralkan.


"Aku banyak melihat gadis cantik sebelumnya, tapi itu saat usiaku menjelang lima belas tahun aku rasa, kau tahu aku menempati ruang bawah tanah cukup lama setelahnya," aku memperhatikan Maria sekilas.


Ia terlihat berpikir sejenak. "Aku tidak akan mengatakan bahwa aku sama tidak berpengalamannya sepertimu, sebagai putri walikota, banyak pria yang ingin mengenalku. Pernah ada seorang pria berwajah polos bernama Romi yang seumuran denganku di kota. Anehnya, Romi tahu banyak hal tentang diriku dan ayah. Secara kepribadian kami bagai air dan minyak, kami berada di kutub yang berbeda. Baik secara politis maupun budaya. Aku pernah mengusirnya dengan kasar, tapi dia selalu kembali. Dan pada akhirnya, dia mengaku bahwa ia telah jatuh hati padaku."


"Secara perlahan aku membuka hati untuknya, kami berteman, menjadi akrab dan saling berbagi ciuman dan kebahagiaan," Maria menggigit bibirnya. Aku mengalihkan pandangan pada pepohonan yang terlihat menari ditiup angin malam.


" Kemudian Romi dipindahtugaskan. Dia kembali ke kota kelahirannya, hingga suatu hari seseorang mendatangiku dengan membawa kabar bahwa kedua orang tua Romi telah tiada dalam sebuah peristiwa yang tidak pernah diberitahukan dan juga ia ingin mengakhiri hubungan kami, dan bergabung dalam militer kerajaan," Maria kembali menarik napas panjang.


Aku hanya bisa menyimak dan tidak memiliki apapun untuk menyela atau menghiburnya.


"Kau pasti belum pernah merasakan ciuman, kan? Tebak Maria yang tiba-tiba mendekatkan wajahnya.


Aku benar-benar terkejut dan memundurkan tubuhku. Maria terbahak. Wajahku memerah tidak terkendali.


Sesaat kemudian Maria berpamitan untuk masuk dan meninggalkanku. Menikmati udara malam favoritku.


Tidak berselang lama, Moonflower duduk di sisiku. " Tidak kedinginan?" Tanyanya.


Aku menggeleng.


Ia duduk dengan memeluk kedua lututnya. Angin bertiup lembut. Aroma vanilla tercium, menenangkan.


"Marbella mengatakan padaku bahwa besok adalah hari pelatihanmu, kalian akan pergi ke hutan untuk beberapa hari dan aku akan berjaga di sini bersama para tikus," Moonflower menyampaikan sebuah kabar yang baru untukku.


"Oh, Marbi belum mengatakan apapun padaku."


"Apa kau kecewa karena aku yang tahu lebih dahulu?" kekeh Moonflower.


"Tidak, tapi biasanya Marbi menyiarkan berita dari kepalanya pada jam-jam makan, kali ini sedikit berbeda," ucapku setengah bergumam.


Moonflower menepuk bahuku ringan.


"Sebenarnya, Marbella sudah menuju ke sini, tadi. Hanya saja, kau dan perempuan itu terlihat memiliki percakapan serius," ujar Moonflower.


Aku mengeluarkan suara 'o' yang sedikit panjang mengetahui itu.


"Apa kalian terlibat sesuatu?" Selidik Moonflower.


"Seperti apa?" balasku.


"Ummm, itu seperti hubungan antara pria dan wanita muda," ucapnya.


"Tidak, aku tidak memiliki hubungan jenis itu dengan Maria," jawabku jujur.


"Dia lumayan cantik," ujar Moonflower.


"Dan kau juga," ucapku spontan.


Moonflower menundukkan kepalanya ke lutut.


"Eh, Moon... apa kau merasa tidak enak badan?" tanyaku.


Ia menggeleng.


"Masuklah, udaranya semakin dingin," pintaku.


Moonflower tidak menghiraukan ku untuk beberapa saat. Aku hanya duduk diam memperhatikan itu dan menatapnya sesekali.


Malam ini begitu tenang, perlahan terdengar dengkuran pelan dari Moonflower. Aku tertawa kecil. "Gadis aneh."


Aku menyentuh pelan bahunya dengan telunjuk beberapa kali untuk membangunkannya. Tapi tidak berhasil. "Bagaimana ini?"