
William menarik dirinya dan mengambil posisi duduk di bibir ranjang,di ikuti oleh Viona yang juga ikut bangkit lalu merapihkan penampilan nya yang tadi sempat berantakan karena ulah William.
William duduk tertundu dengan kedua tangan yang terkepal kuat,William merutuki kebodohan nya dulu.Kenapa bisa gegabah dengan mengatak lah yang kini membuatnya rugi dan repot sendiri karena harus menahan sesuatu yang meminta untuk dituntaskan.
"Maafkan aku,maafkan atas apa yang selama ini aku lakukan padamu,"lirih William selah bisa mengendalikan perasaan nya.
"Semua sudah berlalu,,jadi lupakan saja."jawab Viona yang juga baru bisa mengendalikan dirinya karena sempat terbuai dengan apa yang WIlliam lakukan.
"Mana bisa begitu,kesalahan ku terlalu besar untuk dilupakan begitu saja.Lalu,kenapa pergi?kenapa tidak meminta penjelasanku dulu,kenapa malah pergi begitu saja dan membuatku tersiksa,"lanjut William dengan nada yang kini sudah bergetar menahan tangis nya kala mengingat kejadian lima tahun yang lalu.
"Karena aku sadar,jika diantara kita bertiga akulah pengganggunya,akulah yang seharusnya pergi bukan Kanaya."jawab Viona tidak kalah lirihnya.
William pun bangkit lalu berpindah duduknya kedepan Viona,lebih tepatnya,duduk bersimpuh dihadapan Viona yang saat ini masih duduk dibibir ranjang.
Tangan William terulur lalu menggengam erat kedua tangan Viona yang saat ini begitu terasa dingin.
"Kenapa bicara seperti itu?tidak ada pengganggu dan yang diganggu disini.Semua ini mungkin saja jawaban dari setiap doa doaku,yang selalu meminta agar dipertemukan dengan jodohku.Hanya saja,egoku pada saat itu masih terlalu tinggi dan belum menyadari semuanya.
Maafkan aku,maaf karena terlamaabat menyadari semua ini.Vi,aku mohon,tolong beri aku kesempatan,beri aku kesempatan untuk menjadi suami dan ayah yang seutuhnya.
Kembalilah,kali ini aku tidak akan membiarkanmu pergi untuk kedua kalinya lagi.Ah,salah,untuk ke tiga kalinya lagi."lanjut William meralat ucapan nya.
"Ti_tiga kali?ma_maksudnya?"tanya Viona bingung.
"Iya ke tiga kalinya,karena kamu sudah dua kali pergi dari aku.Di desa itu,aku kehilangan kamu untuk yang kedua kalinya didesa itu.
Padahal aku yang mengadzani putriku,tapi aku melewatkan nya hingga aku kembali kehilangan kalian.
Aku mohon Vi,jangan pergi lagi dan kembalilah,cukup lima tahun ini kamu membuatku tersiksa karena merindukan kalian namun aku tidak tahu harus kemana aku mencari kalian.
"Aku hanya butuh waktu untuk sendiri,hanya saja,kehidupan disana membuat aku lupa jika aku masih memiliki keluarga yang pasti tengah mencari keberadaannku dan aku juga sangat merindukan mereka,"
"Siapa?siapa yang kamu rindukan?"tanya William penuh selidik.
Menatap wajah cantiknya dari bawah dan hal itu membuat jantung Viona semakin berdetak tidak karuan.
"Hah,te_tentu saja keluargaku.Bu_Bunda Ana dan A_Ayah Bagas,lalu siapa lagi?"jawab Viona mengalihkan pandangan nya karena merasa sangat gugup saat ditatap dengan begitu intens oleh William.
"Aku tidak termasuk ya?haaahhhh,sayang sekali,padahal aku sangat merindukanmu.Bahkan rasanya ingin mati saja jika aku tidak ingat kalau aku belum bertemu kembali dengan putriku.Setidaknya,aku harus bertemu dengannya sekali saja sebelum aku benar benar pergi meniggalkan dunia ini."
Deg...
Seketika Viona kembali menoleh ke arah William yang kini sudah mulai menarik diri dan bangkit dari duduknya.
"Ayo keluar,kita bicara diluar saja."lanjut William dengan nada dingin dan datar.
Tanpa menoleh lagi pada Viona,William pun mulai berjalan menuju ke arah pintu.Namun saat akan membuka handel pintu kamar itu,gerakan tangan nya terhenti oleh ucapan Viona.
.
\*\*\*\*\*\*\*\*
.
Sudah ya,besok lagi kita lanjutnya,,,terima kasih atas dukungan nya selama ini.
Semoga hari reader semua menyenangkan dan karya Othor ini bisa memberikan sedikit hiburan bagi kaum rebahan seperti Othor saat ini...love banyak banyak untuk kalian.