
Dengan berjalan terseok seok Viona memunguti setiap lembar baju yang berserakan dilantai.Viona menyeret langkahnyya masuk kedalam kamar mandi hotel untuk membersihkan diri.
Tangis Viona pecah dibawah guyuran air shower.Viona tidak menyangka jika kesanggupan nya mendatangi acara yang dibuat oleh sahabatnya membawa diri pada sebuah petaka besar yang menghancurkan hidupnya.
Viona masih tidak menyangka jika kedatangannya kesana akan membuat dirinya kehilangan apa yang paling berharga dalam diri Viona.Bahkan yang membuatnya semakin terpuruk adalah,pria itu.
Pria yang sudah merenggut semua nya adalah pria yang akan menikahi tantenya sendiri.Apa yang akan terjadi jika semua yang terjadi hari ini diketahui oleh Kanaya.
Wanita yang begitu mencintai William dan begitu mengharapkan sebuah pernikahan di akhir hubungan mereka yang sudah terjalin selama 5 tahun.
Setelah merasa cukup puas mengeluarkan tangisan nya,Viona pun segera keluar dan berganti pakaian dengan pakaian yang layak.
Sekilas Viona melirik pria itu sebelum dirinya melsat pergi meninggalkan kamar hotel.Pria yang sudah berhasil merenggut kesucian nya itu,pria yang masih terlelap damai diranjang dengan tubuh polosnya dan hanya tertutup selimut tebal dan tengah menikmati mimpi indahnya.
Viona pergi meninggalkan hotel itu dengan perasaan yang hancur berkeping keping.Rasanya lebih baik mati saja karena saat ini dia sudah kehilangan apa yang menjadi kabangga setiap wanita yang belum memiliki suami.
Viona meraup wajahnya dengan kedua tangan,tangisnya kembali pecah saat sudah ada didalam mobil pribadinya.Setelah lelah dengan tangisnya,Viona pun melajukan kembali mobilnya menuju ke apartemen tempatnya tinggal selama ini.
Viona bahkan pergi begitu saja tanpa memberi kabar pada kedua temannya yang malam itu menghilang begitu saja,hingga kejadian naas itu pun tidak bisa terelakan lagi.
Sementara William sendiri baru terbangun esok pagi nya dan itu pun matahhari sudah cukup lumayan meninggi.William mengerjapkan matanya dan mengedarkan pandangan nya ke sekeliling sudut ruangan itu.
"Dimana ini?aahh,kepalaku,kenapa pusing sekali?"gumam nya seraya bengkit dan mengambil posisi duduk diatas ranjang.
William terkesiap saat melihat penampilan nya yang bahkan tanpa mengenakan sehelai pakaian pun.Bahkan ****** ***** yang di kenakan kemari pun tergeletak begitu saja diatas lantai.
Belum lagi kemeja dan celana bahan yang dikenakan nya nampak berserakan tak beraturan.Seketika pandangan nya tertuju pada sebuah benda yang mengkilap karena terkena kilauan cahaya matahari pagi.
"Apa yang terjadi disini?dan kenapa aku tidak memakai baju?"gumam William lagi sembari memunguti baju baju miliknya yang berserakan dilantai.
"Viona?siapa Viona?apa yang sebenarnya telah aku lakukan disini?"gumam William lagi.
Saat William berbalik dan netranya tak sengaja menatap ke arah ranjang,jantung William seketika berdetak dengan cukup kencang saat melihat bercak darah yang sudah mengering terlihat begitu jelas terdapat di seprey yang putih dan bersih itu.
William pun segera melesat masuk kedalam kamar mandi nya untuk membersihkan diri.Lalu bergegas meninggalkan kamar itu untuk mencari informasi siapa pemilik kamar yang saat ini dia tempati.
"Oh,kamar itu dipesan atas nama Sera Gunawan Mas,namun yang pertama kali konfirmasi pesanan itu kemungkinan teman satu kamarnya,karena orang yang buat reservasi dan cek in berbeda.Namun karena beliau bisa menunjukan bukti jika mereka teman satu kamar maka kunci kamar kami serahkan kepada tamu itu,memang kenapa ya Mas?aa ada yang kurang berkenan?"jelas resepsionis sembari bertanya,
Takut jika tamu mereka ada yang kurang nyaman atau memang tengah mengalami masalah didalam hotel tempatnya bekerja.
"TIdak,dia hanya ketinggalan barang.Bisa saya minta informasi pribadi nya Mbak?"tanya William masih penasarang dengan sosok Viona yang menghabiskan malam panas bersama dengan nya tadi malam.
"Mohon maaf,untuk itu kami tidak bisa mambantu.Kami sangat menjaga privasi tamu tamu kami,harap dimklumi ya Mas."jawabnya dengan tidak enak hati.
Namun peraturan tetaplah peraturan yang harus di taati jika masih berharap bisa bekerja lebih lama lagi disana.
"Baiklah,terima kasih atas informasinya."ucap William menghela nafas panjang dan juga berat.
William berjalan gontai menuju ke parkiran dimana mobilnya saat ini berada.Pikiran nya terus memikirkan siapa Viona itu?Viona yang mana yang sudah berhasil dia gagahi dan dia ambil kesucian nya.
William seorang dokter tentu tahu betul dengan arti dari bercak darah yang ada diseprey kasur yang dia tempati tadi malam untuk tidur.
pikiran nya begitu kacau saat memikirkan bagaimana jika wanita itu bukan wanitaa bayaran,bagaimana bisa William bisa salah masuk kamar dan melakukan hal itu pada seorang gadis asing.
Sungguh pikiran nya kalut saat ini,bahkan William sampai mengabaikan panggilan telpon dari sang kekasih karena masih sibuk memikirkan siapa gerangan gadis yang bernama Viona yang semalam berhasil membuatnya menikmati surga dunia.