
Setibanya dirumah sakit Viona disambut hangat oleh para rekan rekan kerjannya taklupa juga si tengil Alex yang sudah begitu merindukan sahabatnya itu.
"Wih,selamat datang kembalu besty ku.Kangen,sumpah,nggak ada kamu aku selalu merasa sepi."ujar pria itu dramatis.
"Lebay kamu Lex,"jawab VIona terkekekh sembari terus berjalan menuju ke poli umum dimana dirinya masih bertugas disana.
"Gimana kondisi kesehatan kamu sekarang Vio?kemari aku cuma dapat kabar kamu sakit,pas mau jengukin juga bingung ga tahu kamu dimana.Memang kamu kenapa sih Vi?keluarga kamu sampai menutup semua komunikasi dan dan sembunyiin kamu pas kamu sakit.Kamu nggak kena penyakit menular kan Vi?"tanya Alex yang cukup membuat Viona kesal setengah mati.
Buuggghhh
"Sialan loe,nyumpahin anak orang kena penyakit menular,amit amit jabang bayi."
"Wiss,kalem bro,slow slow.Sejak kapan putri Viona menggunakan kata kata loe gue.Sarkas beud itu bahasa."ucap Alex yang memang sajak awal mengenal Viona hingga kini gadis itu tidak pernah menggunakan bahasa loe gue.
Dan lebih memilih menggunakan kata 'aku,kamu' meski dengan sahabat nya sendiri.
"Ya ampun,maaf.Habis ngeselin banget,pagi pagi sudah ditodong dengan pertanyaan yang aneh.Lagian kemarin kondisi aku benar benar ngdrop,mana tahu kalau keluarga menutup akses tantang informasi tentang aku."jawab Viona samberi memikirkan apa yang baru saja dikatakan oleh Alex padanya.
'kenapa Bunda sama Ayah meski menutup informasi tentang aku?atau Dokter William dibalik semua ini?Ayah sama Bunda tidak punya alasan untuk menutupi keadaan ku,dan orang yang punya alasan kuat untuk itu hanya Dokter Will.' batin Viona bermonolog.
Hari pertama masuk kerja pun berjalan dengan baik,beruntung kali ini Viona satu jadwal dengan Dokter Novi yang baik banget dan tidak pelit dalam berbagi ilmu.
Sedangkan William sendiri baru masuk setelah Viona akan pulang,karena mereka memang memiliki jadwal kerja yang berbeda.
Viona sedikit merasa lega akan hal itu,dengan begitu dirinya tidak perlu benyak berpikir demi menghidari berinteraksi dengan pria dingin itu.
Viona yang sudah menyelesaikan jam kerja nya pun memutuskan untuk segera pergidari sana namun saat tiba diparkiran langkahnya terhenti oleh suara panggilan seseorang.
"Vio,,,"
Viona menoleh lalu tersenyum senang saat melihat Anjar tengah berlari ke arahnya.
"Anjar?ngapain kamu disini?"
"Sengajalah,kita makan diluar yukk."
"Boleh,habis itu antein aku pulang ya?"
"Siap Tuan Putri,hamba akan siap mengantarkan kemana pun Tuan Putri mau."
Keduanya pun terkekeh bersama lalu berjalan menuju ke arah mobil Anjar terparkir.Dan lagi lagi,kebersamaan keduanya tertangkap oleh netra William yang memang baru saja tiba disana namun belum turun dari mobil.
Dan berusaha untuk tiak peduli dengan apapun yang dilakukan oleh istrinya itu.Namun tampaknya,isi hati tidak meridhoi jika dirinya tidak peduli dengan apa yang dilakukan oleh sang istri bersama dengan pria lain.
Seketika William pun meraih ponsel miliknya dan mulai mengetik sesuatu dikolom pesan lalu mengirimkan nya pada nomor kontak seseorang.
Ting...
Sebuah notif pesan masuk keponsel Viona dan itu menarik perhatian Anjar yang tengah fokus menyetir mobilnya.
"kenapa tidak dibalas??"tanya Anjar sat melihat Viona mengabaikan pesan yang masuk kedalam ponselnya.
"Nggak apa apa,nggak penting kok."jawab Viona terlihat santai dan mengabaikan begitu saja ponselnya yang berulang kali berbunyi.
Kedua sahabat itu pun menikmati kebersamaan mereka dengan makan malam disebuah tenda makan sederhana yang terletak dipinggir jalan dengan suasana yang tenang dan menyenangkan.
Wajah Viona pun terus dihiasi dengan senyum lebar karena Anjar selalu saja membuatnya tersenyum dan merasa senang jika mereka bersama.
Hingga tanpa terasa keduanya pun telah menghabiskan waktu tiga jam ditempat yang sama.
"Kita pulang sekarang yukk.Aku takut buat suami kamu marah dan menyebabkan kesalah pahaman diantara kalian."ujar Anjar yang tahu betul status sahabatnya kini sudah tidak sebebas dulu sewaktu masih single.
"Boleh,antar aku pulang ya?"
"Boleh,boleh saja sih.Tapi apa nggak masalah kamu pulang sama aku?suami kamu nggak akan marah?"tanya Anjar sedikit was was.
Anjar masih ingat dengan jelas bagaimana tatapan tajam William saat terakhir kali mereka bertemu.
"jangan kan diantar pulang sama cowok,aku mati juga dia nggak akan peduli."
"Apa?maksud kamu apa Vi?"
...****************...
Mohon maaf ya,kemarin Othor tidak sempat up dilapak ini,katrena memang kondisi real lifenya bener bener riweuh.
...****************...
...Jangan lupa tinggalkan jejak ya,like,komen dan subscribe...Biar Othor lebih semangat lagi,terima kasih 🥰🥰🥰 love sekebon untuk kalian ♥️♥️♥️*...