Love After Divorce

Love After Divorce
Kelima



"Viona masih belum mau makan?"tanya Ayah Bagas pada Bunda Ana saat tak mendapati gadis itu dimeja makan.


"Iya,dia bilang masih kenyang dan mau tidur lagi karena tidak enak badan."jawab Bunda Ana.


Dan ini sudah dua hari Viona melewatkan makan paginya.Sejak kepulangan nya dari hotel,Viona terus saja mengurung diri didalam kamar.


Setelah kejadian itu,Viona memang memutuskan pulang kerumah Bunda nya.Selain karena memang setiap akhir pekan Viona akan menghabiskan waktu bersama dengan Ayah dan Bundanya.Dirumah itu juga Viona selalu merasa tenang dan nyaman.


Hidupnya kini hancur dan semua harapan harapan nya seakan musnah bersamaan dengan hilangnya apa yang berharga didalam dirinya saat ini.


Viona kembali menangis jika teringat dengan apa yang sudah dia alami malam itu.Malam naas yang dia alami,niat hati bersenang senang setelah melalui hari penuh dengan kepengatan dan bau obat obatan.


Eh malah tercebur kedalam nestapa yang membawanya ke sebuah penyesalan mendalam.Viona juga begitu kecewa dengan kedua sahabatnya yang tiba tiba menghilang tanoa kabar apapun lagi.


Entah kemana perginya mereka hingga ponselnya pun tidak ada satu pun yang bisa dihubungi.


...***...


"Kamu sudah siap kerja?bukannya kemarin kamu bilang tidak enak badan?"tanya Bunda Ana saat melihat Viona sudah berpakaian rapih bersiap pergi kerumah sakit.


"Sudah lebih baik Bun,dirumah juga bakalan jenuh,mending kerumah sakit.Ini juga hari pertama Vio masuk ke poli umum.Nggak enak kalau dihari pertama sudah ijin."jawab Viona sembari mengambil roti isi yang sudah siap dimeja makan lalu memakan nya.


"Baiklah,Bunda cuma cemas,takut kamu kenapa napa."


"Vio sudah lebih baik kok Bun.Ya sudah Vio berangkat ya Bun,Assalamu'alaikum."


Viona pun akhirnya memutuskan untuk mengakhiri keterpurukan nya.Meski masih berat dan enggan bertemu orang banyak namun sekali lagi.


Vionq harus profesional dalam menjalankan tugasnya.Masih banyak orang diluar sana yang membutuhkan nya sebagai tenaga medis.


Dan semoga pekerjaan nya juga bisa membuat Viona melupakan malam naas itu.Meski mungkin sulit namun semua akan Viona atasi demi masa depan dan cita citanya menjadi seorang dokter.


Viona memarkirkan mobilnya diparkiran khusus karyawan rumah sakit.Setelahnya Viona berjalan menelusuri lorong menuju ke poli umum tempatnya bertugas saat ini.


Setelah mendekayi poli umum,Viona sedikit merapihkan pakaian dan jas putih kebangga nya.Didepan pintu ruangan itu Viona melihat beberapa orang dokter koas juga tengah menunggu poli umum dibuka.


Namun Viona tak melihat sahabatnya Amel disana.Viona pun mulai mendekati pintu bergabung dengan dokter dokter muda lain nya.


"Hai,masih belum dibuka ya?"tanya Viona pada salah satu teman yang ada disana.


Dan benar saja,suster itu membukakan pintu lalu menguruh para dokter koas itu masuk untuk menunggu dokter yang bertugas.


Dokter yang akan menjadi pembimbing mereka selama menjalani masa koas.Semua nya pun nampak berdiri berbaris didepan meja kerja Dokter umum itu.


Seketika tatapan Viona tertuju pada name tag yang tertempel dijas putih yang tergantung tepat dibelakang meja kerja Dokter umum yang akan menjadi pembimbingnya.


"Wi_William Anderson?"gumam nya dalam hati.


Deg....


Seketikan jantung Viona serasa jatuh dari tempatnya saat suara bariton itu menyerukan salam ketika seseorang masuk kedalam ruangannya.


Suara masih di ingat betul oleh Viona,suara yang berulang kali memanggil nama Kanaya saat pelepasan yanh dia lakukan didalam rahim Viona.


Tubuh Viona bergetar kala kedua netra itu bertemu,namun hanya beberapa detik saja sebelum Viona yang lebih dulu memutus pandangan nya dengan menunduk.


Sungguh ruangan itu bagaikan ruangan angker untuk Viona saat ini.Bahkan dada nya menjadi sesak karena kehadiran pria yang sudah berhasil mengambil apa yang paling berharga darinya.


William sendiri masih fokus dengan pekerjaan nya,menjelaskan apa saja yang harus dokter dokter muda itu lakukan tanpa peduli ekspresi wajah Viona yang berubah pucat setelah kehadiran nya.


"Maaf Dok diantara dokter Koas yang hadir ada satu yang ijin dikarenakan kondisinya tidak memungkinkan untuk melakukan tugasnya."sambung suster asisten yang sedari tadi berdiri disamping William.


"Siapa namanya?memangnya dia kenapa?"tanya William.


"Dia mengalami kecelakaan Dok dan lukanya cukup parah,kaki dan tangan nya patah.Namanya Amelia Fahrani Dok."jawab suster lagi.


Deg...


Seketika Viona mengangkat kepalanya dan menatap intens ke arah suster yang baru saja menyebutkan nama sahabatnya.


Dan hal itu tidak luput dari pandangan William yang menangkap gelagat aneh dari salah satu dokter muda yang kini berada dibawah bimbingan nya.


William sendiri nampaknya masih belum sadar dan belum mengingat siapa wanita yang sudah dia tiduri.Terbukti dengan sikap cueknya meski sudah bersitatap dengan Viona.


Berbeda dengan Viona yang merasa gugup bahkan takut saat William menatapnya.