
Kedua Babby nya Khalisa memang Babby yang sangat mengerti kondisi kedua orang tuanya, kedua Babby nya sangat tenang bawaanya mirip Hendra dan tidak terlalu membuat kesulitan pada Larisa.
Kakek Permana begitua senang karena di rumahnya ada tangis bayi dan harum khas bayi, karena selama ini rumahnya sangat jauh dari moment seperti sekarang.
Satu minggu sudah kedua Bayi di asuh oleh Larisa dan Larisa benar benar memberikan tanggung jawab perusahaannya kepada Hendra dan Hendra pun akhirnya menerimanya karena memang mama mertuanya sibuk mengurus kedua anaknya.
''Hari minggu sekarang kita adakan syukuran kelahiran kedua cicit Ayah, Willi dan Maya menyetujui nya. ''
ucap Kakek Permana saat Larisa sedang menjemur kedua cicit nya. ''
ucap Kakek Permana dan Larisa langsung terdiam.
''Gak akan ada Hendra dan Khalisa loh Ayah, Lara gak mau. ''
tolak Larisa dan Ayahnya langsung menghela nafasnya.
''Kita harus secepatnya melaksanakan syukuran Lara, sekaligus mendoakan kesadaran Khalisa juga. ''
ucap Kakek Permana dan Larisa hanya diam tanpa mau menjawab nya.
''Maya dan Melin akan datang nanti siang, kamu ke rumah sakit dengan Ayah kita meminta ijin pada Hendra, lagian Hendra gak akan mau hadir nantinya juga kan. ''
''Baiklah terserah Ayah saja, nanti siang juga Mas Marwan mau datang katanya. ''
''Oh iyaa.... kasihan Marwan dua bulan tidak di beri kepastian pernikahannya, bagaimana kalau kamu segerakan menikah dengan Marwan, kalau menunggu Khalisa sadar sampai kapan Lara?? kasihan Marwan sudah terlalu lama menunggu nya. ''
''Nanti jangan sekarang Ayah, hati Lara masih belum tenang dan mau fokus mengurus anaknya Khalisa. ''
''Kamu tahu kan Khalisa entah sampai kapan bisa sadar lagi, Khalisa juga pasti akan setuju dengan usul Ayah dan kasihan Hendra beban pekerjaannya terlalu banyak, kalau kamu menikah dengan Marwan nanti dia akan menjaga membantu perusahaan kita. ''
''Baiklah nanti kita bicarakan di rumah sakit bersama Mas Marwan dan Hendra juga, Khalisa juga bisa mendengar pembicaraan kita. ''
''Oke.....Ayah setuju. ''
ucap Kakek Permana dan Larisa langsung membawa kedua cucunya masuk kedalam rumah untuk di berikan susu.
.
.
Siang menjelang.....
Melin dan Omah Maya datang di antar oleh supirnya juga Danu pun ikut dengan mereka, Larisa dan Kakek Permana sudah siap tinggal menunggu Om Marwan yang masih dalam perjalanan.
''Gak nyangka kedua Babby nya Khalisa mirip banget sama Om Hendra. ''
celetuk Danu dan membuat Omah Maya memukul lengan Danu.
''Tante Khalisa bukan Khalisa, dia sudah menjadi istri Om kamu Danu, gak sopan sekali. ''
tegur Omah Maya dan Danu hanya memanyunkan bibirnya.
Om Marwan datang dan langsung di ajak menuju rumah sakit, Setelah pamit pada Omah Maya dan Melin. Larisa langsung berangkat ke rumah sakit untuk membicarakan masalah syukuran dan pernikahan dengan Om Marwan.
Selama di perjalanan semua hanya diam dan larut dengan pemikiran masing masing, Dua puluh menit perjalanan akhirnya sampai di rumah sakit, Larisa membawa makan siang dan beberapa cemilan untuk Hendra.
Ternyata Hendra sedang serius di depan layar leptopnya.
''Kamu sibuk sekali Hendra. ''
ucap kakek Permana menyadarkan Hendra.
''Ehh.... ternyata Kakek, Mama sama Om Marwan, Hendra kira suster mau mengecek Khalisa. ''
ucap Hendra yang langsung beranjak dari duduknya dan menyalami semuanya.
''Kamu ini jangan larut dalam pekerjaan terus, istirahat sebentar saja, ini Mama bawakan makan siang langsung di makan yaa, temenin Om Marwan dia juga belum makan. ''
ucap Larisa dan Hendra mengangguk lalu menuju kursi dimana Om Marwan duduk.
Hendra dan Om Marwan langsung memakan makan siangnya, sedangkan Kakek Permana dan Larisa duduk di samping Khalisa.
''Hai putri cantik Mama, hari minggu nanti Mama ijin yaa mau melaksanakan syukuran kelahiran kedua anak kamu sayang, Mama harap kamu segera sadar dan menghadiri acaranya karena Mama rindu sekali dengan Kamu Sayang. ''
ucap Larisa sambil menggenggam tangan Khalisa yang terasa begitu dingin.
Kakek Permana hanya diam dan menatap Khalisa yang begitu damai dengan mata terpejam nya, berbagai macam pengobatan sudah di anjurkan dan di coba namun tubuh Khalisa menolak semuanya, hingga dokter mengatakan hanya keajaiban yang akan membuka kan mata Khalisa dari tidur panjang nya.
Hendra dan Om Marwan selesai makannya, Larisa juga Kakek Permana langsung duduk di kursi dekat Hendra untuk membicarakan semua rencananya.
''Besok lusa tepatnya hari minggu, Kakek dan Papa kamu memutuskan untuk melaksanakan syukuran kelahiran kedua anak kamu Hendra, memberikan nama dan menindik telinga putri kamu sekalian, Kakek mau meminta ijin kamu Hendra. ''
ucap Kakek Permana dan membuat Hendra terdiam.
''Hendra hanya bisa membantu doa saja dari sini dan sudah janji Hendra, Hendra tidak akan bertemu kedua anak Hendra seorang diri tapi nanti dengan Khalisa, sampai kapanpun Hendra akan menunggu, jadi. Silahkan Kakek dan Papa untuk melangsungkan acara syukurannya, Hendra memberikan ijin nya. ''
jawab Hendra dengan nada tercekat karena menahan tangisnya.
''Kakek hargai semua keputusan kamu Hendra, kami juga sekalian akan melaksanakan doa bersama untuk mendoakan kesadaran Khalisa. ''
ucap Kakek Permana dan Hendra mengangguk.
''Mumpung ada Om Marwan juga disini sekarang, Mama mau meminta ijin sama kamu dan bukan maksud Mama mengkhianati Khalisa sebagai putri Mama, bukan Mama tidak sayang sama Khalisa tapi Mama menghargai Om Marwan yang sudah mau menunggu Mama sampai sejauh ini, Mama akan menentukan tanggal pernikahan dengan Om Marwan dalam dekat ini Hendra, kamu sebagai suami Khalisa dan menjadi pengganti Khalisa atau mewakili Khalisa, Mama ijin sama kamu yaa, Mama akan melangsungkan pernikahan dengan Om Marwan. ''
ucap Larisa dan membuat Om Marwan tersentak kaget sedangkan Hendra tersenyum senang.
''Laksanakan pernikahan Mama dan Om Marwan sesegera mungkin, Hendra yakin Khalisa sepemikiran dengan Hendra dan merestui pernikahannua sekarang juga, kita gak tau kapan Khalisa sadar dan kita tidak mungkin menunggu Khalisa juga, Hendra memberi ijin sama Mama dan Om Marwan untuk menikah. ''
ucap Hendra dan Larisa langsung mengangguk.
''Kakek yakin Khalisa mendengarnya sekarang karena pendengaran orang yang sedang koma itu lebih tajam sekali. ''
ucap Kakek Permana saat semua melihat ke arah Khalisa.
.
.
Bersambung........