
Di kediaman prayoga.....
Danu saat ini sedang mengomel karena celana yang di gunakannya tadi pagi sudah di cuci dan sedang di keringkan oleh pelayan yang mengerjakan pencucian.
''Ada apa sih Mba?? heboh sekali anak itu. ''
Ucap Hendra yang baru tiba dan mendengar kehebohan yang di ciptakan oleh keponakannya.
''Keponakan kamu lagi ngomel karena celananya di cuci. ''
Ucap Haris yang mewakili jawaban istrinya saat menghampiri ke arah Hendra.
''Aishh....kebiasaan anak itu terjadi lagi. ''
Omel Hendra sambil berlalu menuju keributan.
Hendra menggelengkan kepalanya saat melihat Danu sedang menerawang sebuah kertas sambil mengomel mengeluarkan kata kata aneh nya.
''Kamu kebiasaan deh Danu, membuat satu rumah jadi heboh ajah. ''
Ucap Hendra sambil memberi isyarat pada pelayan untuk meninggalkan area pengeringan
''Om gak ngerti sih perjuangan Danu mendapatkan kertas ini, ini tuh isinya tulisan nomer telphone gadis yang Danu taksir, ehh.....sama si bibi malah ke cuci dan nomernya luntur. ''
keluh Danu dan membuat Hendra menghela nafasnya.
''Kamu ini kuliah di luar negeri masa ga bisa mikir sih, tinggal datangin lagi gadis nya dan minta nomernya lagi, apa susahnya coba. ''
Ucap enteng Hendra dan membuat Danu mendelik sambil mengikuti Om nya yang keluar dari area pengering pakaian.
''Om Hendra sangat enteng sekali memberikan solusi, gak semudah itu karena dia gadis berbeda. ''
Ucap Danu sambil mengikuti Om nya menuju ruang keluarga.
''Kamu lagi mendekati gadis mana lagi Danu?? Jangan macam macam atau Mama blokir semua keuangan kamu yah. ''
Ancam sang Mama dan membuat Danu semakin kesal.
''Jahat sekali tuduhan Mama ini. ''
jawab Danu sambil berjalan meninggalkan area ruangan keluarga.
''Sepertinya Danu sudah berubah loh Mba, biarkan dia bebas jangan di kekang terus. ''
Ucap Hendra dan membuat sang kakak ipar menghela nafasnya.
''Mba kapok dengan kejadian dia yang jadi kambing hitam menghamili seorang gadis, makanya Mba melakukan antisipasi dengan ancaman. ''
Ucap Melin dan Hendra menganggukan kepalanya.
Satu Bulan kemudian........
Khalisa saat ini sedang menatap berkas kepemilikan rumahnya dan tercantum atas namanya sendiri, tak terasa sudah satu bulan Khalisa menempati rumah baru dan sudah satu bulan Khalisa bekerja di perusahaan barunya.
''Alhamdulillah......tak terasa sebulan sudah tinggal di rumah ini, walaupun sederhana dan minimalis tapi milik sendiri, terasa nyaman dan tentram. ''
gumam Khalisa dalam hatinya sambil menyimpan berkasnya ke dalam berangkas penyimpanan uangnya.
Satu bulan ini Khalisa terus di teror oleh Danu yang memaksa untuk menerima cintanya, Danu terus datang ke perusahaan tempat Khalisa bekerja karena memang Danu sengaja meminta kepada Hendra sebagai wakil perusahaan.
Hari ini bertepatan dengan hari sabtu dan Khalisa libur bekerja, Khalisa memanfaatkannya untuk berbelanja kebutuhan rumahnya.
Khalisa memilih berbelanja ke pasar tradisional untuk memenuhi kulkas dan peralatan kamar mandinya, Khalisa begitu bersemangat saat begitu sampai di pasar.
Tanpa Khalisa sadari Danu pun ada di pasar tradisional yang sama karena dia mengantar Mamanya, Danu langsung bersemangat dan langsung mengikuti Khalisa bahkan meninggalkan Mamanya.
''Khalisa......''
ucap Danu saat berada tepat di belakang Khalisa.
Khalisa berbalik dan melototkan matanya saat melihat Danu dengan senyum Khas nya sedang melambaikan tangan padanya.
''Kamu lagi kamu lagi......''
ucap Khalisa sambil menghela nafasnya.
''Hhe.....kamu sedang belanja yah?? Mau aku temani gak?? ''
ucap Danu dan Khalisa menggelengkan kepalanya.
''Terimakasih dan gak usah karena saya masih mampu sendiri. Permisi.......''
ucap Khalisa sambil berbalik namun Danu langsung mencekal tangan Khalisa.
''Lepas Danu, kalau gak lepas aku akan berteriak. ''
ancam Khalisa dan membuat Danu menggelengkan kepalanya.
''Danu.....''
''Mama.....''
ucap Danu sambil melepaskan cekalan pada Khalisa.
''Siapa gadis ini?? ''
ucap Mama Melin dan Danu langsung tersenyum sumringah.
''Kenalkan Mama, Khalisa pacarnya Danu. ''
ucap Danu dengan senyum bahagianya dan membuat Khalisa melototkan matanya.
Melin langsung menatap ke arah putranya saat melihat reaksi Khalisa seperti enggan di kenalkan sebagai pacar putranya.
''Bukan.....bukan, saya bukan pacarnya Danu. ''
bantah Khalisa dan membuat Danu langsung kesal.
''Sudah sudah jangan debat di tempat umum gini, ayo Khalisa ikut dengan Tante yah. ''
ucap Melin sambil menarik tangan Khalisa dan Khalisa akhirnya pasrah mengikutinya.
Danu langsung bahagia dan berjalan di belakang kedua wanita yang di sayanginya, bahkan Danu dengan senang hati membawakan belanjaan yang Mamanya beli.
Khalisa pun dengan terpaksa mengikuti kemanapun Melin membawamya bahkan tanpa di sadari, Khalisa malah dekat dengan Melin karena bagi Melin saat ini sangat senang ada yang satu tujuan dengannya mengenai belanja dan debat masalah sayuran yang harus di beli.
''Ini minum dulu dan jangan kecapean yah. ''
ucap Danu sambil menyodorkan dua botol minuman untuk Khalisa dan Mamanya.
''Tumben kamu perhatian dan Mama baru ngeuh, kenapa kamu ga protes?? ''
ucap Melin sambil meminum minumannya setelah di buka penutupnya oleh Danu.
''Mama ini menjelekkan Danu ajah. ''
protes Danu dan membuat Mamanya tertawa cekikikan.
''Khalisa ikut ke rumah Tante yah, mau yah?? ''
ucap Melin dan Khalisa langsung terdiam.
''Maaf Tante bukan Khalisa menolak tapi, Khalisa juga sedang ada urusan di pasar ini. ''
tolak Khalisa dan membuat melin mengerutkan keningnya.
''Keperluan apa?? Ayo Tante antar sekalian. ''
ucap Melin dan Khalisa menggelengkan kepalanya.
''Keperluan untuk isi kulkas sama keperluan kamar mandi ajah Tante, tapi yaa.....lumayan banyak soalnya buat stok satu bulan. ''
ucap Khalisa dan Melin langsung tersenyum.
''Ayo Tante bantu sekalian pilihkan yah, tadi kan kamu yang bantu. ''
ucap Melin dan Khalisa menggelengkan kepalanya.
''Gak usah Tante dan makasih sebelumnya. ''
ucap Khalisa dan Melin pun langsung cemberut.
''Sekali ajah turuti maunya Mama aku yah, aku nanti akan antar kamu Khalisa. ''
ucap Danu dan Melin mengiyakannya.
Khalisa akhirnya mengangguk setuju, hingga membuat Ibu dan anak di hadapannya tersenyum senang, Melin bisa merasakan kalau Khalisa gadis yang baik dan putranya tidak salah pilih sekarang, namun Melin merasa sedikit kasihan pada putranya karena Khalisa terlihat tidak menyukai putranya.
''Mama mertua Tante pasti senang kalau bertemu dengan kamu Khalisa, lebih baik sekarang kita pulang ajah Danu, sudah siang juga. ''
ucap Melin sambil menarik tangan Khalisa dan Danu dengan hati riangnya langsung mengikuti kembali di belakang dengan tangan penuh belanjaan.
Khalisa sebenarnya sedikit risih dengan situasi saat ini, namun Khalisa mencoba bersikap acuh dan mengikuti kemauan Melin juga Danu.
Bagi Khalisa kedamaian adalah yang utama daripada debat dan ribut yang akhirnya tidak akan ada akhirnya.
Khalisa duduk tenang di kursi belakang dengan Melin di sampingnya yang sibuk dengan handphone nya, sedangkan Danu duduk di samping supir nya.
.
.
.
Tbc.....