Khalisha

Khalisha
Danu......



Kebahagiaan Hendra saat ini sudah lengkap, dengan keberadaan Khalisa dan kedua calon babby nya, namun tidak semua bahagia seperti Hendra.


Danu saat ini masih belum bisa melupakan Khalisa, Danu juga belum menerima kenyataan kalau Khalisa saudaranya juga Tantenya saat ini.


''Apa sebegitu sulitnya kamu melupakan Khalisa?? Mama hanya ingin kamu berbesar hati dan menerima semua kenyataannya, kamu yang akan tersiksa Danu karena tidak bisa berdamai dengan hati. ''


ucap Melin saat membantu mempacking pakaian Danu.


''Entahlah kenapa susah, mungkin Khalisa memiliki tempat spesial di hati Danu. ''


ucap Danu dan lagi lagi membuat Mamanya menghela nafasnya.


''Kamu pergi dengan Papa sekarang dan ingat pesan Mama, jangan pernah membantah dan ikuti maunya Papa yaah. ''


ucap Melin sambil menutup koper yang sudah selesai dengan pakaian milik sang putra.


''Kapan sih Danu gak patuh sama Papa, tawaran Mama sama Omah masih berlaku gak?? ''


ucap Danu tiba tiba dan membuat Melin mengerutkan keningnya.


''Masa lupa, tawaran menjodohkan Danu loh Mama!! masih ingat kan?? ''


ucap Danu kembali mengingatkan Mamanya.


''Kamu memang bakal menerimanya dan yakin?? Mama gak mau kamu terpaksa dan membuat pelarian dengan gadis yang Mama kenalkan. ''


tolak Melin dan membuat Danu mendesah pelan.


''Cara satu satunya melupakan hati kepada wanita itu adalah berkenalan dengan hati yang baru, Danu gak berani memilih calon kembali takutnya malah membuat keluarga malu atau tiba tiba malah saudaraan lagi. ''


ucap Danu yang memang malas memilih calonnya dan menyetujui usulan perjodohannya.


''Baiklah..... Mama akan bicarakan dengan Omah, nanti kalau sudah pas waktunya kita akan adakan pertemuan dengan gadis itu, perjodohan gak semenakutkan pemikiran kamu dan Mama contoh nya, Papa dan Mama akhirnya bisa saling menerima setelah di jodohkan, awalnya memang gak ada cinta tapi karena kita sering bersama maka cinta tumbuh dengan sendirinya. ''


ucap Melin dan Danu hanya menganggukan kepalanya tanpa berkomentar.


Melin langsung mengajak Danu turun ke lantai satu, Danu membawa kopernya mengikuti Mamanya yang terlebih dahulu menuruni tangga.


Semua keluarga sudah menunggu dan Danu juga Melin langsung gabung untuk memakan sarapannya, tidak ada obrolan di meja makan pagi ini semua fokus dengan pemikiran masing masing.


Setelah sarapannya selesai Danu dan Sang Papa langsung pamit karena ada perjalanan bisnis ke kota sebelah, Danu mendamping karena Opah Willi memilih menunggu di perusahaan dan memberikan ruang untuk Danu karena Hendra menolak gabung dengan perusahaan keluarga dan lebih memilih mengembangkan usahanya sendiri.


SEtelah mengantarkan suami dan anaknya, Melin kembali masuk untuk membicarakan kesetujuan Danu dengan perjodohannya yang sempat di tolak Danu.


''Mama sibuk gak?? Melin ada yang mau di bicarakan.


ucap Melin saat menghampiri mertuanya yang sedang duduk di halaman belakang.


''Boleh, memangnya ada yang mau di bicarakan apa?? masalah apa melin?? ''


ucap Omah Maya sambil menepuk kursi kosong di sampingnya.


Melin langsung duduk dan mulai membicarakan tentang Danu pada sang mertua.


''Danu setuju di jodohkan Mama, Danu tadi bicara samaMelin saat packing pakaiannya. ''


ucap Melin dan membuat Omah Maya terdiam.


ucap Omah Maya yang sedikit kurang yakin dengan setujunya Danu.


''Danu sih bilangnya hati yang sakit harus di obati dengan hati yang baru, kita berikan jalan untuk Danu saja Mama dan masalah nantinya gimana Danu dan gadis yang di jodohkannya ajah yang menentukan. ''


ucap Melin dan Omah Maya menyetujuinya.


''Hubungi Hendra dan minta bawa Khalisa buat menginap di rumah ini, Danu kan pergi tiga hari lumayan Mama bisa mengurus kehamilan Khalisa, setiap. Hendra datang pasti tidak mau membawa Khalisa dengan alasan takut Danu gagal move on katanya. ''


ucap Omah Maya dan Melin mengiyakannya.


''Iya Mama..... Melin akan hubungi Hendra dan meminta menginap di rumah ini. ''


ucap Melin dan Omah Maya mengangguk.


.


.


Di perjalanan Danu saat ini....


Danu memilih duduk di depan mendamping supir, menurutnya bersebelahan dengan Sang Papa sama saja bohong karena Papanya tipe datar dan pasti akan membosankan selama di perjalanan.


Danu membuka handphone nya bermain main disana dan selalu melihat aktifitas status Pamannya yaitu Hendra, kadang Danu meringis melihat kebahagiaan sang Paman namun Danu merasa lega karena Khalisa terlihat bahagia dengan pamannya.


''Kamu wanita pertama yang bisa membuatku jatuh cinta sejauh ini Khalisa, entah apa pesona yang kamu miliki dan Om Hendra yang beruntung memilikimu saat ini, semoga kebahagiaan menyertaimu Khalisa. ''


gumam Danu dalam hatinya sambil melihat status pamannya yang menjadikan Khalisa menjadi statusnya di dunia maya.


Perjalanan tiga jam akhirnya sampai di tujuan, Danu Dan Papanya langsung menuju ke perusahaan cabang kota ini, ternyata keduanya ada meeting dengan pemimpin kerajaan bisnis di kota ini.


Meeting berjalan lancar selama dua jam dan di akhiri dengan jabatab tangan sebagai pengawalan kerjasama.


''Saya gak sangka ternyata Pak Haris ini kakak dari Hendra suaminya Khalisa, susah sekali menaklukan Mamanya Khalisa dan saya sudah berbagai cara meminta pendekatan tapi sangat susah. ''


ucapnya sambil tersenyum mengingat penolakan Larisa padanya.


''Larisa memang tertutup orangnya, istri saya saja Kakak sepupunya gak terlalu dekat, mungkin mendiang suaminya sangat tidak bisa di lupakan Pak Marwan kalau seperti itu, coba dekati putrinya dan minta di dekatkan dengan Mamanya. ''


ucap Haris memberi saran karena Larisa tidak akan menolak keinginan Khalisa.


''Terimakasih sarannya Pak Haris dan saya akan mencobanya nanti saat ada waktu yang pas, karena sangat tidak mungkin kan tiba tiba datang meminta di dekatkan dengan Larisa. ''


ucap Marwan kembali dan Haris mengiyakannya.


Danu hanya tersenyum dalam hatinya karena Papanya aneh memberikan saran, menurut Danu Khalisa dan Larisa sama sama wanita yang sulit di dekati, ibu dan anak satu tipe juga satu watak yang sulit di tebak.


.


.


.


Bersambung.......