Khalisha

Khalisha
Bersama Om Hendra



Setelah dari perusahaan Ardi, Hendra mengajak Khalisa ke kantornya karena dia akan mengambil berkas pekerjaannya.


Khalisa menurut dan mengikuti kemanapun Hendra membawanya karena Khalisa merasa nyaman di samping Hendra.


''Sepertinya ada yang salah dengan diriku, masa maunya ajah di ajak sama Om Hendra. ''


gumam Khalisa dalam hatinya sambil menatap ke arah Hendra yang fokus dengan kemudinya dan Hendra hanya tersenyum saat bertatapan dengan tatapan Khalisa.


''Kantornya berarti sama dengan kantor nya Opah Wili dan Danu yah?? ''


ucap Khalisa dan Hendra menggelengkan kepalanya.


''Semenjak Danu kembali dari study nya, Saya fokus dengan perusahaan Saya sendiri, jadi sekarang kita ke kantor saya. ''


ucap Hendra dan Khalisa menganggukan kepalanya.


''Gak masalahkan kalau kamu ikut?? hanya sebentar ajah ngambil berkas. ''


ucap Hendra kembali karena Khalisa hanya diam.


''Gak masalah Om, lagian aku juga di rumah cuma dieum dan nemin Kakek ajah. ''


ucap Khalisa dan Hendra lega mendengarnya.


Perjalanan hanya dua puluh menit akhrinya sampai di sebuah gedung yang lumayan besar dan sama dengan perusahaan Ardi.


Hendra membuka pintu mobil untuk Khalisa dan mengulurkan tangan untuk Khalisa dan Khalisa pun menerima uluran tangannya.


Hendra tersenyum dan menggandeng Khalisa memasuki area kantornya semua mengangguk hormat saat berpapasan dengan Hendra.


''Ini beneran perusahaan milik Om Hendra?? ''


ucap Khalisa saat pintu lift terbuka.


''Kamu meragukan kemampuan saya?? memang gak sebesar perusahaan keluarga Prayoga dan perusahaan Kakek kamu tapi perusahaan ini cukup maju sebanding dengan yang di kelola Ardi. ''


ucap Hendra sambil membuka pintu ruangan kerjanya.


Khalisa mengedarkan pandangannya melihat ruangan yang rapih dan lumayan luas, Khalisa melihat sebuah pintu dan sangat yakin kalau itu adalah ruangan pribadi milik Hendra, Khalisa langsung duduk setelah Hendra mempersilahkannya.


Pintu ruangan di ketuk dan seorang wanita yang masuk sambil mengangguk hormat pada Hendra.


''Rini..... siapkan jus melon sama cemilan yang gak pedas yah, kopi hitam nya satu. ''


ucap Hendra dan Rini pun mengiyakannya.


''Mau cemilan apa lagi Khalisa?? kamu tinggal bilang ajah. ''


ucap Hendra dan Khalisa menggelengkan kepalanya.


''Om kenapa bisa tahu jus kesukaan aku?? ''


ucap Khalisa tiba tiba saat pintu ruanga tertutup kembali dan Hendra tersenyum.


''Gak sengaja mendengarkan saat kamu mengobrol di rumah dengan Kak Melin. ''


ucap Hendra dan Khalisa hanya diam dengan jawaban Hendra.


''Kenapa?? kamu gak nyaman di ruangan ini?? ''


ucap Hendra saat melihat Khalisa memandangi ruangannya.


''Gak juga cuma aneh ajah ada CCTV di ruangan kerja, biasanya kan gak ada. ''


ucap Khalisa dan Hendra tersenyum.


''CCTV ruangan ini hanya terhubung ke handphone Saya saja dan aman dari orang luar, di ruangan ini ada rahasia yang sangat jangan di ketahui orang lain. ''


''Jangan bilang kamu mau meretas CCTV ruangan ini yah Khalisa. ''


ucap Hendra yang menebak tatapan Khalisa dan membuat Khalisa langsung tertawa.


''Jangan berprasangka buruk yah Om atau Om sering membawa wanita ke ruangan ini yah?? makanya CCTV hanya tehubung ke handphone milik Om saja. ''


tebak Khalisa dan membuat Hendra melototkan matanya dengan tuduhan Khalisa.


''Saya tidak pernah tertarik dengan wanita dan hanya kamu yang membuat saya bergetar Khalisa, kamu memakai ajian apa?? sampai sampai saya tertarik pada pandangan pertama. ''


ucap Hendra dan membuat Khalisa memanyunkan bibirnya.


''Jangan salahkan aku yah Om, lagian mana ada yang percaya kalau Om gak pernah jauh cinta dan hanya sama aku, sangat sangat tidak masuk akal. ''


ucap Khalisa yang memang tidak mempercayai ucapan Hendra.


''Yasudah jangan percaya sama saya dan kalau kamu gak percaya bisa tanyakan sama Mama sya yang selalu membuatkan janji dengan wanita alias kencan buta. ''


ucap Hendra yang kembali melanjutkan memprint out berkasnya.


Khalisa langsung diam dan malas untuk berdebat, pintu ruangan di ketuk kembali dan ternyata Rini datang dengan nampan berisi minuman dan beberapa cemilan, Khalisa langsung membantu membawa nampannya dan di simpan di atas meja.


''Terimakasih..... ''


ucap Khalisa dan Rini mengangguk tersenyum.


Rini pamit keluar dari ruangan Hendra dan Khalisa langsung membawa satu gelas kopi yang Hendra pesan lalu menyimpannya di tempat yang di tunjuk oleh Hendra.


''Kalau kamu bosan menunggu, kasih tau yah karena ada beberapa pekerjaan yang harus di selesaikan hari ini juga. ''


ucap Hendra sesaat setelah Khalisa menyimpan kopinya.


''Palingan nanti Kakek atau Mama yang akan marahin Om karena membawa aku lama lama banget. ''


ucap Khalisa dengan nada juteknya dan langsung duduk kembali di sofa sambil memainkan handphone nya membuat Hendra tergelak mendengarnya.


Khalisa penasaran dengan pintu yang ada di dalam ruangan Hendra, Khalisa langsung beranjak menuju pintu setelah melihat Hendra sedang sibuk dengan layar monitornya.


Sebenarnya Hendra mengetahui kalau Khalisa beranjak menuju ruangan pribadinya, namun Hendra membiarkannya karena di dalam ruangan tidak ada rahasia yang di sembunyikannya.


Khalisa berhasil membuka pintunya dan langsung masuk kedalam ruangan, Khalisa meraba dinding dan menekan sakelar lampunya untuk menyalakan lampu dan seketika ruangan langsung terang.


Ruangan yang lumayan luas dengan ranjang yang pas tidak terlalu besar, Khalisa keluar kembali tanpa menutup ruangannya dan langsung menghampiri Hendra.


''Om.... boleh gak aku rebahan di ruangan itu?? ''


ucap Khalisa sambil menunjuk ruangan yeng terbuka.


Hendra tersenyum dan menganggukan kepalanya membuat Khalisa tersenyum sambil berjalan kembali menuju ruangan pribadi Hendra dan langsung menutup kembali ruangannya.


''Nyamannya..... ''


satu kata keluar dari mulut Khalisa saat merebahkan tubuhnya di ranjang.


''Ruangannya gak buruk dan lumayan bisa membuat terlelap sebentar kayanya. ''


ucap Khalisa sambil memeluk guling dan tak lama Khalisa benar benar terlelap.


Di luar ruangan saat ini, Hendra sedang mengerjakan beberapa pekerjaannya yang di berikan oleh asistennya, Hendra pun membiarkan Khalisa di dalam ruanga pribadinya karena sangat aman untuk Khalisa dan kehamilannya daripada duduk di sofa menemani bekerja.


Dua jam kemudian Hendra selesai dengan pekerjaannya dan meregangkan otot tubuhnya, Hendra melirik pintu ruangan yang masih tertutup rapat dimna Khalisa sedang beristirahat dan Hendra yakin kalau Hendra yakin Khalisa tertidur.


Hendra memberanikan diri menghampiri ruangan dan membuka pintunya, Hendra tersenyum saat melihata Khalisa sedang tertidur memeluk gulingnya.


Hendra langsung menghampiri Khalisa dan merebahkan tubuhnya