Khalisha

Khalisha
Tak sadarkan diri.....



Pagi hari yang terbiasa dengan sinar matahari yang cerah setiap harinya, hari ini begitu berbeda karena awan tebal menutupi matahari.


Rintik hujan pun turun dengan sendirinya dan membuat Khalisa sangat enggan untuk membuka matanya.


Selepas melaksanakan sholat subuh, Khalisa memilih tidur kembali dan hasilnya adalah, pagi ini Khalisa terlambat bangun dan cuaca pun mendukung sekali.


Khalisa turun ke lantai satu rumahnya masih dengan menggunakan piyama tidurnya, padahal waktu sudah menunjukan pukul tujuh pagi, Kakek Permana menggelengkan kepalanya melihat sang cucu.


''Tumben sudah siang gini masih pake piyama, kamu gak ngantor Sayang?? ''


ucap Sang Mama saat putrinya duduk di samping Kakek Permana.


''Cuacanya malah mendukung untuk bolos kerja Mama, Khalisa juga males mandi pagi. ''


ucap Khalisa dan membuat Mama juga Kakek nya keheranan dengan tingkah Khalisa.


''Kamu baik baik ajah kan sayang?? ''


ucap Kakek Permana dan Khalisa pun mengangguk.


''Baik baik ajah Kakek, memangnya Khalisa gak boleh malas malasan yah?? ''


ucap Khalisa


''Boleh dong sayang, bahkan tujuh keturunan Permana tidak akan sampai kelaparan kalau pun kamu gak bekerja sekalipun. ''


ucap Kakek Permana dengan nada bangganya dan Khalisa hanya memanuunkan bibirnya mendengar kesombongan sang Kakek.


''Sudah jangan ribut, ayo lanjutkan sarapannya Ayah dan kamu Sayang, mau sarapan sama roti selai atau nasi goreng?? ''


ucap Larisa menengahi pembicaraan cucu dan kakek di hadapannya.


''Khalisa mau minum susu soya ajah Maa..... lagi gak mau sarapan apapun. ''


ucap Khalisa dan Larisa pun langsung meminta kepada kepala pelayan untuk membuatkan susu soya yang di inginkan Khalisa.


''Susu soya ajah gak akan bisa mengisi perut loh, ayo makan yang benar Khalisa. ''


ucap Kakek Permana dan Khalisa menggelengkan kepalanya.


Saat Kakek Permana akan menyiapkan roti selai untuk Khalisa ternyata membuat Khalisa langsung pucat dan tak lama Khalisa berlari menuju kamar mandi dekat dapur dan memuntahkan isi perutnya yang baru terisi air mineral.


Larisa dan Kakek Permana langsung mengejar Khalisa ke kamar mandi, Larisa sangat mengkhawatirkan putrinya dan langsung memberikannya teh hangat yang di siapkan pelayan.


''Kamu kenapa sayang?? masuk angin atau asam lambung kamu naik?? ''


ucap Kakek Permana sambil mengusap punggung Khalisa.


''Gak tau Kakek dan lagian juga Khalisa gak punya riwayat asam lambung. ''


jawab Khalisa setelah meminum teh hangat yang di berikan mamanya.


Khalisa langsung di bantu berdiri oleh Larisa namun saat akan berjalan, pandangan Khalisa menghitam dan tak lama Khalisa tak sadarkan diri, membuat seisi rumah gaduh.


Khalisa di bopong menuju kamar tamu oleh kakek Permana dan Larisa langsung menelphone dokter keluarga untuk segera datang ke kediaman permana.


''Ya Allah Khalisa cucuku, kamu kenapa sayang?? Lara kamu sudah menghubungi dokter belum sih?? lama sekali. ''


ucap Kakek Permana dengan nada Khawatir sambil mengusap kepala Khalisa.


''Sudah Ayah dan dokternya sedang dalam perjalanan kesini. ''


jawab Larisa sambil duduk di samping putrinya dan menggenggam tangan Khalisa.


''Ada sama kamu sayang?? Mama khawatir sekali. ''


ucap Larisa sambil menggenggam tangan Khalisa.


Pelayan menghampiri dan memberitahukan kalau dokter sudah datang, Kakek Permana langsung meminta dokter memeriksa kondisi putrinya, dokter pun langsung memeriksa walaupun masih bertanya tanya siapa gadis yang sedang tak sadarkan diri ini.


Beberapa menit kemudian Khalisa selesai di periksa dan Dokter pun langsung mengajak Larisa keluar dari kamar di ikuti juga oleh Kakek Permana.


''Bagaimana kondisi cucuku?? kenapa bisa tak sadarkan diri tiba tiba?? ''


ucap Kakek Permana penuh Khawatir.


ucap dokter dan membuat kakek permana juga Larisa tersentak.


''Hamil..... ''


ucap kompak Larisa juga Kakek permana dan di iyakan oleh dokter.


''Setelah sadar bawa langsung ke rumah sakit, tunggu beberapa menit lagi akan sadar. ''


ucap Dokter kembali dan Kakek permana langsung menghela nafasnya.


Larisa langsung mengatarkan dokter keluar dari kamar dan Kakek Permana memilih menunggu Khalisa sadarkan diri, Kakek Permana langsung membelai puncak kepala sang cucu dengan penuh sayang.


''Kenapa kamu menghadapi semua ini sendiri sayang, ada Kakek yang akan menjaga kamu, ayo sadar Khalisa dan ceritakan ke Kakek siapa laki laki yang menodai kamu. ''


ucap Kakek Permana dengan nada sendunya.


Larisa kembali menghampiri Khalisa setelah mengantarkan dokter sampi pintu dan Larisa duduk di berjongkok di samping Khalisa yang masih tak sadarkan diri.


''Kamu sudah bilang kan jangan sampai bocor tentang kehamilan cucuku. ''


ucap Kakek Permana dan Larisa mengangguk.


''Sudah Ayah dan saat ini Lara takut kalau Danu yang menghamili Khalisa, bagaimana Ayah?? ''


ucap Larisa sambil mengusap pipi Khalisa.


''Bukan Lara, menurut firasat Ayah bukan Danu karena Danu gak akan seberani itu walaupun dia sedikit berani tapi gak akan sampai jauh. ''


ucap kakek Permana yang memang mengetahui sifat Danu.


''Terus siapa Ayah?? ''


penasaran Lara dan Kakek Permana terdiam sambil berfikir.


''Kita tunggu Khalisa sadar dan tanyakan siapa, Ayah akan membuat perhitungan pada pemuda yang menodai keturunan Permana. ''


ucap Kakek Permana yang meminta menunggu Khalisa sadarkan diri.


Larisa dan Kakek Permana benar benar menunggu Khalisa sadarkan diri di dalam kamar tamu, gurat wajah penuh kecemasan sangat terlihat di wajah kedua nya, menunggu beberapa menit akhirnya Khalisa membuka matanya dan Larisa langsung memberikan minum untuk putrinya.


Kakek Permana terus menatap sang cucu dan menghembuskan nafasnya setelah melihat wajah pucat milik Khalisa.


''Dengarkan Kakek baik baik Sayang, kenapa kamu merahasiakan semuanya?? apa Kakek dan Mama kamu gak berarti buat kamu Sayang?? ''


ucap Kakek Permana saat Khalisa selesai meminum minumnya dan duduk bersandar.


Khalisa langsung menunduk dan tak lama dia menangis sesegukan, Larisa langsung membawa putrinya kedalam dekapanya dan Kakek Permana membelai punggung cucunya.


''Maaf...... ''


ucap Khalisa di sela sela tangisannya.


''Gak usah minta maaf sayang, Mama sama Kakek ada untuk kamu dan jangan takut kalau kami akan meninggalkan kamu, karena semua gak benar. Walau bagaimana pun kamu adalah Putri kandung Mama dan keturunan Mama satu satunya, percayalah pada kami sayang, ceritakan bagaimana semua bisa terjadi. ''


ucap Larisa dengan Nada lembutnya dan Khalisa semakin bersalah menatapnya.


''Siapa yang menodai kamu?? Kakek akan buat perhitungan dan meminta bertanggung jawab atas tindakannya, bukan Danu kan pelakunya?? ''


ucap Kakek Permana dan Khalisa menggelengkan kepalanya.


''Bukan Kakek, bukan Danu dan Khalisa gak mau menikah, Khalisa gak mau dia bertanggung jawab. ''


ucap Khalisa di sela sela tangisannya.


.


.


.


Bersambung.......