Khalisha

Khalisha
Ngidam mungkin......



Larisa langsung menyapa Omah Maya dan Opah Wili, membiarkan Khalisa di jaga oleh Hendra agar Khalisa bisa membuka hatinya untuk menerima pernikahan nya dengan Hendra.


''Tante kira kamu gak akan datang lagi ke tanah air dan menetap di negara luar, ternyata kamu memilih yang tepat yah Lara. ''


ucap Omah Maya saat berbicara dengan Larisa.


''Lara kembali karena identitas Mas ilham sudah terbuka dan Lara juga sedih karena Mas ilham ternyata sudah meninggal dunia, Khalisa putri Lara menjadi sebatang kara setelah nenek nya meninggal, Lara malah telat menemukan keberadaan Khalisa karena memang semua data nya susah di lacak. ''


ucap Larisa dan Omah Maya langsung terdiam karena memang mengetahui cerita tentang Khalisa.


''Khalisa gadis yang baik dan Tante juga sudah menganggap Khalisa cucu Tante, sama seperti Danu dan Daren. ''


ucap Omah Maya dan Larisa tersenyum senang.


Orang tua Hendra dan Khalisa sedang sibuk mendiskusikan hari pernikahan Khalisa dan Hendra, sedangkan Khalisa saat ini sedang mendengarkan semua yang di ucapkan oleh Hendra.


''Terimakasih Khalisa karena kamu setuju untuk menikah, Saya janji akan menjaga kamu dan mencintai kamu sepenuh hati, terimakasih juga karena kamu telah mengandung anak saya. ''


ucap Hendra dengan nada senangnya karena Khalisa sudah setuju untuk menikah.


''Harusnya nanti setelah lahir anaknya baru boleh menikah. ''


ucap Khalisa dan berhasil membuat Hendra menghela nafasnya.


''Saya gak jamin kamu akan tetap tinggal kalau menunggu anak lahir, nanti kita tinggal menikah lagi saat anaknya lahir dan kamu sekarang fokus pulihkan diri dulu yah, nanti siang jadwal USG kehamilan kamu dan Saya akan mendampingi kamu. ''


ucap Hendra sambil mengusap rambut Khalisa yang masih setia dengan wajah juteknya.


Rasa sakit di wajahnya sudah hilang karena Khalisa bersedia menikah dengannya, Hendra tidak peduli dengan Khalisa yang masih belum mencintainya tapi Hendra akan membuat Khalisa mencintainya dan bergantung padanya.


''Hendra kami mau makan siang dulu dan kamu jaga Khalisa yah, nanti di bungkuskan makanan buat kamu sama Om dan itu makanan Khalisa suapi sama kamu, bila perlu paksa suruh makan. ''


ucap Kakek Permana saat menghampiri Hendra dan Hendra mengangguk setuju.


Larisa dan Omah Maya mendekat ke arah Khalisa sebelum mereka keluar untuk makan siang yang sempat tertunda.


''Mama pergi dulu yah Sayang, ingat kamu harus makan karena janin kamu butuh asupan makanan, biar kamu juga cepat pulih. ''


ucap Larisa yang pamit dan Khalisa hanya mengangguk.


Saat ini hanya Hendra yang berada di ruangan menjaga Khalisa, Hendra langsung beranjak mengambil troli berisi makanan untuk Khalisa.


''Makan dulu yah biar kamu Pulih dan harus minum obat juga kan. ''


ucap Hendra sambil menyiapkan makanannya dengan begitu telaten.


Khalisa hanya menatap setiap pergerakan Hendra, Hendra membantu Khalisa untuk duduk dan Hendra sudah siap menyuapi Khalisa.


Tidak ada penolakan dari Khalisa karena memang perutnya terasa sangat lapar, sungguh ajaib makanan rumah sakit terasa enak di mulut Khalisa, entah karena janinnya yang ingin di suapi oleh Ayah biologisnya, entah memang Khalisa sendiri yang ingin Hendra menyuapinya.


''Gadis yang pintar, makanan nya habis ternyata dan biasanya kan makanan rumah sakit gak enak, pasien pasti gak mau menghabiskannya tapi kamu berbeda dari yang lain, minum dulu airnya. ''


ucap Hendra sambil memberikan air minum untuk Khalisa.


Khalisa hanya diam karena memang dia sendiri juga merasa aneh, kenapa bisa bisanya menikmati makanan yang di suapi oleh Hendra.


''Om..... bantuin aku ke kamar mandi, pengen pipis soalnya. ''


ucap Khalisa yang memang ingin buang air kecil.


Hendra mengangguk dan langsung menggendong Khalisa, sedangkan Khalisa memegang botil infusnya agar tidak jatuh.


ucap Hendra yang selesai mendudukan Khalisa dan menggantungkan botol infusnya yang ada di kamar mandi.


Khalisa segera buang air kecil dan setelah membasuhnya, Khalisa langsung mencuci mukanya lalu memanggil Hendra kembali.


Hendra menggong Khalisa dan mendudukannya di berangkar.


Khalisa melihat berangkarnya sudah rapih dan alat alat bekas makan pun sudah di simpan di pojokan ruangan oleh Hendra, Khalisa memilih duduk bersandar dan meluruskan kakinya.


''Kamu kenapa diam ajah Khalisa?? gak biasanya kamu pendiam gini, masih marah sama Saya?? ''


ucap Hendra dan Khalisa menggelengkan kepalanya.


''Apa Om Hendra benar benar mencintai aku?? bukan hanya obsesi atau mau bertanggung jawab karena aku sedang hamil?? ''


ucap Khalisa tiba tiba dan membuat Hendra menghela nafasnya sambil menggenggam tangan Khalisa.


''Saya benar benar tulus mencintai kamu Khalisa, kamu orang pertama yang membuat Saya jatuh hati, saya sengaja menjerat raga kamu dan saya akan berusaha merebut hati kamu, kenapa menanyakan hal itu?? ''


ucap Hendra dan Khalisa hanya diam sambil menatap Hendra yang sedang berbicara padanya.


''Gak apa apa cuma ngeganjal ajah di hati. ''


jawab Khalisa dan Hendra langsung tersenyum.


Khalisa membuang pandangan nya saat Hendra tersenyum kepadanya, sungguh Khalisa beruntung melihat senyum Hendra yang sangat jarang di tampakkan di wajahnya.


Pintu ruangan Khalisa terbuka dan ternyata semua keluarga yang makan siang telah datang, bahkan ada Melin dan Haris yang ikut masuk ke ruangan Khalisa.


''Bagaimana keadaan kamu Khalisa?? maaf Tante telat datangnya. ''


ucap melin dan Khalisa tersenyum.


Hendra langsung memakan makanan yang di bawakan oleh Kakek Permana, Khalisa sedang di temani Melin dan Mamanya.


''Pernikahan kalian akan di laksanakan minggu depan, lebih cepat lebih baik dan sesuai dengan kemauan Khalisa kalau pernikahannya tertutup cuma untuk keluarga yang hadir. ''


ucap Kakek Permana dan semua mengiyakannya sedangkan Khalisa hanya pasrah dengan keputusan Sang kakek.


''Gak kebayang Om saat Danu mengetahui kalau Khalisa masih saudaranya dan akan menikah dengan Om nya. ''


ucap Haris yang kepikiran tentang putra nya.


''Semua juga di luar kehendak kita Haris, takdir sudah menjalankan nya dengan sangat penuh kejutan. ''


ucap Kakek Permana dan Haris hanya mengangguk.


''Biar nanti Papa yang akan jelaskan ke Danu, papa yakin Danu akan menerimanya dan palingan hanya menangis sebentar. ''


ucap Opah Wili yang percaya kalau cucunya akan menerima kenyataan asalkan menjelaskannya secara baik baik.


.


.


.


tbc.....