Khalisha

Khalisha
Khalisa.....



Dua bulan berlalu......


Kandungan Khalisa saat ini berusia empat bulan dan perutnya begitu membuncit, karena kedua janinnya tumbuh dengan sehat, Khalisa dan Hendra hanya satu minggu bertahan di apartemen karena saat Kakek Permana pulang mereka kembali ke kediaman Kakek Permana.


Saat ini kediaman Kakek permana ramai dengan kedatangan orang orang yang akan mengikuti pengajian syukuran empat bulan kehamilan Khalisa.


Khalisa dan Hendra memakai pakaian senada duduk berdampingan sambil mengikuti setiap proses acara syukuran nya, hingga tiga jam kemudian acara selesai dan semua tamu undanganpun sudah meninggalkan kediaman Permana.


Saat ini hanya ada keluarga yang masih berkumpul. sambil berbincang di ruang tengah kediaman Permana, ada sedikit perbedaan siang ini karena Mama Larisa kedatangan seorang laki laki yang sengaja di undang Kakek Permana.


''Lara..... sebaiknya kamu sudah waktunya menata masa depan kamu kembali, Almarhum suami kamu sudah tenang di alam sana dan putri kamu juga sudah bahagia dengan suaminya. ''


ucap Melin saat mereka berdua di dapur menyiapkan beberapa cemilan.


''Entahlah Mba.... Lara sepertinya akan tetap sendiri hingga nanti, Lara tidak membutuhkan apapun lagi untuk saat ini. ''


ucap Larisa dan membuat Melin menghembuskan nafasnya.


''Jangan berbicara seperti itu Lara, kamu butuh bahu untuk bersandar dan teman untuk berbagi cerita suka ataupun duka, intinya kamu butuh pendamping. ''


ucap Melin yang kembali memberi penjelasan kepada adik sepupunya.


''Nanti akan Lara pikirkan dan bukan sekarang. ''


ucap Larisa dan langsung membawa nampan berisi makanan menuju area utama kediamannya.


Khalisa duduk di atas sofa khusus yang di belikan oleh Hendra, Khalisa bisa santai tanpa merasa kurang nyaman dengan perutnya yang semakin menonjol.


Larisa menghampiri putrinya sambil membawa camilan kesukaan Khalisa, Khalisa tersenyum dan menerima camilannya.


''Mama istirahat jangan di dapur terus, dari tadi Khalisa lihat Mama sibuk di dapur. ''


ucap Khalisa sambil memakan makanannya.


''Mama membantu Tante Melin menyiapkan makanan ajah dan gak ada yang lain lagi ko. ''


ucap Larisa dan Khalisa mengangguk tersenyum.


''Mama..... yang lagi mengobrol sama Kakek itu siapa?? pacarnya Mama yaa?? ''


ucap Khalisa dan membuat Larisa melototkan matanya.


''Kamu jangan menyebarkan gosip yaa Sayang, siapa yang bilang ke kamu?? ''


ucap Larisa sambil menatap ke arah sang putri.


''Eummmm..... tadi kan Mas Hendra yang nanyain ke aku, trus kami nerka ajah kalau dia Pacarnya Mama. ''


ucap Khalisa dengan senyum cengengesnya.


''Hush.... kamu ngawur kalau bicara, jangan menyebar hoak nanti bahaya. ''


ucap Larisa sambil gelagapan dengan ucapan putrinya dan membuat Khalisa tertawa.


''Sepertinya dia laki laki baik loh, mau Khalisa selidiki gak Maa?? demi Mama loh Khalisa akan meretas identitasnya. ''


bisik Khalisa di telinga sang Mama dan membuat Larisa menggelengkan kepalanya.


''Ternyata di wariskan ke kamu yaa kehebatan Papa, ingat Sayang pesan Mama ''Jangan sembarangan meretas identitas orang lain, nantinya akan jadi pelanggaran'' Jangan sampai orang lain tahu yaa. ''


ucap Larisa dan Khalisa tersenyum.


''Iyaa Mama tenang ajah yaa, gimana mau Khalisa cari tahu gak?? ''


ucap Khalisa sambil mengedipkan matanya.


''Ya ampun.... kamu ini belajar nakal dari siapa?? Mama gak tertarik dan gak mau tahu. ''


tolak Larisa dan Khalisa memanyunkan bibirnya.


Larisa menggelengkan kepalanya melihat reaksi putrinya, Larisa menatap mata sang putri yang mempunyai tatapan sama dengan mendiang suaminya namun wajahnya mirip dengan nya.


''Kenapa kamu mau meretas identitas laki laki itu?? apa kamu gak ada niatan seperti kakek kamu kan?? ''


ucap Larisa kembali saat putrinya terdiam dan memakan makanannya.


''Khalisa hanya ingin tahu saja Mama, dari tatapan nya Khalisa bisa lihat kalau tatapannya memancarkan banyak cinta untuk Mama, tatapannya sama seperti tatapan Mas Hendra ke Khalisa loh. ''


''Ahh.... ternyata Mama sudah saling kenal yaa, boleh minta nomer handphone nya?? ''


''Boleh..... nanti Mama kasih tapi jangan sekarang melakukannya karena masih ramai, takutnya ada yang melihat. ''


''Sip..... nanti kirim kan yaa Mama dan leptop Khalisa juga ada di kamar, nanti malam saja biar gak ada gangguan signal. ''


''Kamu lanjutkan makannya yaa, Mama mau kumpul sama mertua kamu. ''


ucap Larisa sambil beranjak dan berjalan menuju ke arah Omah Maya.


Larisa pergi karena tidak nyaman saat laki laki itu memperhatikannya karena memang jaraknya lumayan dekat dengan tempat duduk sang putri, Larisa memilih menuju kumpulan Omah Maya karena lumayan jauh dari jangkauan laki laki itu.


Hendra langsung menghampiri Khalisa yang terlihat sendirian sambil memakan cemilan, Hendra mengacak rambut Khalisa dan membuat Khalisa menatapnya dengan tatapan horor.


''Maaf Sayang..... habisnya kamu gemesin. ''


ucap Hendra saat melihat tatapan Istrinya yang kesal.


''Mas sudah tahu siapa laki laki itu?? ''


ucap Khalisa sambil menyuapi Hendra dengan makanan yang ada di tangannya.


''Sudah.... ternyata dia pengusaha dari kota sebelah, dia datang karena undanga dari Kakek kamu loh, ternyata Papa kenal dengan dia kata Papa sih dia itu pebisnis handal di kota sebelah dan memiliki cabang banyak di setiap penjuru kota. ''


jawab Hendra sambil mengunyah makanannya.


''Waah..... benar benar sultan, statusnya apa Mas?? ''


ucap Khalisa dan membuat Hendra langsung menatap ke arah Khalisa dengan penuh selidik.


''Ngapain nanya statusnya?? kamu naksir sama dia?? jangan harap Mas mau lepaskan kamu. ''


ucap Hendra dan membuat Khalisa langsung memukul lengan suaminya.


''Mas kalau bicara ngawur deh, masa aku mau sama Om Om sih dan lagian aku sudah punya Mas dan gak butuh yang lain. ''


''Trus buat apa menanyakan status dia?? ''


''Hadeuuh..... masa kamu gak peka sih, aku ajah yang jauh disini bisa tahu, Mas yang barengan berbincang malah gak tahu. ''


''Buat apa selidik orang lain, gak penting Sayang dan Mas gak tertarik. ''


''Aishh.....Mas tau gak sih??


''Gak tau. ''


''Jangan jawab dulu kan aku belum selesai bicara, mas tau gak sih kalau Om Om itu naksir Mama?? ''


ucap kesal Khalisa dan membuat suaminya melototkan matanya.


''Oh ya ampun..... pantesan dia menanyakan Mama Lara terus, ternyata naksir. ''


ucap Hendra dan membuat Khalisa kesal mendengarnya.


''Kamu maa kudet ahh, ayo jawab Mas Hendra. Om Om itu Statusnya apa?? ''


ucap Khalisa sekian kali menanyakan status laki laki yang naksir sang Mama.


''Dia masih bujangan alias bujang lapuk, entah apa yang ada di dalam pikirannya saat ini, usia nya sudah matang tapi bisnis dan karir yang di kejar. ''


ucap Hendra dan membuat Khalisa memanyunkan bibirnya.


''Gak sadar kalau bicara, kamu gak jauh beda sama Om Om itu tau. ''


ucap Khaliaa dan sekarang Hendra yang memanyunkan bibirnya.


.


.


.


Bersambung......