Khalisha

Khalisha
merelakannya......



Danu berfikir kalau takdir tidak adil untuknya, dia sangat mencintai Khalisa namun dia tidak dapat memilikinya karena Khalisa adalah calon istri Om nya dan Khalisa juga saudarinya walaupun tidak satu ibu tapi satu buyut dengannya.


''Miris sekali yah nasib aku, di saat aku bisa mencintai seorang wanita dengan serius, malah takdir membalikkan semuanya, sebenarnya aku ingin protes dengan takdir tapi kemana aku protesnya dan mungkin aku harus menerimanya dengan Ikhlas. ''


ucap Danu Setelah menyuapi buah untuk Khalisa dan membuat Khalisa berkaca kaca.


''Kamu gadis yang baik Khalisa dan berhak mendapatkan yang baik juga, Om Hendra laki laki baik dan bertanggung jawab walaupun mendapatkan kamu dengan cara yang licik, tapi percayalah kalau Om Hendra sangat baik, kalau laki laki lain yang mendapatkan kamu pastinya aku gak akan ikhlas tapi Om Hendra yang mendapatkan kamu, semoga kamu bahagia Khalisa dan aku akan anggap kamu adikku setelah Daren. ''


ucap Danu kembali dan membuat Khalisa menetes kan air matanya karena kata kata Danu begitu menyentuhnya.


''Terimakasih Danu dan maafkan aku karena semua di luar kuasaku, semoga kamu mendapatkan wanita yang lebih dari aku yah. ''


ucap Khalisa dan Danu menggelengkan kepalanya sambil menghapus air matanya Khalisa.


''Kenapa kamu gak memberitahu aku yang sebenarnya?? kenapa kamu menutupi kebejatan Om Hendra?? dan kenapa kamu gak cerita kalau kamu itu anaknya Tante Lara?? ''


ucap Danu dan Khalisa menggelengkan kepalanya karena memang bingung.


''Danu...awalnya aku hanya ingin memendam semua sendiri dan menganggap kalau perbuatan Om Hendra itu buang sial, tapi semua malah jadi rumit karena aku malah hamil dan aku tadinya gak pernah yakin kalau sampai hamil karena melakukannya hanya satu kali, tapi tuhan berkata lain, kalau menceritakan tentang jati diri aku semua juga di luar kuasaku Danu, tadinya aku, Mama dan Kakek mau langsung datang, tapi banyak sekali rintangannya dari mulai Omah sakit dan Mama sama Kakek ke luar kota, ehh..... malah memberitahu nya saat ada kejadian seperti ini. ''


jelas Khalisa dan Danu menghembuskan nafasnya.


''Semua memang sudah takdirnya Khalisa, oh iya.... ini hadiah pernikahan dari aku, terima yah Khalisa dan maaf kalau nanti saat pernikahannya aku gak akan datang. ''


ucap Danu sambil mengeluarkan sebuah kotak dan ternyata isinya adalah kalung yang begitu indah.


Khalisa menerimanya dan meminta Danu langsung memasangkan kalungnya di leher Khalisa, Danu dengan senang hati menerimanya dan memakaikannya.


''Cantik sekali saat di pakai oleh kamu Khalisa, terimakasih karena mau menerimnya. ''


ucap Danu setelah memakaikan kalungnya.


''Kenapa gak akan datang ke pernikahannya?? kamu kan keponakan Om Hendra loh, datang yah karena acaranya juga tertutup tanpa ada undangan luar hanya keluarga ajah. ''


ucap Khalisa dan Danu menggelengka kepalanya.


''Takut gak kuat hatinya, sudah jagan bahas yang lain lain yah, pokonya aku doakan yang terbaik untuk kamu Khalisa, boleh aku peluk kamu?? ''


ucap Danu dan Khalisa langsung mengangguk.


Danu langsung membawa Khalisa kedalam dekapannya, rasa sayangnya begitu dalam tapi semua tidak mungkin terjadi, Danu akan berusaha ikhlas.


Danu mencium kening Khalisa saat melepaskan pelukannya dan Khalisa hanya menatap wajah Danu.


''Aku pulang yah Khalisa, takutnya ada yang marah karena dekat dekat dengan kamu, ingat satu hal Khalisa. Aku menyayangi kamu. ''


ucap Danu dan Khalisa mengangguk.


Danu beranjak dari berangkar dan langsung pamit pulang sebelum ada yang datang dan beranggapan macam macam, Khalisa langsung sendu menatap kepergian Danu, entah karena hormon kehamilan atau memang dia sedih, Khalisa kembali meneteskan air matanya.


Di luar ruangan Khalisa ternyata Danu sedang duduk di samping Omahnya, Omah Maya mendengar ucapan Danu pada Khalisa dan merasa lega mendengarnya.


''Kamu memang cucu omah yang paling hebat, Omah akan dukung apapun yag kamu putuskan, Omah gak akan memaksa kamu untuk datang ke pernikahan Om kamu. ''


ucap Omah Maya dan Danu mengiyakannya.


''Maaf karena Danu gak bisa hadir yah Omah, hatinya Danu masih takut dan Danu masih belajar melupakannya. ''


ucap Danu dan Omah Maya hanya tersenyum sambil mengelus lengan Khalisa.


Danu pamit pada Omah nya dan meminta segera masuk ke ruangan Khalisa takutnya Khalisa membutuhkan sesuatu karena di ruangan tidak ada siapapun.


''Ternyata Khalisa mirip banget Tante Lara, pantesan Danu pernah nyangka pas awal kenal dengan Khalisa, maaf karena Danu semua terjadi Tante. ''


ucap Danu dan Larisa menggelengkan kepalanya.


''Bukan salah kamu dan semua memang sudah takdirnya loh, kamu sudah bertemu Khalisa?? ''


ucap Lara sambil memperhatikan keponakannya.


''Sudah dan sekarang Khalisa di temenin sama Omah, Danu pamit yah mau ke kantor lagi banyak kerjaan menunggu. ''


ucap Danu dan Larisa mengangguk.


Melin hanya memandang putranya saat setelah putranya pamit padanya, Larisa menyadarkannya dan langsung menggandeng Melin menuju lantai dimana ruangan Khalisa berada.


''Lara yakin kalau Danu akan baik baik ajah kak, jangan khawatir yaah. ''


ucap Larisa dan Melin pun mengangguk.


''Mba hanya takut kejadian waktu itu terulang kembali, susah sekali untuk memulihkan Danu nya. ''


ucap Melin dan Larisa pun hanya terdiam karena bingung harus berbicara apa.


Setelah sampai di depan ruangan rawat Khalisa, Larisa mengetuk pintunya dan langsung masuk di ikuti oleh Melin.


''Hallo Sayang..... ''


ucap Larisa sambil berjalan menghampiri Khalisa memeluknya.


''Hallo Mama, hai Tante Melin....''


ucap Khalisa dan Melin tersenyum mengangguk.


''Jadwal USG nya pukul dua siang Lara dan kita tunggu Hendra karena tadi Hendra meminta ikut saat USG. ''


ucap Omah Maya dan Larisa mengangguk.


''Pastilah menunggu Hendra karena nantinya pasti di tanyakan ayah dari janinnya, Tante mau makan dulu gak?? Lara membelikan makan siang juga untuk Tante loh. ''


ucap Larisa dan Omah Maya langsung tersenyum.


''Tante sudah makan tadi di kantin saat Danu datang dan memberikan waktu pada Danu untuk berbicara dengan Khalisa. ''


ucap omah Maya dan Larisa mengiyakannya.


''Lara sebaiknya kita makan kalau gitu, Mama udah makan soalnya dan nanti buat Hendra ajah makanannya. ''


ucap Melin dan di setujui oleh omah maya.


Larisa langsung duduk di sofa dan bergabung memakan makanannya dengan Melin, mereka berdua sibuk mengobrol sedangkan Khalisa memilih untuk bersandar sambil menunggu Mamanya selesai makan karena Khalisa sedang menanyakan Handphone yang tidak terbawa.


.


.


.


bersambung....