Khalisha

Khalisha
menerima kenyataan.....



Sore menjelang di rumah sakit......


Hendra langsung meminta seluruh keluarga pulang dan Hendra yang akan menunggu Khalisa di rumah sakit, awalnya Larisa menolak namun Kakek Permana memberikan pengertiandan akhirnya Larisa menyetujuinya.


''Saya mandi dulu yah, kamu gak apa apa kan sendiri dulu?? ''


ucap Hendra dan membuat Khalisa memanyunkan bibirnya karena jarak kamar mandi hanya lima langkah dari berangkar Khalisa.


Hendra tersenyum dan segera masuk kedalam kamar mandi sebelum Khalisa mengomel karena terlihat sekali dari raut wajah kesalnya.


''Lebay nya luar biasa, Om Hendra mirip ABG labil jadinya. ''


ucap kesal Khalisa dan langsung memainkn handphone milik Hendra.


Khalisa tidak kesulitan saat membuka layar kunci handpone nya dan Khalisa membulatkan matanya saat melihat walpaper handphone Hendra adalah wajahnya.


''Kapan ini foto di ambil, huuh.... pelanggaran sekali mengambil foto orang tanpa permisi. ''


ucap Khalisa sambil membuka menu utama handphone nya.


Khalisa menggelengkan kepalnya melihat banyaknya foto dirinya yang ada di galeri handphone milik Hendra, Hendra mirip penguntit yang memiliki berbagai macam foto Khalisa.


''Sebucin itu kah Om Hendra sampai menyimpan fotoku banyak sekali sih. ''


ucap Khalisa sambil menggelengkan kepalanya.


Khalisa sibuk dengan handphonenya dan tidak sadar kalau Hendra selesai dengan kamar mandi nya, Hendra tersenyum saat melihat Khalisa memainkan handphone nya karena Hendra memang sengaja tidak mengunci layar handphone nya dengan sandi tapi hanya kunci manual.


''Mau memakan sesuatu gak?? Saya mau ke kantin membeli makanan. ''


ucap Hendra dan Khalisa langsng berfikir.


''Apa ajah Om yang penting jangan pedas dan Khalisa mau buah buahan juga yah. ''


ucap Khalisa dan Hendra mengangguk mengiyakannya.


''Kamu gak apa apa di tinggal sendiri?? palingan tiga puluh menitan lah. ''


ucap Hendra dan Khalisa menggelengkan kepalanya.


''Gak apa apa Om.... udah sana nanti keburu malam loh. ''


ucap Khalisa dan Hendra mengiyakannya.


Hendra memakai jaketnya dan langsung keluar dari ruangan Khalisa untuk segera membeli makan malamnya dan juga makanan untuk Khalisa.


Di kediaman Prayoga saat ini.....


Danu tiba di rumahnya beberapa menit setelah keluarganya tiba, Danu belum mengetahui tentang Khalisa dan Hendra, keluarganya pun masih merangkai kata untuk menjelaskannya karena Danu tipekal orang yang memerlukan kejelasan dalam penjelasan.


''Danu..... setelah makan malam nanti, Opah mau bicara sama kamu yah, jangan langsung ke kamar. ''


ucap Opah Wili saat melihat cucunya berjalan menuju tangga dan Danu hanya mengangguk.


''Mudah mudahan anak itu bisa mengerti, kita menjelaskannya harus pelan pelan. ''


ucap Omah Maya saat Danu berjalan menaiki tangga.


''Nanti Melin bantu juga menjelaskannya Papa. ''


ucap Melin dan di iyakan oleh Opah Wili.


Melin langsung menuju ruang makan untuk melihat menu makan malamnya, setelah dirasa cukup. Melin langsung membantu pelayan menata makanan di atas meja makan.


''Besok kamu antarkan Lara ke butik Mama, pilihkan gaun dan jas yang pas untuk Khalisa dan Hendra, Mama akan ke rumah sakit sekalian membawa makanan untuk Hendra, kamu hubungi Lara takutnya malah ke rumah sakit lagi. ''


ucap Omah Maya dan Melin mengiyakannya.


Setelah Danu gabung makan malam, makan malampun di mulai namun Danu merasa heran karena makan malam sekarang hanya hening tanpa ada obrolan seperti biasanya dan Danu pun kembali melanjutkan makannya karena dia malas untuk memulai pembicaraan.


Setelah makan malam selesai, Opah Wili menepati janjinya meminta Danu ikut ke ruang keluarga, Omah Maya pun ikut gabung, hanya Haris dan Daren yang gak ikut gabung, sedangkan Melin sedang menyiapkan minuman pendamping mengobrol.


''Danu seperti mau di dakwa deh Opah, ada apa sih?? ''


ucap Danu saat melihat Omah dan Opah nya.


''Ngawur kamu itu kalau bicara, memangnya kamu punya salah yah sampai bilang mau di dakwa. ''


ucap Omah Maya dan Danu langsung menggelengkan kepalanya.


''Sebentar nunggu Mama kamu dulu baru kita mulai bicaranya, Opah cuma mau kamu dengarkan dan jangan memotong ucapan Opah nantinya. ''


ucap Opah Wili dan Danu menyetujuinya.


Melin selesai dengan minumannya dan langsung menyajikan nya di meja ruangan keluarga, Melin duduk di samping Omah Maya karena Omah Maya yang memintanya.


''Opah mau memberitahukan kamu sesuatu yang mungkin nantinya akan membuat kamu marah, sedih bahkan kesal tapi percayalah kalau semua nya demi kebaikan kamu. ''


ucap Opah Wili memulai pembicaraannya dan Danu hanya diam lalu mendengarkan kembali ucapan Opah Wili.


''Khalisa akan menikah dengan Om Hendra, kalau gak ada halangan lagi minggu depan mereka akan menikah, semua sudah garis takdir dari tuhan dan kita harus menerimanya, Danu sebenarnya Khalisa masih saudaraan dengan kamu, Khalisa putri kandungnya Tante Lara anaknya Kakek Permana dan otomatis Khalisa sama kamu bersaudara walaupun tidak satu ibu tapi tetap saja kalian ada ikatan keluarga, kamu tidak bisa memiliki Khalisa seutuhnya, Opah menikahkan Om kamu dengan Khalisa karena saat ini Khalisa sedang hamil anaknya Om kamu Danu, Khalisa bukan wanita murahan yang mau memberikan tubuhnya pada Om kamu tapi, Om kamu lah yang memperkosa Khalisa saat setelah acara kejutan ulang tahun kamu sebulan lalu, Opah minta sama kamu terima semua kenyataannya yah dan maaf karena semua di luar kuasa kami sebagai keluarga kamu. ''


ucap Opah Wili dan berhasil membuat Danu terdiam. bahkan raut wajahnya berubah.


Danu tidak berbicara dan langsung beranjak lalu berjalan menuju tangga, Omah Wili mencegah Melin saat akan menyusul putranya.


''Biarkan Danu sendiri dulu karena dia tidak akan mendengarkan ucapan siapapun saat ini, percayalah kalau Danu akan bisa menerima kenyataannya dengan hati yang lapang karena Mama tahu siapa Danu dan Mama mengenali Danu. ''


ucap Omah Maya dan melin pun mengiyakannya.


Opah Wili langsung mengajak istrinya untuk beristirahat, Melin pun langsung menuju kamarnya menyusul sang suami yang lebih dulu masuk.


''Bagaiman?? putra kita menerimanya?? ''


ucap Haris saat Melin masuk kedalam kamarnya.


''Danu gak bicara apapun Mas, tapi aku takut Danu kenapa kenapa karena dia begitu mencintai Khalisa, apalagi sekarang kenyataannya kalau Khalisa akan menjadi Tante nya. ''


ucap Melin penuh Khawatir dan membuat suaminya langsung menghampiri Melin.


''Percayalah kalau putra kita akan menerimanya, Mas sangat yakin dengan Danu dan tugas kita adalah mendukung apapun kemauan Danu, asalkan tidak merugikan kita dan masalah juga untuk Danu nya. ''


ucap Haris sambil membawa sang istri kedalam dekapannya.


Orang tua mana yang tidak akan sedih melihat anaknya seperti terpukul dan Melin melihat sendiri raut wajah Danu yang begitu terpukul, Melin hanya bisa berdoa semoga putranya baik baik saja dan menerima semua kenyataannya.


.


.


.


Bersambung......