
Akhirnya Khalisa dan Melin duduk karena Larisa yang meminta penjelasan, Khalisa menghela nafasnya karena dia merasa menemukan teka teki nya.
''Pantesan saat pertama melihat Khalisa seperti kenal. dengan wajahnya, karena Mba sudah lama gak ketemu kamu Lara makanya Mba lupa kalau Khalisa mirip wajahnya sama kamu, ternyata Khalisa putri kamu dengan ilham. ''
ucap Melin dan Larisa menganggukan kepalanya.
''Benar Mba Melin dan Lara juga baru tiga hari lalu bertemu Khalisa, Khalisa sebatang kara karena ulah Ayah. ''
ucap Larisa dengan nada sendu dan Melin menggelengkan kepalanya.
''Sudah jangan ungkit masa lalu yah, sekarang yang terpenting kamu bisa bertemu putri kamu dan bisa menebus lima belas tahun kamu, Mba jadi sedih ternyata Ilham sudah meninggal dan kamu harus tahu Lara, putri kamu gadis baik hati dan tidak gila harta, Mba bahagia ternyata Khalisa anak Mba juga, tumbuh jadi gadis yang cantik mewarisi wajah kamu, Khalisa terakhir ketemu pas ulang tahun ketiga kalau gak salah kan?? ''
ucap Melin sambil menggenggam tangan Khalisa.
''Benar Mba Melin, Lara bahagia sekali bertemu putri Lara dan berjanji akan menukar lima belas tahun terpisah dengan perhatian juga kebahagiaan untuk Khalisa. ''
ucap Larisa dan membuat Khalisa tersenyum.
''Kamu dan Danu adik kakak berarti, ada alasan buat Danu berhenti mencintai kamu. ''
ucap Melin dan membuat Larisa mengerutkan keningnya.
Melin akhirnya menceritakan Danu dan Khalisa sambil menyantap makan siangnya, Khalisa hanya diam dan menjadi pendengar sambil fokus dengan makan siangnya.
''Besok Lara akan membawa Khalisa ke rumah keluarga Prayoga, biar semua kesalah fahaman nya bisa selesai takutnya Danu malah nekad lagi. ''
ucap Larisa setelah mendengar penjelasan cerita dari Melin.
''Kalau Om Hendra berarti saudara kita juga Tante?? ''
ucap Khalisa dan membuat Melin juga Larisa menatap ke arah Khalisa.
''Bukan sayang, Hendra itu adik kandungnya suami Tante, Ayahnya Danu dan yang saudara itu Tante dengan Mama kamu, Kakek Permana itu sahabatan dengan Opah Wili. ''
jelas Melin dan membuat Khalisa lega mendengarnya karena dia masih was was dengan ancaman kehamilan dari Hendra.
''Kenapa kamu menanyakan Hendra?? Hendra membuat masalah sama kamu?? atau kalian ada hubungan?? ''
ucap Melin dan Khalisa langsung menggelengkan kepalanya.
''Gak kok Tante, Khalisa hanya penasaran ajah. ''
ucap Khalisa dan Melin tersenyum.
''Oh iya satu lagi takut kamu bingung, istrinya Ardi itu saudara sepupunya Suami Tante dan gak saudaraan dengan Tante, hanya terikat saudara karena Tante dan suami Tante menikah. ''
jelas Melin dan Khalisa hanya mengangguk.
''Hubungan yang rumit yah Mba, oh iyaa..... Ardi mengirimkan berkas kerjasama ke perusahaan Ayah, tapi belum Lara pelajari karena memang Lara juga masih belajar tentang perusahaan ayah yang sangat rumit. ''
ucap Larisa dan Melin tersenyum sambil menatap Khalisa.
''Suruh Khalisa yang memimpin, dia ahlinya dalah perusahaan loh, Perusahaan Ardi kembali bangkit karena Khalisa dan thender thender juga Ardi banyak yang lolos. ''
ucap Melin dan membuat Larisa melototkan matanya sedangkan Khalisa hanya tersenyum.
''Lara gak akan membebankan Khalisa, Lara mau Khalisa hapy hapy dengan kehidupan barunya sekarang, Lara masih sanggup memegang kendali. ''
ucap Larisa sambil menggenggam tangan Khalisa.
''Yasudah terserah kalian, Lara secepatnya Mba tunggu di rumah kediaman Prayoga dan Mba gak akan menceritakan yang sebenarnya, biar jadi kejutan. ''
ucap Melin dan Larisa mengiyakannya.
Setelah selesai bercengkrama sambil makan siang, Melin akhirnya pamit karena dia harus pulang setelah Omah Maya menghubunginya.
''Mama harus membawa kamu pulang ke rumah kakek, kemarin saat pulang dari rumah Om Wili, Ayah mengadu kalau dia melihat gadis mirip dengan Mama dan namanya Khalisa, Mama sempat kaget dan langsung meminta bertemu dengan Mba Melin untuk meyakinkan kalau itu bukan kamu, tapi ternyata benar kalau kamu Khalisa yang bertemu Kakek di kediaman Prayoga. ''
ucap Larisa saat berjalan menuju mobil setelah kepergian Melin.
''Tatapan kakek Permana sangat menakutkan Mama, makanya kemarin Khalisa langsung ke dapur membantu Tante Melin. ''
''Kamu mau di ganggu sama Danu terus, Mama sangat kenal dengan watak Danu yang egois dan mau menang sendiri, Ayo ikut Mama bertemu Kakek Permana dan kasihan Kakek kamu loh, ayo lupakan masa lalu dan kita jalani masa depan penuh bahagia, Papa dan Nenek sudah tenang di alamnya mungkin bahagia karena kamu bertemu dengan Mama dan Mama janji akan membahagiakan kamu, Kakek juga akan sayang sama kamu. ''
ucap Larisa meyakinkan Khalisa yang terlihat masih ragu untuk bertemu Sang Ayah karena mendengar cerita kejahatan Sang Ayah.
''Baiklah Mama, Khalisa mau bertemu Kakek dan kalau tatapan Kakek nya menakutkan nanti Mama harus belain Khalisa yah?? ''
ucap Khalisa yang setuju dan membuat Larisa tersenyum sambil mengelus pipi putrinya.
Selama dalam perjalanan menuju kediaman Kakek Permana, Khalisa hanya diam menatap jalanan di luar sedangkan Larisa sedang membaca berkas yang di kirimkan oleh asistennya.
Beberapa menit berlalu akhirnya sampai di kediaman mewah Kakek Permana bahkan lebih mewah dari kediaman Prayoga, benar yang di bicarakan Ardi kalau keluarga Permana lebih kaya di banding Prayoga.
''Ayo sayang kita masuk, kenapa malah bengong disini sih. ''
ucap Larisa membuyarkan lamunan putrinya.
''Ya allah pantesan Mama dan Papa gak di restui, ternyata Mama anak konglomerat dan aku harus bahagia atau sedih sekarang. ''
gumam Khalisa dalam hatinya sambil memegang tangan Mamanya yang berjalan menggandengnya.
Saat memasuki rumah Pelayan langsung mengambil alih tas dan blezer milik Larisa, saat tas Khalisa akan di ambil Khalisa menolaknya dan Larisa memberi kode pada pelayan untuk meninggalkan nya.
''Ayah sedang dimana Bibi?? ''
ucap Larisa saat kepala pelayan menghampirinya.
''Tuan sedang di halaman belakang Nyonya, mau Bibi panggilkan?? ''
jawab Bibi dan Larisa menggelengkan kepalanya.
''Siapkan minuman dan cemilan saja lalu bawa ke halaman belakang, saya mau menemui Ayah di halaman belakang. ''
ucap Larisa dan kepala pelayan mengangguk patuh.
Larisa kembali menggandeng Khalisa menuju halaman belakang dimana Sang Ayah sedang berdiam, saat ini Khalisa merasakan ketegangan karena untuk kedua kalinya bertemu Kakek Permana.
''Selamat Sore Ayah..... ''
ucap Larisa saat menghampiri sang ayah yang memunggunginya.
Kakek Permana berbalik dan tersentak saat menatap wajah Khalisa, Kakek Permana bahkan langsung berdiri dan berbalik ke arah Khalisa.
''Khalisa...... ''
ucap Kakek Permana dan Larisa langsung tersenyum sambil menarik Khalisa kesampingnya.
''Dia Khalisa putri nya Lara dan Mas ilham Ayah, maaf karena Lara baru bisa membawa Khalisa bertemu Ayah, ini juga harus di paksa Khalisa nya. ''
ucap Larisa dan sang Ayah hanya memandang sendu wajah Khalisa.
''Cucuku......''
ucap Kakek Permana sambil mengulurkan tangannya meminta Khalisa mendekat.
Khalisa langsung memandang Mamanyaa dan Larisa langsung mengangguk tersenyum.
Khalisa berjalan pelan menghampiri Kakek permana dan saat sampai di depannya Kakek permana langsung menangis memegang tangan Khalisa.
''Maafkan Kakek yang tega memisahkan kamu dengan Mama, memisahkan Papa kamu dengan Mama kamu, kakek menyesal sangat menyesal. ''
ucap Kakek Permana dan Khalisa hanya terdiam menatap wajah Kakeknya.
.
.
.
tbc........