
Satu minggu kemudian.....
Khalisa saat ini sedang berdiri di tengah halaman belakang rumahnya sambil mengusap perutnya yang terlihat membesar di usia kandungan masuk ke lima bulan.
Khalisa sedang merasakan tendangan kedua calon buah hatinya karena saat ini Khalisa menjemur tubuhnya dengan sinar matahari yang langsung mengenai perutnya.
Gaun tipis yang sengaja Khalisa pakai agar perutnya terkena sinar matahari pagi langsung terasa pada kulitnya, Hendra dan Kakek Permana hanya menjadi penonton sambil duduk di kursi taman mengobrol masalah perusahaan.
''Kamu harus temani Kakek yah jangan kemana kemana, nanti saat makan siang akan ada tamu untuk Mama nya Khalisa dan akan menanyakan keseriusannya langsung. ''
ucap Kakek Permana dan Hendra hanya mengangguk mengiyakannya.
''Hendra sih merasa kalau Mama Lara akan menerima keseriusan dari Om Marwan, dia pengusaha yang hebat Kakek dan usianya juga bahkan gak jauh sama Kak Haris. ''
ucap Hendra dan di benarkan kakek Permana.
''Semoga Mamanya Khalisa bisa memberikan jawaban yang tepat, Kakek hanya ingin Mamanya Khalisa juga bahagia di sisa umurnya yang di bilang masih muda dan masih bisa mempunyai keturuna juga kan nantinya kalau di kehendaki. ''
ucap Kakek Permana dan Hendra mengiyakannya.
Hendra mengerutkan keningnya saat melihat istrinya seperti meringis kesakitan dan membuat Hendra langsung berlari menghampiri Khalisa, Kakek permana langsung menyusul nya karena merasa kaget dengan tingkah Hendra.
''Kamu kenapa Sayang?? ''
ucap Hendra sambil membalikkan wajah Khalisa.
''Perut bawah aku sakit Mas, seperti keram. ''
ucap Khalisa dan Hendra langsung menggendong Khalisa membawanya masuk.
Kakek Permana langsung menghubungi dokter meminta datang segera untuk memeriksakan kondisi Khalisa.
''Ada apa dengan Khalisa?? ''
ucap Larisa saat mendengar kegaduhan Ayahnya.
''Khalisa perut bawahnya keram Lara, kamu bawakan air hangat cepat. ''
jawab Kakek Permana sambil mengikuti Hendra yang masuk kedalam kamar nya membawa Khalisa dalam gendongannya.
''Sebentar yah, Mas kompres perutnya. ''
ucap Hendra saat merebahkan tubuh Khalisa.
''Kenapa bisa sakit sih Sayang, memangnya awalnya bagaimana?? ''
ucap Kakek Permana sambil mengusap kepala Khalisa.
''Gak tau Kakek aku juga, tiba tiba ajah sakit keram gitu perut bawahnya. ''
jawab Khalisa sambil meringis mengelus perutnya.
Hendra menghampiri sambil membawa kompresan dan Larisa pun datang membawa teh hangat untuk di minum Khalisa.
''Minum dulu sayang teh hangatnya, biasanya wajar sih kalau perut keram saat hamil tapi nanti tunggu dokter periksa perut kamu yah. ''
ucap Larisa dan Khalisa mengangguk.
''Cukup segini gak hangatnya?? ''
ucap Hendra saat meletakkan handuk di perut Khalisa dan di angguki Khalisa.
''Gerah Mas kalau harus pakai selimut ihh... ''
protes Khalisa dan Hendra melototinya karena gak mungkin Hendra membuka dress Khalisa sedangkan di kamar ada orang lain selain dirinya.
''Lara mau nunggu dokter di depan yah. ''
ucap Larisa dan di iyakan oleh semuanya.
''Mulai sekarang jangan aktifitas berat dulu yah, berjemur juga jangan berdiri tapi duduk. ''
ucap Kakek Permana dan Khalisa mengiyakannya.
Hendra terus mengompres perut Khalisa sampai Khalisa merasa nyaman, akhirnya dokter kandungan pun datang dan langsung memeriksa Khalisa, meminta di tinggalkan hanya dengan Khalisa.
Dokter langsung memeriksa keadaan perut Khalisa dan langsung terdiam setelah memeriksanya, tekanan darah Khalisa pun di periksa dan hasilnya stabil.
''Kurangi makan pedas dan berdiri terlalu lama, keram karena di dalam perut Dede bayinya gak mau diam bergerak terus. ''
ucap Dokter dan Khalisa mengangguk.
''Akhir akhir ini saya memang suka makan pedas Dokter, gak enak kalau makan tanpa pedas dan kalau berdiri memang tiap pagi saya berjemur berdiri, saya kira gerakan di dalam perut itu tuh kedua babby nya senang tapi ternyata gak nyaman. ''
''Istirahat yah dan saya gak bisa resepkan obat penghilang keram nya karena nantinya mempengaruhi janin, minum air hangat dan rebahkan tubuhnya di miringkan posisinya itu sudah cukup. ''
ucap Dokter dan Khalisa mengangguk.
Dokter merapihkan kembali alat alatnya dan keluar dari kamar Khalisa, Hendra langsung menghampir begitu juga dengan Kakek permana dan Larisa.
''Bagaimana kondisi istri saya dokter?? ''
ucap Hendra dan dokter pun tersenyum.
''Karena makanan pedas dan berdiri terlalu lama, jadinya keram perutnya karena janin di dalam kandungannya bergerak terus karena tidak nyaman, saya gak bisa meresepkan obat karena nantinya mempengaruhi janin dalam kandungannya, obatnya saat ini untuk mengurangi keramnya, berikan minuman hangat tapi jangan panas dan suruh rebahan tapi di miringkan posisinya, sanggah depan belakang menggunkan bantal biar nyaman, itu paling obat alternatif mengurangi keramnya. ''
jelas dokter dan semua langsung mengangguk.
''Sana temani Khalisa nya, Kakek antarkan dokter ke depan. ''
ucap Kakek permana kepada Hendra dan di angguki oleh Hendra.
Larisa langsung kembali ke dapur melihat pelayan yang sedang menyelesaikan beberapa cemilan dan juga makanannya.
Di dalam kamar saat ini Khalisa sedang tiduran posisi miring, Hendra menyamankan dengan bantal menyanggah perut dan punggung Khalisa.
''Tamunya sudah datang belum Mas?? ''
ucap Khalisa dan Hendra menggelengkan kepalanya.
''Kamu mau menyapa calon nya Mama kalau sudah datang?? ''
ucap Hendra dan Khalisa mengangguk.
''Iya Mas kan gak sopan kalau gak menyapa, nantinya malah di kira gak setuju. ''
ucap Khalisa dan Hendra mengangguk.
Hendra langsung ikut merebahkan tubhnya di samping Khalisa menyingkirkan bantal yang ada di punggung Khalisa lalu menjadikan tubuhnya sandaran Khalisa.
Hendra mengusap perut Khalisa dengan penuh kelembutan dan Khalisa pun begitu nyaman saat ini.
Sangat aneh bagi Khalisa karena keramnya sudah berkurang dan tak lama Khalisa pun menutup matanya lalu tertidur.
Hendra yang mendengar dengkuran halus dari istrinya pun langsung memeriksanya.
''Selamat istirahat istriku, perjuangan kamu masih sangat panjang dan aku akan menemani kamu. ''
ucap Hendra sambil mencium kening Khalisa lalu menyelimuti tubuh Khalisa.
Hendra memilih keluar dari kamar dan meninggalkan Khalisa yang serang istirahat, keram di perutnya mau membuat Khalisa lelah setelahnya.
''Bagaimana keadaan Khalisa sekarang?? ''
ucap Larisa saat Hendra menghampirinya di ruang keluarga.
''Khalisa sudah tenang dan sekarang tertidur Maa.... mungkin dia lelah karena menahan keramnya tadi. ''
ucap Hendra dan Larisa mengangguk.
''Biarakan Khalisa istirahat saja Hendra, lebih baik untuknya saat ini. ''
ucap Kakek Permana dan Hendra mengangguk.
''Lara sudah memesan bantal hamil untuk menemani kenyamanan tidur Khalisa dan kursi nyaman untuk Khalisa berjemur. ''
ucap Larisa dan Hendra langsung terdiam mendengarnya karena dia tidak kepikiran kesana.
''Makasih Mama dan maaf karena Hendra tidak menyadari sampai kesana. ''
ucap Hendra dan membuat Larisa juga Kakek Permana tersenyum.
''Sudah jangan kepikiran, sama saja siapapun yang membelikannya karena semua untuk kebaikan Khalisa juga. ''
ucap kakek Permana sambil menepuk pundak Hendra dan Hendra mengiyakannya.
Saat larut dalam obrolan ternyata tamu yang di tunggu akhirnya datang, Kakek Permana di temani Hendra untuk menyambut nya, sedangkan Larisa langsung ke dapur memeriksa kesiapan makanannya karena yang datang bukan Hanya seorang.
.
.
Bersambung......