
Siang menjelang......
Om Marwan tiba di kediaman Permana tepat pukul dua belas tiga puluh, Larisa langsung menyambutnya dan mengajak mengobrol karena Khalisa dan suaminya masih bersiap.
Larisa akan membicarakan masalah tanggal pernikahan yang belum di tentukan dengan Om Marwan, Khalisa pun sengaja berlama lama bersiapnya karena memang memberi waktu pada Mamanya.
''Di minum Mas air nya sambil nunggu Khalisa yang masih bersiap. ''
ucap Larisa saat menyajikan minuman dingin untuk Marwan.
''Terimakasih Lara. ''
jawab Om Marwan sambil meminum minumannya.
Larisa saat ini sedang terdiam sambil merangkai kata yang pas untuk berbicara pada Om Marwan karena takut salah berucap dan akan membuat tersinggung.
''Begini Mas Marwan, soal tanggal pernikahan kita yang di janjikan Ayah akan di tetapkan, sepertinya belum bisa di tetapkan dalam waktu dekat, kami semua masih berduka dengan keadaan Kak Haris dan Danu, Kak Haris adalah suami dari kakak sepupu aku, keponakan Ayah dan maaf karena belum bisa menentukannya, Ayah juga bilang untuk menyampaikan maafnya kepada Mas Marwan. ''
ucap Larisa dan membuat Om Marwan tersenyum.
''Lara harus kamu ingat yaa, aku juga gak setega itu memaksa kamu menentukan tanggal karena saat ini pemulihan keluarga kamu sangat penting, masa kita bahagia tapi saudara kamu sedang berjuang hidup dan mati di ruang ICU, saya akan sabar menunggu kamu asal jangan batalkan pernikahannya. ''
jawab Om Marwan dan membuat Larisa tersenyum senang.
''Terimakasih Mas Marwan dan aku gak akan membatalkan pernikahannya ko karena aku beruntung mendapatkan laki laki sebaik Mas Marwan. ''
''Sudah sudah jangan bahas pernikahan lagi, kamu susul Khalisa dan kita makan siang sekarang karena keburu sore nanti jadinya makan malam. ''
ucap Om Marwan mengalihkan pembicaraan dan Larisa mengangguk setuju.
Larisa langsung menuju kamar putrinya dan ternyata putrinya sedang duduk di ruang keluarga dengan Hendra dan Daren.
''Ayo kita makan siang takut kesorean nanti jadi makan malam. ''
ajakan Larisa dan membuat semua mengangguk.
Hendra langsung menggandeng Khalisa dan Daren berjalan di samping Larisa yang berjalan menuju ruang tamu dimana Om Marwan menunggunya.
''Apa kabar Om Marwan?? ''
ucap Khalisa sambil mencium tangan Calon papa sambungnya dan Hendra pun mengikutinya.
''Kabar Om baik sekali, ayo kita berangkat sekarang sebelum jalanan macet. ''
jawab Om Marwan dan langsung di angguki semuanya.
Mereka memutuskan menggunakan satu mobil yang di kendarai oleh Hendra saat ini, perjalanan hanya sepuluh menit akhirnya tiba di restoran yang sudah di reservasi oleh Larisa terlebih dahulu.
Setelah memarkirkan mobilnya dengan sempurna, Hendra langsung menggandeng pinggang Khalisa dan berjalan mengikuti Mama mertua nya yang sudah masuk terlebih dahulu.
''Kenapa perutku ga nyaman yaa?? dede bayinya juga diam terus dari tadi. ''
gumam Khalisa dalam hatinya sambil duduk di kursi yang di siapkan oleh Hendra.
''Ada apa sayang?? kenapa wajah kamu pucat?? ''
tanya Hendra saat melihat istrinya terdiam.
''Mas..... kenapa perut aku gak nyaman rasanya yaa?? masa kontraksi kan baru masuk tujuh bulan seminggu lalu. ''
lirih Khalisa dan berhasil membuat Hendea menegang.
Hendra langsung beranjak dan meraba perut Khalisa, tidak ada pergerakan dari kedua calon buah hatinya dan membuat Hendra langsung panik.
''Sayang kamu kenapa?? ''
ucap Larisa saat menghampiri Khalisa setelah memesan ulang makanannya.
''Perut aku gak nyaman Mama, kenapa yaa?? ''
ucap Khalisa dan membuat Larisa langsung meminta Hendra segera membawa ke rumah sakit.
''Rumah sakit terdekat saja Mas jangan cari yang jauh yaa. ''
ucap Larisa sambil menenangkan putrinya yang terus menangis dalam dekapan Hendra.
''Mama..... gak kuat sakit sekali rasanya. ''
lirih Khalisa dengan tangisnya yang mulai terdengar.
Beberapa menit mengemudi akhirnya sampai di rumah sakit, Om Marwan langsung meminta bantuan kepada petugas dan perawat membawa berangkar untuk membawa Khalisa.
Entah kekuatan darimana Hendra bisa menggendong Khalisa dan merebahkannya di atas berangkar, lalu setelah Khalisa nyaman langsung di bawa masuk kedalam ruang tindakan.
''Kita harus tenang sekarang, agar Khalisa juga gak ikut panik dan terutama kamu Hendra. ''
ucap Om Marwan saat melihat Hendra terdiam.
Ruang rawat terbuka dan seorang dokter langsung keluar, Hendra langsung menghampiri menanyakan keadaan istrinya.
''Bagaimana keadaan istri saya sekarang ini dokter?? usia kandungannya baru masuk tujuh bulan seminggu lalu. ''
ucap Hendra dan dokter pun terdiam.
''Pasien mengalami kontraksi dan kita terpaksa harus mengeluarkan bayinya karena akan sangat beresiko kalau tidak segera melakukan operasi, jalan lahir Khalisa belum ada tapi kontraksi di perutnya sangat intens. ''
jelas sang dokter dan membuat semua melemah.
''Lakukan yang terbaik untuk istri saya dokter. ''
ucap Hendra dan dokter mengangguk.
''Silahkan tanda tangani surat pernyataannya dan saat ini pasien tak sadarkan diri. ''
ucap dokter dan membuat Larisa langsung menangis.
Suster menghampiri Hendra untuk meminta tanda tangan persetujuan operasi, setelah Hendra menandatanganinya Khalisa langsung di bawa menuju ruangan operasi.
''Selamatkan istri dan kedua anakku, kenapa bisa seperti ini sih. ''
ucap Hendra saat pintu ruangan operasi tertutup.
Larisa terus menangis dan di tenangkan oleh Om Marwan, Daren hanya diam dan bingung harus berbuat apa, sedangkan Hendra berdiri di samping ruangan operasi menunggu Khalisa yang sedang di tindak.
Khalisa di bius total saat ini karena kondisi Khalisa dalam keadaan pingsan, kedua janinnya tiba tiba mencari jalan lahir dan membuat Khalisa kesakitan.
Dua jam kemudian ruangan operasi terbuka dan dokter keluar dari ruangannya.
''Pasien masih belum sadarkan diri efek obat bius, sedangkan kedua janinnya selamat tanpa kekurangan apapun dan harus di rawat di ruang incubator karena bobot tubuhnya kurang normal dari biasanya. ''
ucap dokter dan membuat semua bernafas lega.
Khalisa langsung di pindahkan ke ruangan rawat yang sudah di sediakan oleh Hendra, Larisa langsung memeluk putrinya dan menangis bahagia karena Khalisa selamat.
''Terimakasih sudah berjuang sayangnya Mama, Mama janji akan selalu ada buat kamu sayang, jangan pernah membuat Mama khawatir lagi sayang. ''
ucap Larisa dengan tangisnya yang begitu pilu terdengar oleh Om Marwan yang berada di sampingnya menemani Larisa.
Hendra sedang mengurus kedua anaknya agar nyaman selama dalam ruangan incubator, Hendra melakukannya demi kebaikan kedua buah hatinya.
''Kalian berdua adalah kekuatan untuk Ayah dan Bunda, berjuanglah sayang untuk segera pulih karena Bunda kalian saat ini pun masih berjuang untuk sadarkan diri. ''
ucap Hendra sambil menatap kedua buah hatinya yang berada di dalam sebuah kotak dengan banyak alat yang menempel di tubuh kedua buah hatinya.
.
.
Bersambung