
Di rumah sakit saat ini......
Khalisa menggelengkan kepalanya melihat makanan yang di bawakan Hendra untuknya, bahkan buah buahan nya pun begitu lengkap, Khalisa bingung harus memilih yang mana makanannya.
Hendra sedang makan di sofa dekat pintu ruangan rawat Khalisa saat ini, Khalisa terus memperhatikan Hendra yang sedang makan dengan lahapnya bahkan Khalisa sampai menelan ludahnya.
Hendra mengangkat wajahnya dan melihat Khalisa sedang memperhatikannya, Hendra tersenyum dan beranjak sambil membawa makanannya menghampiri Khalisa.
''Buka mulutnya dan Saya suapi yah. ''
ucap Hendra dan Khalisa langsung membuka mulutnya menerima suapan dari Hendra.
Anehnya makanan yang di suapi dari tangan Hendra semua terasa enak, Khalisa sampai meminta kembali di suapi dan Hendra tidak keberatan berbagi makanannya berdua dengan Khalisa.
''Sepertinya babby nya suka kalau Ayah nya yang menyuapi Bunda nya. ''
ucap Hendra saat suapan terakhir di berikan ke Khalisa.
''Gak tau juga, emang apa hubungannya makan sama janin di dalam perut yang masih belum terbentuk. ''
ucap Khalisa yang merasa aneh dengan ucapan Hendra.
''Ada lah dan sangat ada, tau darimana kamu kalau janin belum terbentuk?? sudah jangan banyak bicara karena sekarang waktunya kamu istirahat. ''
ucap Hendra sambil merapihkan makanannya.
''Belum ngantuk akunya, lagian semua tahu Om kalau janin aku juga masih satu bulan dan pasti belum terbentuk, sini minta satu bungkus makanannya Om. ''
ucap Khalisa saat Hendra akan merapihkan makanannya dan Hendra pun memberikan salah satu makanannya.
Khalisa langsung memakan makanannya sedangkan Hendra melanjutkan merapihkan makanannya, Hendra hanya menggelengkan kepalanya karena melihat Khalisa memakan makanannya.
''Semoga kamu benar benar tulus menerima saya Khalisa dan bukan karena terpaksa karena desakan keluarga juga janin dalam kandungan kamu, Saya akan berusaha merebut hati kamu. ''
gumam Hendra dalam hatinya saat melihat Khalisa memakan makanannya.
.
.
Pagi menjelang......
Tak terasa pagi telah datang meninggalkan malam yang sunyi dan gelap, di kediaman Permana saat ini Larisa sedang bersiap karena dia akan pergi dengan Melin untuk menyiapkan pakaian pernikahan Khalisa dan Hendra.
''Pilih gaun yang bagus untuk cucuku dan Ayah sangat tahu kalau butik milik Maya sangat berkualitas dan tentunya akan sangat pas jika di pakai Khalisa. ''
ucap Kakek Permana saat sedang sarapan dengan Larisa.
''Ayah jangan Khawatir karena Khalisa bukan pemilih jadinya gampang untuk memilihkan gaunnya, Ayah beneran gak apa apa kan menggantikan Lara?? ''
ucap Larisa saat melihat sang ayah sudah rapih untuk menggantikannya datang ke perusahaan.
''Sebelum kamu menjabat juga kan Ayah yang menjabat, sudah kamu fokus dengan persiapan Khalisa karena anak itu aneh sekali gak mau merayakan pesta dan hanya ingin sederhana, makanya Ayah minta lakukan yang terbaik. ''
ucap kakek Permana dan Larisa mengiyakannya.
Larisa sebenarnya masih belum bisa melepaskan putrinya yang baru saja ada dalam dekapannya, namun dia pun tidak boleh egois karena ada satu nyawa yang membutuhkan pengakuan dari ayah biologisnya.
Setelah sarapan selesai, Kakek Permana pamit duluan karena Larisa masih menunggu kabar dari Melin yang masih di kediaman Prayoga.
''Mas ilham..... maaf karena aku telat menemukan putri kita dan trageti itu pun harus terjadi, tapi aku janji akan tetap menjaganya walaupun putri kita sudah memiliki kehidupan baru dengan suaminya. ''
gumam Larisa sambil menatap foto dirinya dengan mendiang suaminya saat awal awal pernikahan.
Melin datang setelah tiga puluh menit Larisa menunggu, Melin langsung mengajak Larisa berangkat menuju butik milik Omah Maya.
''Bagaimana dengan Danu?? menerima atau bagaimana Mba?? ''
ucap Larisa saat mobil mulai berjalan.
''Semalam Danu gak berbicara satu kata pun saat Papa memberitahukannya, malah Danu langsung pergi ke kamarnya dan pergi tanpa sarapan pagi. ''
ucap Melin dan membuat Larisa terdiam.
''Danu memang tipekal anak yang sulit menerima, mungkin butuh waktu kayanya dan Khalisa adalah wanita yang di cintainya, Mba juga bingung harus bagaimana Lara. ''
ucap kembali Melin dan Larisa langsung menatap wajah sendu Kakak sepupunya.
''Sepertinya Khalisa yang harus menjelaskan kepada Danu, biarkan Danu bertemu Khalisa dan jangan di larang, Lara rasa Danu sekarang pasti menemui Khalisa di rumah sakit. ''
ucap Larisa dan Melin langsung terdiam sekarang.
''Mama sudah dalam perjalanan menuju rumah sakit, membawakan pakaian sama makanan untuk Hendra, apa Mba harus memberitahu ke Mama supaya jangan mencegat Danu?? ''
ucap Melin dan Larisa menggelengkan kepalanya.
''Jangan Mba, Lara yakin Tante Maya akan melakukan hal yang benar menyikapi kedatangan Danu, nanti setelah dari butik kita ke rumah sakit karena siang ini jadwal Khalisa USG, kemarin kan gak jadi. ''
ucap Larisa dan melin mengiyakannya.
Di rumah sakit saat ini.....
Dugaan Larisa ternyata benar, Danu saat ini sedang berjalan menuju ruangan Khalisa setelah melihat Hendra masuk kedalam mobil dan Danu langsung menuju ruangan Khalisa.
Di ruangan Khalisa saat ini hanya ada Omah Maya yang menunggunya, sebelum Hendra pergi dia menyuapi Khalisa makan karena Hendra yakin Khalisa gak akan bisa makan kalau bukan Hendra yang menyuapinya.
''Omah.....Mama sama Tante Melin gak akan datang kesini?? ''
ucap Khalisa saat Omah Maya sedang menyiapkan buah potong untuk Khalisa.
''Kesini kayanya palingan nanti saat selesai di butik, memangnya kenapa?? ada yang mau kamu beli?? ''
ucap Omah Maya dan Khalisa menggelengkan kepalanya.
Pintu ruangan Khalisa terbuka tanpa di ketuk dan membuat Omah Maya juga Khalisa menatap ke arah pintu, ternyata Danu yang masuk dan berhasil membuat Omah Maya menghela nafasnya.
''Danu hanya ingin bertemu Khalisa Omah, bolehkan kami bicara berdua saja?? ''
ucap Danu sambil berjalan mendekat ke arah Khalisa.
''Yasudah silahkan dan Omah percaya kalau kamu gak akan berbuat macam macam, silahkan kamu berbicara dengan Khalisa dan Omah akan mencari makanan di kantin bawah. ''
ucap Omah Maya yang memberikan kesempatan pada Danu untuk berbicara dengan Khalisa.
Selepas kepergian Omah Maya, Danu langsung duduk di kursi samping berangkar Khalisa, Khalisa tersenyum saat Danu mengambil alih piring berisi buah potongnya dan menyuapi Khalisa.
Khalisa tidak menolak dan menerima suapan dari Danu, saat ini Khalisa masih bingung harus berbicara apa dan Khalisa memutuskan untuk mendengarkan Danu berbicara.
.
.
Bersambung.......