
Seminggu sudah berlalu, pernikahan Vivi dan Arkan juga sudah di laksanakan. Saat ini Vivi tengah duduk di tempat tidur Arkan. Ia meremas tangannya menunggu Arkan siap mandi.
Setelah Arkan keluar dari kamar mandi, Vivi langsung terkejut.
"Kenapa? Santai aja, kakak gak ngapa-ngapain kok. Cuman mau tidur." ucap Arkan naik ke tempat tidurnya lalu menarik selimutnya dan tidur.
Huh!
Vivi mengeluarkan nafas lega. Arkan sudah janji tidak akan menyentuhnya.
Tapi bohong. batin Arkan. Ia berguling keara Vivi lalu menindihnya.
"Kak Arkan!" ucap Vivi terkejut.
"Yakali malam pertama gak ngelakuin apa-apa." ucap Arkan.
Pertempuran panas pun terjadi antara Vivi dan Arkan. Pengantin baru yang pernah merasakan sensasi nikmat itu tidak pernah puas. Pertempuran yang panas membuat Vivi mendesah kencang.
•••
"Sayang, ngapain?" tanya Morgan
"Kok gitu banget ngeliatnya?" tanya Aira.
"Tapi ganteng kan?" tanya Morgan.
"Iya sih, lucu." jawab Aira.
"Hahaha ketahuilah sayang. Ryan akan setampan aku walau masih akan tampanan aku." ucap Morgan.
"Gantengan Ryan tau!" ucap Aira.
"Oke mari kita lihat nanti, 8 tahun kedepan." ucap Morgan.
"Oke." jawab Aira
•••
"Nathan yang ngajak Ryan mah!" ucap Ryan yang berumur 6 tahun.
Ya, enam tahun berlalu. Anak-anak sudah besar sekarang.
"Kok kamu nyalahin aku? Kamu yang mau beli permennya." ucap Nathan.
"Aduh emang persis kayak kedua papanya, Tom and Jerry!" ucap Aira.
"Yaudah panggil Kak Morgan sama Kak Ken aja buat selesaikan masalah permen anak-anak ini." ucap Kinan.
"Apa nih?" tanya Morgan.
"Alhamdulillah, ayo kita pergi." ucap Aira menarik Kinan.
"Pa! Nathan pukul bahu Ryan!" teriak Ryan.
"Ryan yang cubit Nathan duluan!" ucap Nathan tak kalah kencang.
"Ada masalah apa?" tanya Ken.
"Ryan yang salahin Nathan karna Nathan minta tolong belikan permen. Kata Mama kalau kita minta tolong harus di tolong. Terus Ryan pergi beli permen dan permennya banyak yang kurang." ucap Nathan.
"Ya gak apa-apa dong. Kan bisa di beli lagi." ucap Ken.
"Tapi permennya udah habis Pa. Dan itu permen kesukaan Nathan!" ucap Nathan merengek.
"Nathan udah, gak boleh makan Permen banyak-banyak." ucap Ken.
"Tapi Nathan mau Pa!" ucap Nathan.
"Nathan, kan udah di bilang gak boleh makan permen. Nathan gimana sih?" tanya Ryan.
"Itukan menurut Ryan! Nathan mau permen!" ucap Nathan.
"Foto copyan kita emang." ucap Ken.
"Dulu kita sering berantem di depan mereka, makanya mereka lebih parah dari pada kita." ucap Morgan.
"Udah gak usah berantem. Kalian udah sama-sama dari dalam kandungan." ucap Erland.
"Gan, sifat anak gua ketukar sama anak lu." ucap Ken.
"Tiga generasi keluarga Anggara dingin semua. Tapi Nathan? Berbeda." ucap Ken. "Tiga generasi keluarga Bagaskara gak berakhlak semua, tapi Erland? malah dapat sifat keluarga Anggara. Apa Erland dan Nathan tertukar?" tanya Ken.
"Bego!" ucap Logan dan Morgan bersamaan
"Sesungguhnya orang dewasa tidak boleh berkata kasar di depan anak kecil." ucap Erland. Ken, Morgan dan Logan langsung melihat kearah Erland.
"Magic." ucap mereka bertiga secara serentak.
"Erland?!" ucap Sayla berlari memeluk Erland. Erland diam tanpa melawan.
"Siapa?" tanya Erland.
"Aku? Aku mama kamu." ucap Sayla.
"Mama udah meninggal." ucap Erland tenang.
"Apa?" tanya Sayla. Erland melepaskan pelukan Sayla dan menjauh dari Sayla.
"Logan?" Sayla seolah meminta penjelasan.
"Hm, dari pada dia kenal sama ibunya yang membuangnya lebih baik aku bilang kamu udah meninggal." ucap Logan.
"Tega kamu ya!" ucap Sayla.
"Bawa anak-anak." ucap Logan kepada Ken dan Morgan. Mereka berdua mengangguk.
"Kenapa kamu bilang kalau aku udah meninggal sama anak aku sendiri?" tanya Sayla.
"Lebih baik dia tidak mengenal kamu yang telah membuangnya dari pada dia benci sama kamu kan?" tanya Logan.
"Tapi aku mau ngambil kembali Erland dari kamu! Aku ibu kandungnya jadi aku berhak atas Erland!" ucap Sayla.
"Sayla, Sayla. Kamu emang gak berubah dari dulu. Kamu udah gak berhak lagi atas Erland. Hak asuh Erland udah jatuh sepenuhnya sama aku. Erland Bagaskara tidak akan pernah menjadi Erland Prince!" ucap Logan.
"Oke, aku gak ambil Erland, tapi biarkan dia tau siapa ibu kandungnya!" ucap Sayla menerobos masuk tapi di halang oleh Logan.
"Tidak, biar aja dia gak tau siapa ibunya dari pada dia menahan malu karna ibunya mantan narapidana dan mantan pembunuh, terlebih lagi ibunya telah membuangnya." ucap Logan.
"Tapi.." ucapan Sayla belum selesai tapi Logan menarik Sayla keluar dari rumah Morgan.
"Aku tau kamu mau bertemu Erland. Tapi lihat dia dari jauh jangan coba-coba mengambilnya atau kau akan ku tuntut!" ucap Logan. "Kau tidak mau kan kalau Erland sampai menahan malu jika teman-temannya tau tentang status mu. Dia bisa depresi karna diejek temannya, bisa jadi dia tidak mau sekolah lagi. Jadi lebih baik, awasi dia dari jauh." ucap Logan.
"Yaudah, setidaknya bisa ketemu sama Erland." ucap Sayla pasrah. "Tapi hati-hati, Reval udah keluar dari penjara. Tolong kasih Erland penjanga bayangan. Aku gak mau Erland sampai diapa-apakan oleh Reval." ucap Sayla.
"Pasti." jawab Logan.
"Kalau gitu aku pergi." ucap Sayla. Logan langsung mengangguk dan Sayla pun pergi.
"Ma." panggil Erland. Sayla berbalik dan Erland langsung berlari kearah Sayla.
"Mama jangan khawatir, Erland akan jadi anak yang baik biar bisa buat Mama sama Papa bangga." ucap Erland. Sayla mengangguk dan memeluk Erland.
"Kamu harus jadi laki-laki pintar oke?" tanya Sayla. Erland mengangguk yakin.
"Kembalilah, Mama mau pergi." ucap Sayla
"Kapan-kapan Erland main sama mama." ucap Erland. Sayla mengangguk kemudian pergi.
"Ayo Pa masuk." ucap Erland masuk kedalam rumah.
Keren, dia gak nangis. Biasanya anak seusia dia bakalan nangis kalau ketemu ibunya. Walau dia kekurangan kasih sayang seorang ibu, tapi dia menjaga perasaan kami berdua. Erland anak gua yang paling hebat. batin Logan kemudian masuk kedalam rumahnya.
•••Bersambung...
Erland Louis Bagaskara
Nathan Cavero Anggara
Nathan mirip banget sama Kinan, bukan sama Ken 🤣🤣
Ryan Zaydan Bagaskara
Ihh ganteng ganteng semuaa 😭😭