
Ken membangunkan Kinan dari tidurnya.
"Ada apa kak?" tanya Kinan.
"Air mau melahirkan. Ayo kita kesana." ucap Ken.
"Bentar, Kinan siap-siap dulu." ucap Kinan.
"Cepat!" ucap Ken. Kinan mengangguk. Dengan cepat Kinan mengganti baju dan langsung mengambil tasnya.
"Ayo." ucap Kinan
"Wow super fast ya." ucap Ken.
"Gak ada waktu buat muji kak! Ayo cepat!" ucap Kinan. Ken mengangguk. Ken dan Kinan masuk kedalam mobil. Ken langsung menjalankan mobilnya kerumah sakit yang di beri tahu oleh Morgan tadi.
25 menit berlalu, akhirnya mereka sampai di rumah sakit yang di katakan Morgan.
"Ini rumah sakit tempat Om Revan di rawatkan? Nanti kita sekalian jenguk yaa." ucap Kinan. Ken mengangguk setuju. Mereka berdua pun berjalan dengan cepat dari parkiran.
Ken selalu menggandeng Kinan agar Kinan tidak ketinggalan. Mereka pun akhirnya sampai di resepsionis.
"Permisi, adik saya di ruangan mana?" tanya Ken. Saat melihat wajah Ken, Resepsionis itu langsung tau siapa yang di maksud Ken.
"Nona Aira ada di ruang persalinan tuan." jawab Resepsionis itu. Ken dan Kinan pun langsung pergi ke ruang persalinan. Di sana sudah ada semua orang, karna satu Aira satu rumah sakit dengan Revan, itu jadi memudahkan orang-orang yang menjenguk Revan untuk melohat Aira juga.
"Gimana?" tanya Ken.
"Lagi persalinan." ucap Morgan gemetaran. Ken memegang bahu Morgan.
"Duduk dulu. Tenangin diri lu. Aira ada di dalam tanganan orang yabg tepat." ucap Ken.
"Tapi gua takut Ken." ucap Morgan.
"Gua paham. Walau pun gua belum pernah ngerasain, tapi gua bisa paham situasi lu." ucap Ken.
"Coba tarik napas lalu buang. Lakukan itu sampai lu tenang." ucap Ken. Morgan mengangguk. Ia melakukan apa yang di bilang Ken.
"Morgan." panggil Stella. Morgan langsung memeluk Stella. Ia takut setengah mati jika terjadi apa-apa dengan Aira.
"Jangan takut. Aira anak yang kuat, dia pasti bisa." ucap Stella sambil mencoba mengelus rambut Morgan yang jauh lebih tinggi darinya. Morgan berlutut di hadapan Stella. Kakinya tak tahan mendengar teriakan Aira.
"Ma, Morgan takut Aira kenapa-napa." ucap Morgan.
"Gak apa. Dia anak yang kuat." ucap Stella kina berhasil mengelus rambut Morgan.
"Morgan! Ayo masuk." ucap Vina. Morgan mengangguk.
"Kuatkan dirimu Bro!" ucap Eric memegang bahu Morgan. Morgan tersenyum lalu masuk ke ruangan persalinan dengan yakin.
"Kamu pasti bisa!" ucap Morgan menyemangati Aira.
15 menit berlalu, Akhirnya Morgan keluar dengan raut wajah yang sangat bahagia sedikit di campur Air mata karna tak sanggup melihat Aira yang sangat kesakitan.
"Gimana?" tanya Ken.
"Semuanya baik." ucap Morgan menghapus Air matanya sendiri.
"Trus kenapa seorang Morgan Bagaskara menangis?" tanya Ken.
"Gua gak kuat liat Aira nahan sakit kayak gitu." ucap Morgan. Ken mendekati Morgan dan memeluk Morgan. Ia menepuk punggung Morgan, Agar Morgan lebih tenang.
"Lu kuat Morgan. Itu emang harus Aira rasakn untuk memperjuangkan anaknya. Lu juga gak boleh nangus di depan dia. Lu terlihat lemah." ucap Ken. Morgan mendorong Ken.
"Sans Men." ucap Ken
"Gua lebih yakin, lu ngerasain lebih dari pada gua. Karna lu kan lebih bucin dari pada gua." ucap Morgan. Ken memukul bahu Morgan.
"Kalau ngomong suka bener ni anak." ucap Ken.
"Bayinya usah di bersihkan. Aira jugabudah di pindahkan. Kalian boleh lihat Aira dan Bayinya." ucap Vina.
"Makasih banyak Tan." ucap Morgan.
"Sama-sama." jawab Vina. Mereka pun pergi ke ruang rawat Aira. Di sana sudah ada Aira dan bayinya.
"Lucu bangett!" ucap Kinan
"Liat wajahnya. Fotocopy punya kak Morgan semua. Gak ada yang ikut aku satu pun, kecuali bibirnya." ucap Aira.
"Tapi kalau gua boleh jujur, ni anak kecil-kecil udah ganteng banget." ucap Eric.
"Wah, iya dong. Papanya kan Ganteng maksimal." ucap Morgan.
"Tunggu anak gua lahir. Baru kita tentukan siapa anak yang paling ganteng." ucap Ken.
"Tantangan di terima!" ucap Morgan.
"Namanya siapa ni?" tanya Bulan.
"Belum kepikiran sih Bun. Tapi katanya kak Morgan punya nama yang bagus." ucap Aira.
"Oh iya dong. Sebagai Papa dan Suami yang siaga, Morgan udah siapin satu nama yang bagus." ucap Morgan.
"Apa?" tanya Stella.
"Ryan Zaydan Bagaskara." ucap Morgan.
"Ryan?" tanya Aira. Morgan mengangguk.
"Setuju!" ucap Aira.
"Dia adalah Ryan, penerus dari MZB Grup!" ucap Morgan semangat. Morgan mendekati Baby Ryan.
"Nak, kalau sudah besar, jangan lupa kalahkan Anggara Crop. Buat mereka berada di bawah naungan mu." ucap Morgan.
Aira mencengkam kuat bahu Morgan.
"Ajaran sesat." ucap Aira tersenyum ngeri.
"Hehe bercanda sayang. Jangan di masukkan ke hati." ucap Morgan.
"Mari lihat kehebatan dari anak kita!" ucap Ken.
"Siapa yang pintar, dia yang memimpin!" ucap Morgan.
•••Bersambung...
Jangan lupa dukungan untuk Author yaa. Berupa like, Comment, vote, hadiah dan rate 5 yaa.
Ryan Zaydan Bagaskara