
"Para saksi Sah?" tanya penghulu.
"Tunggu!" ucap seorang polisi.
"Ada apa ini pak?" tanya Vano.
"Tuan muda Kenzard kami tangkap atas tuduhan pembunuhan berencana kepada Nona Sayla." ucap polisi itu
"Apa? Sayla?!" tanya mereka terkejut lalu melihat Ken.
"Maaf pak, tapi saya gak melakukan apa pun pada Nona Sayla." ucap Ken mengatakan yang sebenarnya.
"Kami membawa surat penangkapannya, jadi kami mohon kerja sama Anda tuan." ucap Polisi itu. Raylo mengambil surat penangkapan itu. Ia mulai melihat setiap sudut surat itu.
"Sorry Ken, ini Asli." ucap Raylo. Ken mengangguk.
"Apa bukti saya melakukan kejahatan itu?" tanya Ken.
"Kami punya beberapa bukti, termasuk dompet dengan KTP anda berada di dalamnya." ucap polisi itu memberikan dompet Ken yang sudah berada di dalam plastik penyidik.
"Ini memang dompet saya, tapi saya tidak melakukan apa pun." ucap Ken.
"Menurut saya, bukti ini masih belum cukup!" ucap Raylo. Untung Raylo mantan mahasiswa hukum, jadi lebih kurang dia mengerti tentang masalah ini.
"Kami ada bukti lain. Ini jam tangan tuan Ken kan?" tanya polisi itu sambil memberikan jam tangan yang berada di dalam plastik penyidik.
"Ken, jam lu." ucap Morgan.
"Mohon kerja samanya pak, Agar pernikahan ini juga berlangsung dengan lancar." ucap polisi.
"Tunggu! Apa bapak sudah memeriksa bahwa Sayla benar-benar meninggal?" tanya Kinan.
"Anda Nona Sayla?" tanya polisi itu.
"Saya kembaran Sayla. Saya yakin dia belum meninggal." ucap Kinan.
"Tapi berdasarkan hasil dari tim forensik dan tim penyidik menyatakan bahwa Nona Sayla telah meninggal." ucap Polisi itu.
"Mohon bekerja sama dengan kami Nona." ucap polisi itu memborgol tangan Ken.
"Jangan bawa suami saya!" ucap Kinan.
"Maaf Nona, tapi tuan Kenzard harus kami tahan!" ucap polisi itu.
"Sayang kamu tenang, mereka pasti bisa menyelesaikan semua kesalahpahaman ini." ucap Ken memegang pipi Kinan dan mengelusnya.
"Ayo tuan." ucap polisi itu. Ken pun berjalan ke mobil polisi dan masuk. Tak beberapa lama, mobil polisi pun bergerak dari gedung pernikahan Verrel dan Maudy.
Pernikahan sudah Sah, Verrel dan Maudy. Semua tamu undangan langsung di bubarkan. Morgan dan semuanya langsung mengambil laptop mereka.
Verrel juga ikut membantu, dengan masih memakai jas pernikahannya, jarinya lihai di keaybord laptopnya.
Mereka semua memegang laptopnya masing-masing.
"Eric, cari data yang mencurigakan di sekitar kediaman Reval Arlata." ucap Morgan.
"Kenapa Reval?" tanya Eric.
"Sayla tinggal bersama Reval." ucap Morgan. Eric mengangguk mengerti.
"Lokasi?" tanya Eric.
"Ini." ucap Morgan memperlihatkan laptopnya.
"Oke." jawab Eric langsung mengechek data yang di suruh Morgan lagi.
"Arkan, cari cctv di sekitar kediaman Reval Arlata." ucap Morgan.
"Oke." jawab Arkan.
"Kalau udah, kasih ke Logan dan Logan, coba retas cctvnya." ucap Morgan.
"Verrel, cari data orang-orang yang dekat dengan Reval Arlata dan Sayla." ucap Morgan.
"Laksanakan." ucap Verrel.
"Levin, cari asal usul Reval Arlata dan apa hubungannya dengan Sayla." ucap Morgan. Levin mengangguk.
"Om Rey, Om Elioz, Om Revan, Om Leon, Om Ezra, Om Vano, Om Galang, Om Gilang dan Papa, Ayo kita selidiki ke TKP." ucap Morgan.
"Tancap Gas!" ucap mereka berdelapan. Morgan, Rey dan yang lainnya pun pergi ke tempat kejadian.
Mereka pun pergi, 30 menit perjalanan akhirnya mereka sampai di TKP. Morgan masuk duluan.
"Terkunci." ucap Morgan.
"Morgan, kamu ahli meretas kunci sandi. Coba retas." ucap Elang. Morgan mengangguk. Ia mengambil laptop di dalam tasnya dan langsung meretas kunci sandi pintu itu.
Ceklek.
"Pintu terbuka, selamat datang tuan Reval." ucap pintu otomatis.
"Kerenn, Harus pasang ini di rumah!" ucap Morgan. Rey dan yang lainnya pun masuk.
"Cari petunjuk-petunjuk tentang kematian Sayla." ucap Rey. Mereka semua mengangguk.
Drttt.. Drrttt...
Handpone Morgan bergetar menandakan ada telpon masuk.
"Ya Gan?" tanya Morgan. Ternyata yang menelpon adalah Logan.
"Berdasarkan semua bukti yang gua temuin, Ken emang masuk ke apartemen Reval. Tapi gua gak tau dia ngapain." ucap Logan.
"Ada cctv gak di dalam apartemen?" tanya Morgan.
"Ada, tapi semua di matikan saat kejadian. Kayak semua udah di rencanakan dengan matang." ucap Logan.
"Sial! Cari terus bukti yang meringankan Ken." ucap Morgan.
"Siap." ucap Logan lalu mematikan sambungan telponnya.
"Pa!" panggil Morgan.
"Ada info?" tanya Elang.
"Berdasarkan bukti yang di dapatkan sama Logan dan yang lainnya, Ken memang masuk ke sini." ucap Morgan.
"Apa gak ada cctv di dalam ruangan?" tanua Rey.
"Ada, tapi mati saat kejadian. Seolah-olah semuanya sudah di rencanakan dengan sangat rapi." ucap Morgan.
"Cari pengacara!" ucap Elang.
"Tenang Pa, Andrew lulusan S2 jurusan hukum pidana. Jadi dia yang akan mengurus semuanya." ucap Morgan.
"Syukurlah." ucap Elang.
"Gak ada bukti sama sekali. Dari tadi kita udah mutar-mutar tapi gak ketemu barang-barang yang mencurigakan." ucap Galang.
"Kita chek dua kali Om. Lebih banyak lebih baik." ucap Morgan. Mereka semua mengangguk.
Morgan mencari dengan teliti semua barang-barang di dalam apartemen Reval.
"Hah! Mereka ceroboh juga rupanya." ucap Morgan mengambil barang yang menurutnya cukup untuk bukti.
"Pa! Om Rey!" panggil Morgan. Morgan memperlihatkan barang itu.
"Gak nyangka, punya anak pintar banget." ucap Elang.
"Apa ini cukup?" tanya Morgan.
"Sepertinya itu lebih dari cukup. Kita akan memenangkan pengadilan ini." ucap Ezra. Morgan mengangguk.
"Ayo kita pergi." ucap Rey. Morgan pun iseng melihat barang yang ia temukan. Barang yang ia temukan adalah semua kamera mini.
Ia melihat video yang berada di dalam kamera itu.
"Ahh! Shit!! Aku di khianati!" ucap Morgan geram.
"Kenapa dia juga mau ikut menghancurkan Ken?" tanya Morgan.
"Siapa?" tanya Elang.
•••Bersambung...
Siapa yang mengkhianati Morgan supaya bisa menghancurkan Ken ya?
Jangan lupa like, Comment, Vote, hadiah dan rate 5 😆😆