Ken & Kinan

Ken & Kinan
Identitas Morgan #3



"Wah, Parah. MZB Grup yang awalnya berada di posisi dua, sekarang jadi posisi satu dan seri sama keluarga Anggara!" ucap Verrel.


"APA?!" ucap Ken, Arkan, Levin dan Raylo kaget.


"Iya, gua kaget." ucap Verrel sambil menyodorkan handponenya. Arkan, Ken, Levin dan Raylo pun melihat peringkat perusahaan terbesar dan tersukses se-Asia.


"Gila, dia bisa nyaingin keluarga Anggra?" tanya Arkan.


"Yang di lawannya Kenzard lo, Kenzard Anggara." ucap Raylo


"Gua baru dua hari di Rumah sakit udah naik aja MZB Grup." ucap Ken.


"Lu pada udah liat MZB Grup setara sama Anggara Crop gak?" tanya Eric yang baru datang bersama Morgan dan Aira. Mereka semua mengangguk.


"Morgan, gua akui Bos lu hebat banget." ucap Arkan.


Wo iya dong gua hebat, Morgan. batin Morgan


"Lu gak tau sedikit pun info tentang bos lu?" tanya Verrel. Morgan menggeleng.


"Ai, lu kan tadi habis naik lift khusus Presdir, masa gak liat siapa Presdirnya." ucap Eric.


"Ai emang gak liat kak. Mau gimana lagi? Masa Ai nyerobot masuk keruangan Presdir, bisa di kenakan pasal berlapis." jawab Aira.


"Bener juga." ucap Verrel


"Kak Ken makan dulu." ucap Kinan membawa makanan untuk Ken.


"Beh enak punya bini, kalau sakit di urusin. Beda sama gua yang jomblo." ucap Arkan.


"Salah sendiri jomblo!" sahut Ken.


"Sayang, aku mau di suapin juga." ucap Morgan


"Kan gak sakit." jawab Aira.


"Kan pengen. Aku dalam masa ngidam sayang, masa gak diturutin." ucap Morgan dengan wajahnya yang di buat semenggemaskan mungkin. Wajah menggemaskan Morgan membuat Aira tak tega menolaknya.


"Yaudah mau makan apa, ayo kita cari." ucap Aira. Saat Morgan ingin menjawab, perutnya tiba-tiba terasa mual. Ia berlari ke toilet yang berada di kamar Ken dan Arkan.


"Huek.. huekk.." Morgan mengeluarkan semua isi Sarapannya. Aira pun menghampiri Morgan dan memijit leher Morgan.


"Udah mendingan?" tanya Aira. Morgan mengangguk. Morgan mencuci mukanya dan mengeringkannya dengan tisu.


"Ai pulang yuk." ucap Morgan.


"Kakak gak mau ke kantor dulu, bukannya ada rapat lagi?" tanya Aira dengan suara kecil.


"Nanti di wakilkan Andrew aja kayak biasa." jawab Morgan dengan suara kecil. Aira mengangguk.


"Yaudah kita pamit dulu aja sama mereka." ucap Aira. Morgan pun setuju. Mereka berdua keluar dan pamit kepada Ken dan semuanya.


Eric, Verrel, Ken, Arkan dan Raylo seperti memberi kode satu sama lain. Mereka saling mengangkat alisnya sebelah.


Eric dan Verrel pun pergi dari ruangan Ken. Mereka mengikuti Morgan dan Aira dari belakang.


•••


Drtt.. Drttt...


"Beb, angkatin." ucap Morgan. Aira pun mengangkat telpon dari handpone Morgan.


"Lapor tuan." ucap Andrew.


"Sepertinya dari tadi kau menelpon ku terus. ada apa?" tanya Morgan langsung berubah sifat dan cara bicaranya.


"Anda sudah tau kalau perusahaan kita menduduki posisi pertama dan seri dengan keluarga Anggara?" tanya Andrew.


"Sudah." jawab Morgan.


"Petinggi keluarga Anggara, Reano Anggara dan Reyhan Anggara ingin bertemu dengan anda secara langsung. Saya sudah memberi tahu kepada mereka agar menemui saya bukan anda tapi mereka tidak mau." ucap Andrew.


"Tolak terus!" ucap Morgan.


"Saya sudah berusaha tuan tapi mereka malah langsung masuk keruangan anda." ucap Andrew.


"Apa?!" ucap Morgan kaget begitu pun dengan Aira.


"Apa mereka melihat papan nama ku?" tanya Morgan.


•••


"Ni anak kemana?" tanya Verrel.


"Gak tau." jawab Eric. "Eh dia putar arah tuh. Ikutin Rel!" ucap Eric. Verrel pun banting stir untuk mengikuti Morgan.


"Dia ke MZB Grup." ucap Verrel.


"Kita susah masuk nih kalau dia udah ke MZB Grup." ucap Eric. Verrel dan Eric pun turun dari mobil mereka.


"Lu kan pake stelan Jas. Lu pasti bisa masuk." ucap Verrel.


"Lu kan ada stelan juga di mobil. Ganti gih." ucap Eric. Verrel mengangguk. Verrel pun kembali ke mobil dan mengganti pakaiannya dengan stelan Jas. Setelah selesai ia keluar dan langsung masuk ke MZB Grup bersama Eric.


"Morgan kemana?" tanya Verrel.


"Hilang gitu aja." ucap Eric. Mereka pun melihat keaeah sekitar. Setelah di rasa aman mereka nekat naik lift khusus Presdir.


"Perasaan gua gak enak ni." ucap Eric.


"Kayaknya ada perang dunia ketiga." ucap Verrel. Mereka pun sampai di depan pintu ruangan Presdir. Mereka memberanikan diri untuk membuka pintu ruangan Presdir.


Saat pintu terbuka mereka terkejut melihat apa yang terjadi.


•••Bersambung...


Wah ketauan gak tuh? Yang tau ketauan apa enggak boleh coment di bawah yaa.


Jangan lupa kasih author dukungan ya. Like, Comment, Hadiah, Vote, dan Rate 5 yaa 😄😄