
"Jadi gimana sama perjodohan mereka?" tanya Ezra.
"Sori ni, bukan gua gak menghargai. Mending batalin aja." ucap Vano. Verrel pun memberi kode kepada Kinan untuk menyetujui pembatalan itu.
"Iya Dad, batalin aja. Kinan kan masih kelas tiga SMA masa nikah. Jadinya gimana gitu." ucap Kinan.
"Tapi.." belum selesai ucapan Ezra, Kinan memegang tangan Ezra.
"Dad, kasian sama Kinan dong. Kita baru aja ketemu dan..." mendadak kepala Kinan berat seperti di timpa sesuatu. Kinan memegang kepalanya kuat.
Kepingan-kepingan peristiwa berkumpul diotaknya. Kepingan-kepingan yang berlarian. Ia tidak bisa menyusunnya seperti pazel.
"Arghh shtt." gerang Kinan kesakitan.
"Nan, kenapa?" tanya Raylo. Ezra, Vano, dan Catrine pun mendekati Kinan. Berbeda dengan Verrel yang memvideokannya.
Bruk
Tubuh Kinan jatuh ke lantai. Ezra, Raylo, Vano dan Catrine langsung panik. Raylo menggendong adiknya untuk masuk kedalam. mobil dan pergi ke rumah sakit. Verrel juga ikut dengan mobilnya dari belakang.
"Panik gak ya Ken gua kasih vidio Kinan pingsan?" gumam Verrel dalam mobilnya. "Paniklah masa enggak!" ucap Verrel.
•••
Tring..
Satu pesan masuk kedalam handpone Ken. Ken yang sedang sibuk dengan laptopnya tidak memperdulikan pesan itu.
Tak lama, setelah pesan itu masuk, Ken mendapatkan sebuah panggilan dari handponenya. Ken langsung mengambil handponenya.
"Verrel?" gumam Ken. Ken pun langsung mengangkat telpon Verrel.
"Gimana? Jadi?" tanya Ken.
"Enggak. Tapi coba liat vidio yang gua kirim sama lu. Itu penting banget." ucap Verrel langsung mematikan telponnya sepihak.
Ken pun membuka pesan dari Verrel dan menonton video itu. Mata Ken langsung melebar saat Kinan ambruk. Ia melempar begitu saja handponenya dan mengambil jaketnya serta kunci mobilnya.
Ia pergi tanpa pamit karna sangat panik. Ken menyalakan mobilnya lalu melajukannya diatas kecepatan rata-rata agar mempersingkat waktu untuk sampai ke rumah sakit yang dikatakan Verrel.
Lima belas menit kemudian akhirnya Ken sampai ke rumah sakit yang dikatakan Verrel. Ken langsung menerobos masuk saja tanpa bertanya kepada resepsionis.
"Gimana keadaan Kinan?" tanya Ken.
"Ken? Kok ada di sini?" tanya Raylo.
"Mau liat Kinan." ucap Ken
"Ada hubungan apa sama Kinan?" nanya Ezra. Ken diam, ia tak tau ada hubungan apa dirinya dengan Kinan.
"Ga tau om." jawab Ken
"Gini Om, Kinan kan dekat banget sama Aira. Otomatis Ken selalu bertemu dengan Kinan karna Kinan sering main ke rumah Aira. Jadi hubungan mereka hanya teman." jelas Verrel.
"Oh, Om gak mau aja sampai Ken menyakiti Kinan seperti dia menyakiti Sayla." ucap Ezra. Ken langsung menunduk seolah ia merasa sangat bersalah.
"Maafin Ken om. Ken gak bermaksud berbuat seperti itu. Ken gak tau kalau Ayah bakalan tolak keras hubungan Ken dan Sayla. Ken benar-benar minta maaf om." ucap Ken.
"Itukan Ken!" teriak seseorang perempuan.
"Om, Ken pergi dulu ya." ucap Ken langsung berlari. Orang-orang yang sudah berkumpul untuk melihat Ken tadi langsung mengejar Ken.
"Om, Verrel bantuin Ken dulu ya. Kasian juga Ken di kejar orang sebanyak itu." ucap Verrel. Ezra mengangguk. Verrel pun berlari mengejar Ken.
•••
"Masker gua mana." gumam Ken sambil mencari-cari masker di sakunya tapi ia tidak menemukannya.
"Aish, kenapa hanya bawa topi? Dimana lagi cari masker?" gumam Ken berlari sekuat tenaga begitu pun dengan Verrel yang berusaha mengejar Ken.
"Buset, ni anak atlet apa presdir? Kencang banget larinya." ucap Verrel menambah kecepatan larinya.
Akhirnya ada orang jual masker. Kenline kayaknya masih jauh. batin Ken. Ken pun mampir dan membelu masker.
"Dek, maskernya satu." ucap Ken sambil mengatur napasnya.
"Ini." ucap penjual itu. Saat Ken menaikkan kepalanya, penjual itu terkejut.
"Berapa?" tanya Ken.
"Buat kak Ken gratis. Tapi aku minta tanda tangan ya sama foto juga." ucap penjual itu.
"Hah?" ucap Ken.
"Ken tunggu!!" teriak para Kenline.
"Besok aja ya dek." ucap Lanjut berlari sambil memakai maskernya. Saat menemukan tempat duduk ia segera duduk dan memakai topi yang berwarna hitam yang ia bawa serta topi dari jaket yang ia pakai.
"Ken tadi kemana ya?" tanya Kenline.
"Kayaknya kesana deh." ucap salah satu Kenline tepat di depan Ken. Ken yang tidak ingin ketahuan pura-pura bermain game di handponenya. Setelah Kenline pergi datanglah Verrel.
"Lu gak apa apa? Hah hah hah." ucap Verrel ngos-ngosan mengejar Ken.
"I'm oke." jawab Ken. Verrel pun duduk di samping Ken.
"Gila, kencang banget lari lu. Kayak idol yang udah terbiasa di kejar fans." ucap Verrel.
"Gua kan emang Idol." ucap Ken.
"Dih terserah lu." ucap Verrel.
•••Bersambung...
Hai-Hai authoe udah up ya, jangan lupa kasih author dukungan agar author terus semangat untuk menulis bab-bab dalam novel ini ya 😉