
10 menit perjalanan, mereka sampai di rumah sakit terdekat. Ken langsung menggendong Kinan dan membawanya ke UGD.
"Cepat Periksa!" ucap Ken memerintah. Para dokter pun menjadi panik dan langsung memeriksa Kinan.
"Tuan muda, mohon tunggu di luar." ucap Suster. Ken pun terpaksa keluar.
"Nah kan apa gua bilang. Ken pasti lebih parah dari pada gua." ucap Morgan.
"Diam lu Kampret!" ucap Ken kesal. Morgan diam. Ia tak mau mencari masalah jika Ken sedang marah. Bisa-bisa Morgan habis di tangan Ken.
Tak beberapa lama, Dokter keluar dari IGD.
"Gimana?" tanya Ken.
"Nona muda mengalami Kontraksi palsu." ucap Dokter.
"Kontraksi Palsu?" tanya Ken.
"Ya tuan. Braxton Hicks adalah kontraksi palsu yang dapat terjadi memasuki setengah akhir periode kehamilan. Jika terjadi sebelum usia kehamilan 37 minggu, kram perut saat hamil 7 bulan ini biasanya jarang muncul dan sekalipun muncul, frekuensinya tidak teratur." jelas dokter itu.
"Kok bisa?" tanya Ken.
"Kontraksi ini terjadi karena rahim Nona mengencang lalu mengendor lagi secara tidak beraturan. Kondisi ini akan makin sering berulang menjelang akhir kehamilan. Bahkan mungkin akan terasa lebih sakit, terutama bila bayi Nona sedang berubah posisi dengan kepala di bawah tuan." jelas Dokter itu. Ken mengangguk mengerti. "Kalau begitu saya permisi." ucap Dokter itu langsung pergi.
Ken menatap tajam kearah Morgan.
"Semuanya karna Lu! Untung anak gua gak apa-apa!" ucap Ken marah lalu masuk kedalam IGD.
"Salah gua apa?" tanya Morgan menggaruk tengukuknya yang tidak gatal.
"Udah tau Kinan lagi hamil tua, lu suruh kita kerumah Ken buat sarapan." ucap Eric.
"Ya gua minta maaf. Gua gak tau bakalan jadi kayak gini." ucap Morgan.
"Minta maaf sama Ken Men. Lu tau sendiri kan? Ken kalau udah Marah, redain amarahnya itu susah." ucap Raylo.
"Gimana dong?" tanya Morgan.
"Gak tau." jawab Raylo.
"Kok gua merasa bersalah banget." ucap Morgan mengacak-acak rambutnya.
•••
"Are you oke?" tanya Ken. Kinan mengangguk.
"Ya allah sayang, kamu buat aku takut setengah mati tau gak? Aku kira kamu bakalan lahiran secara prematur. Kalau benar lahiran secara prematur, kamu yang dalam bahaya." ucap Ken.
"Tadi Kontraksi palsu ya? Ken junior pinter ngeprank rupanya." ucap Kinan mengelus perutnya yang membuncit. Ken pun ikut mengelus perut Kinan.
"Hey Baby, jangan coba prank Papa lagi! Awas aja kamu ya kalau udah lahir." ucap Ken.
"Ih Kok jahat sih!" ucap Kinan sambil memukul pelan lengan Ken.
"Hehe, oh ya sayang, kamu aku larang ikut perpisahan." ucap Ken.
"Kenapa?" tanya Kinan.
"Setelah lihat kontraksi palsu kamu tadi, aku jadi takut. Terlebih lagi kami bakalan banyak berjalan di perpisahan. Itu bakalan buat kamu makin capek sayang." ucap Ken.
"Kak Ken, acara perpisahannya di undur, gak jadi minggu depan." ucap Kinan.
"Lah jadi?" tanya Ken.
"2 bulan lagi. Karna kepala sekolahnya masuk rumah sakit. Jadi acaranya diundur dua bulan lagi." ucap Kinan.
"Makin gak aku bolehin." ucap Ken.
"Kenapa? Why? Wae?" tanya Kinan dengan 3 bahasa.
"2 bulan lagi kehamilan kamu udah masuk bulan yang kesembilan. Misalnya kalau kamu kontraksi di hari gradu kan repot." ucap Ken.
"Eh iya ya. Kalau misalnya aku udah lahiran boleh yaa." ucap Kinan.
"Gak, tunggu seminggu dulu baru boleh. Emang tanggal berapa?" tanya Ken.
"Katanya pertengahan bulan, tapi gak tau tanggal berapa." ucap Kinan. Ken mengangguk.
•••
"Kak Levin, Kinan gak apa-apa kan?" tanya Raisa. Levin mengangguk.
"Bagus lah. Ini Rai beliin es krim." ucap Raisa memberikan es krim yang ia beli kepada Levin. Levin pun memerimanya.
"Rai, kenapa bisa suka sama kakak?" tanya Levin. Raisa yang sedang asik memakan es krimnya lalu melihat manik mata Levin yang berwarna coklat.
Deg Deg Deg.
Jantung Raisa langsung bereaksi seperti lari maraton saat Levin memperlakukannya seperti itu.
"Sepertinya cinta memang tidak memerlukan harapan." ucap Levin lalu mengelus rambut Raisa lembut.
Kak Levin dingin dingin romantis yaa. Senang bangett. batin Raisa.
"Woy berduaan aja kayak dunia serasa milik sendiri. Yang lain ngontrak." ucap Arkan.
"Kak Arkan!" ucap Raisa kesal.
"Ya dek?" tanya Arkan.
"Tau gak, kalau orang lagi berduaan, yang ketiganya itu setan?" tanya Raisa. Arkan mengangguk.
"Tau kok." ucap Arkan.
"Kak Arkan setannya!" teriak Raisa.
"Gak gitu konsepnya Rai. Masa ada setan setampan Kakak? Gak ada kan?" tanya Arkan. Raisa pun berdiri dari duduknya dan mendorong Arkan menjauh dari dirinya dan Levin.
"Pergi jauh-jauh! Sana tuh, temanin Vivi, kasian!" ucap Raisa.
"Gak mau sama bocil!" ucap Arkan.
"Anda yang bocil!" ucap Raisa kesal lalu meninggalkan Arkan.
"Di tinggal lagi. Nasib banget jadi jomblo ganteng." ucap Arkan, Ia pun berjalan dan melihat Raylo sedang berduaan dengan Zeva.
"Astagfirullah sial banget gua. Udah tiga pasangan dan gua jadi setannya!" ucap Arkan kesal.
"Ngapain lu? Ganggu orang aja! Sono pergi!" usir Raylo.
"Ray, lu Kakak gak ada akhlak. Adik lu lagi di rumah sakit malah pacaran!" ucap Raylo.
"Diam jomblo abadi! Mending cabut lu dari sini!" ucap Raylo.
"Ya, Ya gua pergi! Sewot banget lu kayak Mak gua!" ucap Arkan. Ia pun kembali berjalan-jalan di taman rumah sakit.
"Nauzubillah. Tadi Ken sama Kinan, Levin sama Raisa, terus Raylo sama Zeva. Sekarang Verrel dan Maudy! Ini bioskop apa rumah sakit? Banyak bat orang pacaran dan gua selalu jadi setannya!" ucap Arkan.
"Yang lu liat tadi belum sah, kecuali Ken dan Kinan. Kita mah udah sah!" ucap Verrel.
"Hooh, tinggalin aja gua terus! Ntah kapan jodoh buat gua datang. Kalian pada nikah muda, gua kan juga kepengen." ucap Arkan.
"Cari aja jodoh di pasar loak, pasti banyak." ucap Verrel.
"Males ah, pasar loak jelas-jelas pasar barang bekas. Masa nyonya keluarga Diano bekas orang. Ogah!" ucap Arkan pergi.
"Bentar lagi pasti Morgan sama Aira. Ntah kenapa gua yakin banget." ucap Arkan. Dan firasatnya benar. Ia melihat Morgan dan Aira sedang bermesraan dengan Ryan di tengah mereka.
"Biasanya orang keempat malaikat kan? Mampus lu Ryan, lu syaitonnya!" ucap Arkan.
"Woi Jomblo dari lahir! Masa anak gua lu bilang setan! Trus gua apa?" tanya Morgan.
"Iblis, bapaknya setan!" ucap Arkan.
"Cabut lu! Pengganggu aja!" ucap Morgan mendorong Arkan. Arkan pun pergi.
"Astagfirullah Arkan yang tampan ini sangat kesal." ucap Arkan menendang batu di depannya dengan keras.
"Awww!" teriak seorang wanita. Arkan langsung menghampirinya.
"Vivi, Sorry kakak gak liat, beneran." ucap Arkan.
"Kak Arkan! Dahi Vivi berdarah ni!" ucap Vivi.
"Eh iya, Kita masuk kedalam biar nanti diobatin sama dokter." ucap Arkan
"Maunya sama kak Arkan." ucap Vivi.
"Lah gimana? Kakak bukan dokter. Ke dokter aja biar lebih bersih dan lebih cepat sehat." ucap Arkan.
"Vivi mau sama kak Arkan." ucap Vivi.
"Bocil! Jangan buat gua marah deh! Mending sekarang ikut gua ke dalam dan bersihin luka lu!" ucap Arkan berusaha menahan amarahnya. Wajah Vivi langsung cemberut. Ia terpaksa ikut Arkan kedalam rumah sakit.
•••Bersambung...
Jodoh depan mata loh Ar. Masa mau di sia-siain.
Jangan lupa Like, comment, vote, hadiah, dan rate 5 yaa. Jangan lupa di Share jugaa 😆😆