
Sayla yang berada di dalam mobil Reval keluar mengikuti Reval yang kabur dari Ken dan yang lainnya.
Sedangkan Revan tengah kritis di rumah sakit, Eliza tidak berhenti menangis karna Revan yang tak mau sadar.
"Ma, tenang dulu. Papa gak bakalan bisa bangun kalau Mama gak tenang." ucap Eric.
"Tapi Mama mau Papa kamu bangun Ric." ucap Eliza.
"Ya kalau Mama gak tenang, Papa gak mau bangun. Mama udahan nangisnya ya." ucap Eric. Eliza pun berhenti menangis.
"Jadi pernikahan lu dan Maudy di undur dong." ucap Verrel.
"Di undur apanya? Orang kita sepupuan. Yang masuk akal aja Rel, mana ada sepupu nikah sama sepupu. Aneh lu." ucap Eric.
"Kalian sepupuan?" tanya Verrel.
"Mama gua itu adik kandung dari Papa Maudy. Ya kita sepupuan lah." ucap Eric.
"Lah iya, kenapa gua baru sadar." ucap Verrel langsung tersenyum. Saat Maudy ingin duduk, Verrel menarik Maudy untuk keluar bersamanya.
"Ih, Kak Verrel apaan sih! Lepasin! Sakit tau!" ucap Maudy memberontak. Verrel melepaskan Maudy di belakang rumah sakit. Ia menghalang Maudy dengan tangan Kanannya. Di samping kiri Maudy adalah tembok, membuat Maudy terpojok.
Verrel sedikit memiringkan kepalanya membuat Maudy sedikit memundurkan kepalanya.
"Kau dan Eric sepupu kan?" tanya Verrel. Maudy terkejut. Dari mana Verrel tau segalanya.
"Aku.." belum selesai Maudy dengan kalimatnya, Verrel memotongnya.
"Minggu depan kita Nikah!" ucap Verrel. Maudy membesarkan matanya karna terkejut.
"Minggu depan?!" tanya Maudy kaget.
•••
"Udah mendingan?" tanya Ken kepada Kinan. Mereka memilih pulang dan yang lainnya pergi kerumah sakit untuk melihat Revan.
Kinan mengangguk, Ken menyuruh Kinan untuk berbaring di tempat tidur mereka. Ken juga ikut berbaring di samping Kinan dan mengelus perutnya.
"Bulan depan kamu ada perpisahan. Datang gak?" tanya Ken.
"Datang dong." ucap Kinan.
"Kalau perut kamu membesar kayak gini, aku jadi khawatir." ucap Ken.
"Kalau Kak Ken khawatir, datang aja ke Perpisahan Kinan." jawab Kinan.
"Boleh. Udah di kasih tau tanggal berapa?" tanya Ken. Kinan menggeleng.
"Yaudah, nanti kalau udah di kasih tau, kakak ikut ya ke perpisahan kamu." ucap Ken. Kinan mengangguk.
"Setelah ini, kamu mau masuk kuliah apa fokus sama yang di perut?" tanya Ken.
"Kayaknya Kinan gak bisa kuliah deh kak. Kakak juga sih, nikahnya kecepatan. Aku gak bisa kuliah kan!" ucap Kinan pura-pura marah.
"Gak usah lama-lama belajar. Kamu udah pintar, nanti makin pintar. Apa jadinya anak kita? Contohnya aku deh. Bunda sama Ayah pintar, jadilah aku yang pintar banget. Terus aku yang pintar banget, di tambah kamu yang pintar. Terus anak kita jadi apa?" tanya Ken.
"Gak apa Kak, orang pintar itu biasanya akan sukses dengan caranya." ucap Kinan.
"Pokoknya gak usah kuliah, Jadi sekretaris aku aja." ucap Ken.
"Di gaji gak tuh?" tanya Kinan.
"Aku gaji dengan tubuh aku yang bagus ini, gimana?" ucap Ken langsung menindih Kinan.
"Kayaknya Ken junior minta di jeguk sama Papanya." ucap Ken. Kinan mendorong Ken.
"Setelah kamu perpisahan, gimana kalau kita main ke pulau pribadi keluarga Anggara?" tanya Ken.
"Boleh aja." jawab Kinan.
•••
"Apa?! Minggu Depan?!" ucap mereka yang berada di depan kamar Revan yang kaget.
"Siapa yang restuin kamu?" tanya Elioz. Verrel mendekati Elioz. Ia berlutut di hadapan Elioz.
"Verrel memang salah Om. Verrel dulu buat Maudy sedih dan Om marah besar. Dan Om ngambil Maudy dari Verrel. Setelah Maudy pergi Verrel merasa ada yang kurang. Tapi sampai kapan pun, Verrel gak bakalan menemukan apa yang hilang. Sampai Arkan datang dan menyadarkan serta memberitahukan apa yang hilang dari Verrel. Saat Verrel mau menebus semuanya, Eric datang dan bilang dia mau nikah dengan Maudy. Tapi bodohnya Verrel, Verrel gak sadar kalau itu tipuan. Eric dan Maudy sepupuan, mereka gak akan menikah. Makanya dalam kesempatan ini Verrel mau menebus semuanya!" jelas Verrel.
"Akting! Kamu Akting lagi kan sama kayak di London." ucap Elioz. Verrel berdiri dan menatap serius mata Elioz.
"Verrel serius Om." ucap Verrel dengan nada seriusnya.
"Bilang, apa yang kalian butuhkan." ucap Elioz.
"Om setuju?" tanya Verrel.
"Jangan banyak tanya, bilang apa yang kalian butuhkan sebelum Om berubah pikiran." ucap Elioz.
"Om gak perlu repot-repot, Verrel dan anak buah Verrel udah nyiapin semuanya. Om, Tante, Mama, Papa dan Maudy tinggal duduk santai." ucap Verrel
"Tapi, bulan depan aku baru lulus." ucap Maudy.
"Lebih cepat lebih baik." ucap Verrel tersenyum manis kepada Maudy. Senyuman yang jarang terlihat karna tertutup oleh sikap cueknya kepada Maudy dan cenderung lebih banyak tertawa dengan teman laki-lakinya.
•••
"Wih hebat juga si Arkan." ucap Ken.
"Tukang kompor yang paling berguna." ucap Eric di telfon.
"Akting lu sama Maudy keren sih. Maudy beruntung punya sepupu hebat kayak lu." ucap Ken.
"Wah, iya dong. Gua kan pernah casting di Film." ucap Eric.
"Di terima?" tanya Ken.
"Hahaha, enggak." ucap Eric.
"Hahaha, sutradaranya lagi gak teliti. Masa anak keluarga Arlata gak lolos casting." ucap Ken tertawa.
"Gua terlalu tampan katanya." ucap Eric.
"Apa kabar kalau gua masuk ke sana." ucap Ken.
"Rusuh satu Audisi." ucap Eric.
"Ntar Morgan nelfon." ucap Ken.
"Sambungin aja kesini." ucap Eric. Ken mangangguk
"Ada apa?" tanya Ken.
"Woi bantuin gua! Bini gua mau melahirkan!" ucap Morgan panik.
"Apa? Kita otw!" ucap Ken dan Eric bersamaan.
•••Bersambung...
Hai-hai. Maaf ni author up dikit, soalnya udah mulai ujian kenaikan kelas ni. Waktu belajar di perketat, kalian pahamin author yaa. Jangan lupa doain author dapat nilai bagus 😆😆