Ken & Kinan

Ken & Kinan
Penyelamatan



Keesokan harinya, mereka pergi ke hotel yang di katakan oleh Vivi. Vivi yag merengek ikut pun akhirnya di bolehkan ikut oleh Andrew dan Arkan. Saat ini ia tengah menunggu di dalam mobil anti peluru milik Arkan.


Sedangkan Arkan sedang melambaikan tangannya berisyarat untuk ikut masuk bersamanya. Ia memberi isyarat itu kepada Eric, Raylo, Morgan dan Andrew. Ken tidak ikut, karna ia sedang diawasi oleh polisi. Dari pada rencana mereka kacau, makanya Ken berbaik hati tidak jadi ikut mereka.


"Ntar." ucap Eric.


"Apa?" tanya Arkan.


"Ini hotel gua!" ucap Eric. "Ngapain masuk ngendap-endap kayak maling!" ucap Eric.


"Lah iya. Yaudah minta kunci kamar 101 yang di bilang Vivi tadi." ucap Arkan. Eric mengangguk.


"Permisi, boleh saya minta kunci cadangan kamar 101?" tanya Eric.


"Maaf tuan, kamar itu VVIP karna tamunya tidak ingin di ganggu." ucap resepsionis itu.


Brak!


Eric memukul meja resepsionis.


"Saya pecat kamu atau kamu berikan kunci itu. Berani sekali menolak Erico Arlata!" ucap Eric. Resepsionis itu langsung memberika kunci cadangannya kepada Eric.


"Its So Easy." ucap Eric sambil berjalan di depan Arkan, Morgan, Raylo dan Andrew.


Saat mereka sampai di lantai 6, tempat kamar yang akan mereka tuju, mereka langsung membukanya.


Mereka langsung terkejut melihat seorang wanita yang tangannya di borgol di tempat tidur dan seorang pria yang berusaha menyetubuhinya tapi perempuan itu masih bisa menghalaginya sampai pria itu menamparnya.


Raylo yang tersulut emosi langsung memberikam bogem mentah kepada laki-laki itu.


"Brengsek!" teriak Raylo. "Arkan, Morgan, Eric, Andrew urus dia. Masalah wanita ini percayakan pada ku." ucap Raylo. Mereka berempat pun mengangguk.


Raylo mencari kunci borgol itu.


"Laci nomor tiga." ucap wanita itu. Raylo mengangguk. Ia mendapatkan kunci borgol itu lalu membuka borgol wanita itu dan menggendongnya ala bridal style.


Sampai di luar, Raylo di hadang beberapa penjaga.


"Sial!" ucap Raylo. Raylo menurunkan wanita itu dan mengambil pistolnya.


Pistol ku? batin Raylo. Raylo meninggalkan pistolnya di mobil.


Raylo bodoh! batin Raylo. Raylo pun maju dan mulai memukul mereka dengan ilmu bela diri yang ia punya. Ilmu yang cukup tinggi sampai mereka semua terkapar lemas. Untung mereka tidak membawa sejata, makanya Raylo menghabisi mereka dengan mudah.


Raylo pun kembali menggendong wanita itu dan berlari sampai ke mobil Arkan. Ia memasukkan wanita itu kedalam mobil milik Arkan.


"Vivi, jagain dia. Ada yang harus kakak urus di dalam." ucap Raylo. Vivi mengangguk. Raylo pun berlari masuk ke hotel milik Eric.


"Kakak, masih ingat aku?" tanya Vivi. Wanita itu mengangguk.


"Dia siapa?" tanya wanita itu.


"Namanya kak Raylo. Kak Raylo keren kan?" tanya Vivi.


"Kamu apaan sih. Kamu gak apa-apa kan?" tanya wanita itu.


"Gak apa-apa kak. Aku Viana, panggil aja Vivi, umur delapan belas tahun." ucap Vivi mengulurkan tangannya. Wanita itu pun menjabat tangan Vivi.


"Nama kakak Zevanya. Panggil aja kak Zeva. Umur kakak dua puluh tiga tahun." ucap Zeva.


"Ohh aku kira kakak dua puluh tahun. Rupanya lebih tua tiga tahun." ucap Vivi. Zeva pun tersenyum.


•••


"Aman?" tanya Arkan. Mereka berempat mengangguk


"Kalian masuk perangkap juga ya." ucap Reval.


Plok! Plok! Plok!


Reval menepuk tangannya.


"Wah ponakan ada di sini juga. Bay the way kita seumuran loh." ucap Reval.


"Gua gak sudi punya Om kayak lu!" ucap Eric.


"Gua belum tua. Umur gua dua puluh satu tahun kok. Seumuran sama kalian. Cuman telat lahir aja." ucap Reval.


"Hahaha Reval Arlata. Kau tak tau Morgan Bagaskara?" tanya Morgan.


"Anak kedua keluarga Bagaskara dan memiliki perusahaan yang sederajat dengan perusahaan keluarga Anggara." ucap Reval.


"Gua juga pintar Reval." ucap Morgan. "Lu sembunyiin Sayla di London kan? Verrel sudah menangkapnya." ucap Morgan.


"Mustahil." ucap Reval.


"Atas dasar apa?" tanya Reval.


"Tuduhan palsu dan pencemaran nama baik." ucap Raylo dan Andrew serentak.


"Kita berdua anak hukum Men. Gak mungkin gak tau. Lu juga bakalan kena pasal penganiayaan, pemerkosaan dan penjualan manusia." ucap Raylo.


"Bisa terancam hukuman seumur hidup." ucap Andrew.


"Anak hukum pidana." ucap Raylo kepada Andrew. Andrew mengangguk.


"Banyak pasal yang lu langgar Reval!" ucap Raylo.


"Setibanya Sayla di sini, kau akan langsung masuk ke penjara dan tak ada lagi pengadilan." lanjut Raylo.


"Sebelum melawan delapan keluarga besar, lawan dulu yang di bawah kami!" ucap Eric.


"Dasar sombong kalian! Aku akan tetap meneruskan perjuangan Ayah untuk buat kalian terpecah!" ucap Reval.


"Silahkan." ucap Raylo.


"Tuan Reval, anda kami tangkap!" ucap polisi.


"Uh so Fast ya." ucap Raylo.


"Dan tuan muda Ken sudah kami bebaskan." ucap polisi. Ken yang datang bersama polisi pun mengangguk. Reval di borgol dan di bawa ke kantor polisi.


"Wih keren juga kalian ya. Belum seminggu, udah tuntas aja." ucap Ken.


"Didikan pak Kenzard." ucap Arkan. Ken mengangguk.


"Btw itu cewe di dalam mobil di biarin aja? Nanti mereka di bawa sama polisi buat jadi saksi lo." ucap Ken.


"Astagfirullah lupa!" ucap Arkan dan Raylo. Arkan dan Raylo pun berlari ke dalam mobil dan memastikan dua wanita itu masih berada di dalam mobil.


Mereka bernapas lega karna kedua wanita itu tertidur pulas sambil berpelukan.


"Ray, kayaknya kita bakalan nyusul Verrel ni dan lu gak bakalan jadi perjaka tua." ucap Arkan. Raylo memukul pelan kepala Arkan.


"Gua masih muda bego." ucap Raylo menahan amarahnya. Eric menarik Raylo dan Arkan.


"Kalian belok ya?" tanya Eric.


"Belok? Sama dia? Ogah!" ucap Arkan.


"Lu yang kemarin ngejar-ngejar gua!" ucap Raylo.


"Masa? Kok gua lupa ingatan?" tanya Arkan.


"Au ah!" ucap Raylo langsung masuk kedalam. mobil. Ia membuka setengah kaca mobil di sampingnya.


"Dalam hitungan ketiga kalian gak masuk, gua tinggal ni." ucap Raylo.


"Anak keluarga Prince! Ini mobil gua! Kok lu yang nguasain?" tanya Arkan. Arkan pun masuk ke mobil dan duduk di samping Vivi.


"Arkan, keluar. Aku yang duduk di samping Vivi." ucap Andrew yang memutuskan masuk kedalam geng Tatacak.


"Possesif anda!" ucap Arkan. Arkan pun keluar dan Andrew masuk. Dan Arkan duduk di sebelah Andrew.


Sementara Ken pulang dengan Morgan menggunakan mobil Ken.


•••


Malam harinya di apartemen Andrew...


"Kak, Kak Arkan ganteng yaa." ucap Vivi.


"Vivi suka? Sadar diri dulu. Dia anak dari keluarga Diano, keluarga terpandang." ucap Andrew.


"Gak apa kak! Aku nanti sama kak Arkan, kak Zeva sama kak Raylo!" ucap Vivi.


"Kakak?" tanya Andrew.


"Ya gitu, jomblo." ucap Vivi.


"Pokoknya kakak gak setuju kamu suka sama Arkan." ucap Andrew. "Baru juga ketemu, nanti perasaan kamu tiba-tiba labil lagi. Mereka kan udah dua puluhan, jadi udah dewasa. Mana mau sama remaja kayak kamu." ucap Andrew.


"Kakak jatuhin mental aku aja!" ucap Vivi kesal.


•••Bersambung...


Jangan lupa berikan author dukungan yaa 😆😆