Ken & Kinan

Ken & Kinan
Verrel dan Maudy



Maudy dan Verrel pun sampai di Indonesia. Mereka baru saja mendarat.


"Dy, laper ni. Makan dulu lah." ucap Verrel.


"Terserah sih. Aku juga lapar." ucap Maudy.


"Verrel!" panggil Arkan. Verrel pun mendekati Arkan.


"Dari mana lu tau kalau gua lagi di bandara?" tanya Verrel.


"Seorang Arkan Diano tidak tau dimana Verrel? Mustahil!" ucap Arkan.


"Ganggu lu Ar!" ucap Verrel.


"Lu berdua pasti lapar kan? Gua traktir makan deh." ucap Arkan.


"Gas!" jawab Verrel. Maudy hanya menggelengkan kepalanya melihat kelakuan dua laki-laki di depannya ini. Maudy pun ikut berjalan bersama Arkan dan Verrel. Karna ia berjalan di belakang dan tertutupi oleh Arkan dan Verrel yang jauh lebih tinggi dari pada Maudy, Maudy malah tertinggal. Padahal ia hanya mengikat tali sepatunya sebentar dan kedua tiang itu hilang


"Aduh, mereka kemana?" tanya Maudy. "Gimana ni?" tanya Maudy.


"Kalau Daddy tau pasti kak Verrel dalam masalah." guman Maudy. Maudy pun berjalan dengan cepat berniat untuk mencari Arkan dan Verrel.


Setelah sampai di luar bandara, Maudy meneriaki nama mereka tetapi tidak ada sahutan.


"Kak Arkan! Kak Verrel!" teriak Maudy lagi tapi hasilnya nihil. Maudy memberanikan diri berjalan menjauh dari bandara bermaksud mencari taksi. Tapi keberanian itu malah membawa masalah padanya.


Tas ransel yang ia bawa diambil paksa oleh pejambret.


"Apaan sih! Lepasin gak!" ucap Maudy.


"Tolong! Tolong!" teriam Maudy. Saat Maudy berusaha mengambil tasnya, pejambret itu malah tersungkur karna ada yang memukulnya dari belakang.


"Gak apa-apa?" tanya orang itu.


•••


"Rel, Maudy mana?" tanya Arkan.


"Astagfirullah! Mampus gua! Bawa anak orang malah ilang!" ucap Verrel. Arkan dan Verrel pun berlari kearah bandara dan memanggil-manggil nama Maudy.


"Maudy!" teriak Arkan dan Verrel bersamaan.


"Gimana ni, kalau om Elioz tau mati gua." ucap Verrel.


"Lu lah, bawa anak gadis orang dilepas gitu aja. Lu gandeng kek!" ucap Arkan. Verrel pun melihat area sekitar dan akhirnya menemukan Maudy.


"Nah tu Maudy!" ucap Verrel. Arkan dan Verrel pun berlari menghampiri Maudy.


"Dy, sorry banget gua gak liat lu beneran." ucap Verrel. "Eric? kok lu ada di sini?" tanya Verrel.


"Kalau gua gak ada di sini, udah masuk rumah sakit Maudy karna di ganggu jambret." ucap Eric.


"Di jambret?" tanya Verrel. Eric mengangguk.


"Dy lu apa apa kan? Sorry banget gua gak liat lu." ucap Verrel.


"Makanya kalau bawa cewe itu di letakkan di tengah jangan di belakang. Liat aja postur tubuh kalian yang lebih tinggi dari Maudy." ucap Eric.


"Iya sorry kita keasyikan ngobrol." ucap Verrel.


"Gua tau lu cuek sama cewe tapi jangan sampai gini juga. Untung gua lewat kalau gak?" tanya Eric mulai kesal.


"Maudy, gua benar-benar minta maaf. Gua bukan bermaksud buat ninggalin lu. Gua cuman lupa kalau ada lu." ucap Verrel.


"Lu kalau gak iklas ya gausah lakuin! Biar gua yang ngantar Maudy!" ucap Eric. Eric menggenggam tangan Maudy. "Yuk Maudy." ucap Eric. Maudy mangangguk.


"Defenisi tertampar dan terjungkal yang sebenarnya." ucap Arkan. "Makanya lu kalau bawa anak orang bertanggung jawab napa." ucap Arkan.


"Salah lu juga lah, kenapa lu salahin gua?" tanya Verrel.


"Ya, lu yang bawa lu juga yang ninggalin. Kasian bini lu kalau dapat suami modelan kayak lu." ucap Arkan lalu pergi meninggalkan Verrel.


Emang salah gua sih, tapi Eric kok belain Maudy sampai kayak gitu? Curiga gua. batin Verrel.


•••


"Cie pasangan baru ekhm!" goda Aira.


"Paan sih Ai!" ucap Kinan. "Kalian berdua kapan?" tanya Kinan.


"Aku nunggu kepastian kak Logan." ucap Aira dengan raut muka yang sedikit sedih.


"Kenapa gak jadian aja? Lagian Morgan sama Logan sama. Beda sifatnya aja. Mukanya kan sama." ucap Ken


"Beda tau kak." ucap Aira. "Cinta itu gak bisa di paksakan. Kalau Aira sukanya sama kak Logan jangan di paksa suka sama kak Morgan." ucap Aira.


"Suka sama Logan karna apa? Lagian cewe yang dekat sama Logan dikit banget malahan bisa di hitung pakai jari." ucap Morgan.


"Dia itu mirip banget sama pangeran. Ganteng lagi. Gak tau sejak kapan Aira suka sama kak Logan." ucap Aira.


"Kamu kan gak bisa bedain mana Kak Logan sama Kak Morgan. Kali aja kamu sukanya sama kak Morgan." jawab Kinan.


"Enggak, gak mungkin kak Morgan. Feeling aku itu kak Logan! Aku tau kok kak Logan sifatnya gimana. Tapi kalau sama-sama diam, baru aku bingung yang mana kak Logan dan yang mana kak Morgan." jelas Aira.


"Terserah kanjeng ratu!" ucap Morgan.


Drrtttt.... Drttt..


Handpone Morgan bergetar menandakan ada seseorang yang menelponnya. Morgan pun mengangkatnya di depan Ken, Kinan dan Aira yang tengah menikmati makanannya.


"Apa?" tanya Morgan.


"......"


"Sial!" umpatnya pelan lalu mematikan sambungan telpon.


Kenapa dia datang ke hotel gua dan ngamuk tiba-tiba. Emang perlu masuk RSJ ni anak satu. batin Morgan.


"Jangan bilang Gista ngamuk lagi." ucap Ken.


"Bantuin gua. Dia gak bisa lepas dari gua. Dia udah seharusnya masuk RSJ lagi." ucap Morgan.


"Emang dia ngamuk di mana?" tanya Ken.


"Di MZB hotel." jawab Morgan.


"Ngapain dia ngamuk di sana. Seharusnya dia ngamuk di Bagaskara Grup. MZB hotel kan gak ada hubungannya sama lu." ucap Ken.


Hotel gua kok. batin Morgan.


"Udahlah biar Anak buah gua yang urus. Kita lanjut makan aja." ucap Morgan.


"Gista siapa?" tanya Aira.


"Sasaeng kakak, dia terlalu terobsesi sampai nguntit kakak kemana-mana. Saat kakak tau dia Sasaeng yang jiwanya terganggu karna terlalu terobsesi, kakak masukkan dia ke RSJ. Eh malah kabur dan ngamuk. Udah tiga kali sih dia ngamuk." ucap Morgan.


"Kenapa dia ngamuk selalu di MZB hotel atau di Moonlight cafe?" tanya Ken.


Jangan mancing gua Ken. Gua gak akan kasih tau ke lu kalau cafe dan hotel itu punya gua! batin Morgan.


•••


"Dy sorry. Maafin gua ya, gua janji gak ulangin lagi." ucap Verrel.


Maudy kamu kenapa merasa kecewa sama Verrel sih. Kan emang sikap dia kayak gitu, jangan baperan. batin Maudy.


"Iya lain kali jangan di ulangi ya. Aku takut lo." ucap Maudy.


"Gua sungguh-sungguh minta maaf. Jangan kasih tau ke om Elioz atau nyawa gua terancam." ucap Verrel.


"Dy, kakak gak ngapa-ngapain ya! Dia yang ngajak kakak ngobrol terus." ucap Arkan.


"Iya kak Arkan. Maudy paham kok." jawab Maudy


"Maudy kamu seharusnya tegas sama mereka. Kalau kejadian kayak gini keulang lagi, ini bisa bahaya." ucap Eric.


"Maudy kan bisa belajar bela diri sama kak Eric." jawab Maudy.


"Gak perlu sama Eric, gua yang ngajarin." ucap Verrel.


"Kak Verrel bisa bela diri?" tanya Kinan.


"Mayan lah buat ngelatih." ucap Verrel Maudy pun mengangguk setuju.


•••Bersambung...


Hai-hai author udah up ni. Maaf lama yaa, tapi kan babnya author panjangin. Jadi jangan lupa kasih dukungan kalian sama author agar author makin semangat lagi yaa 😉