
"Akhirnya selesai!" ucap Morgan. "Ck, kalian tidak akan bisa mengacak-acak perusahaan ku dasar bed*bah sialan!" gumam Morgan.
Sekarang karna kalian, perusahaan ku bisa menjadi lebih baik. Lihat saja malam ini, bukan hanya hotel ku yang akan menyaingi hotel keluarga Bagaskara tapi juga perusahaan dan cafe ku. Lihat saja. batin Morgan.
Tok...Tok..
"Masuk!" ucap Morgan. Andrew pun masuk ke ruangan Morgan.
"Masalah di cafe dan hotel telah saya selasaikan tuan, sekarang investor bertambah dan para pemegang saham tidak akan goyah lagi." ucap Andrew.
"Bagus di urutan keberapa perusahaan, hotel dan cafe kita?" tanya Morgan.
"Posisi kita naik pesat tuan. Dari berada di peringkat lima turun menjadi peringkat sepuluh, sekarang berada di peringkat dua." jawab Andrew.
"Baiklah, keluarga Anggara tidak beranjak dari peringkat satu. Tidak apa-apa, setidaknya keluarga Bagaskara sudah berada di bawahku." ucap Morgan.
"Keluarga Bagaskara berada di posisi keempat sedangkan posisi tiga ada keluarga Gerdion." ucap Andrew.
"Wah, setelah Levin yang mengelola Gerdion Grup mereka naik dari peringkat empat ke peringkat tiga. Bagus!" ucap Morgan. "Dan kita sudah membuat keluarga Bagaskara turun dari posisi kedua menjadi posisi keempat." ucap Morgan.
"Tuan, apa sebaiknya anda balik kerumah sakit?Anda sangat pucat." ucap Andrew.
"Tidak apa-apa. Aku rasa jahitannya lepas. Kau panggil saja dokter pribadi ku, bawa ke kamar ku dan cari tau siapa dalang dari penembakan terhadap Kenzard Anggara tadi siang." ucap Morgan. Andrew membungkuk.
"Baik tuan, saya permisi." ucap Andrew. Morgan mengangguk. Morgan bangkit dari kursi kerjanya dan berjalan pelan menuju kamar yang berada di dalam ruangannya sambil memegang dadanya yang sakit.
•••
"Wah, keren ni perusahaan. Naik pesat. Tadinya saham mereka turun. Dari peringkat lima turun ke peringkat sepuluh tadi siang. Lihat malam ini, mereka sudah berada di peringkat dua mengalahkan peruasahaan keluarga Bagaskara dan membuat mereka berada di posisi keempat dengan keluarga Gerdion di posisi ketiga dan keluarga Anggara di posisi pertama." ucap Verrel.
"Gak heran lagi kalau keluarga Anggara berada di posisi pertama. Tapi sebelumnya tidak ada yang bisa mengalahkan delapan keluarga besar dalam bisnis. Tapi setelah dia masuk, keluarga besar menjadi sembilan." ucap Levin.
"Apa nama perusahaannya?" tanya Ken.
"MZB Grup." jawab Verrel.
"MZB? kayak nama singkatan seseorang." jawab Levin.
"Nah gua setuju, gua dengar-dengar nama presdir mereka Mr.M dan dia mendirikan perusahaan itu dari nol." ucap Arkan.
"Ini mah mau menyaingi seorang Kenzard Anggara." ucap Logan.
"Tenang aja, perusahaan gua di luar negri peringkat pertama semua. Jadi gua gak bakalan biarin dia melampaui IQ gua." ucap Ken.
"Tapi Mr.M ini pintar dan yang paling pintar diantara kita itu cuman Ken dan Morgan." ucap Arkan.
"Gua rasa kita perlu selidiki Mr.M, soalnya saat Morgan hilang peringkat perusahaan ini terus naik dan akhirnya sampai ke peringkat dua." ucap Verrel.
"Bahkan Keluarga Dirgantara dan keluarga Arlata saja menjadi peringkat bawah karna adanya perusahaan ini." ucap Eric.
"Sebaiknya kita cari Morgan." ucap Levin. Mereka semua mengangguk.
•••
"Stella, kenapa kamu gak datang?" tanya Elang.
"Apa urusannya dengan ku?" tanya Stella.
"Astagfirullah Stella! Kondisi Morgan itu sangat mengkhawatirkan, kamu sebagai seorang ibu apa tidak merasakan sesuatu yang mengganjal jika tidak pergi kerumah sakit?" tanya Elang.
Sebenarnya banyak yang Mengganjal. Hati kecil ku berkata bukan Morgan yang salah dan stop memikirkan Aletha. Tapi otak ku terus saja memikirkan bahwa Morgan yang salah. Jadi aku harus bagaimana? batin Stella.
Elang mencoba cara selembut mungki kepada Stella, karna ia tau Stella tidak akan cerita jika Elang membentaknya.
"Why? coba cerita apa yang mengganjal di hati mu." ucap Elang lembut sambil mengusap lembut kepala Stella. Tangis Stella langsung pecah, ia tidak kuat menahan tangisnya lagi.
"Menagislah sesuka mu. Aku tidak akan melarang." ucap Elang langsung memeluk Stella.
"Aku tidak tau harus percaya pada hati atau otakku. Hati ku bilang kalau bukan Morgan yang salah dan stop pikirkan Aletha, tapi otakku tidak bisa diajak kompromi!" ucap Stella masih dalam tangisnya.
"Jadi aku salah udah nampar Morgan?" tanya Stella.
"Otak kamu menyuruh kamu untuk menampar Morgan, tapi apa hati kamu juga begitu?" tanya Elang. Stella menggeleng.
"Seharusnya kamu percaya pada hati mu, jangan lakukan apa yang di suruh otakmu." ucap Elang.
"Tapi aku reflek." ucap Stella.
"Aku paham, sejak kejadian Aletha Morgan menjadi misterius. Aku rasa dia punya dua sifat yang kita tidak tau sifat apa itu. Di depan kita dia anak ceria, suka bercanda, bertanggung jawab dan tegar. Tapi kita tidak tau seperti apa dia jika sedang menjadi dirinya sendiri." ucap Elang.
"Jadi Morgan yang ceria itu bukan dirinya?" tanya Stella. Elang mengangguk.
"Stella, coba kamu tatap mata Morgan, banyak kesedihan di sana. Aku akui dia sangat pandai menjadi misterius semuanya dia lakukan dengan sangat rapi, dari menyembunyikan perasaannya sampai ia rela tidak menjadi dirinya sendiri demi menutupi jati dirinya kepada orang lain." ucap Elang. Stella kembali ke posisi duduknya semula dan menatap wajah Elang.
"Dimana Morgan?" tanya Stella.
"Kabur." jawab Elang.
"Terus kenapa gak di cari?!" tanya Stella.
Perusahaannya melambung pesat, ngapain di cari. Udah pasti dia ada di perusahaanya. batin Elang.
"Cari ih!" ucap Stella. Stella naik ke kamarnya dan mengganti bajunya.
"Mau kemana?" tanya Elang.
"Nyari Morgan." ucap Stella yang sudah siap dengan pakaiannya.
"Besok aja udah malam." ucap Elang.
"Mau cari sekarang juga!" ucap Stella.
"Lah mama mau kemana?" tanya Logan.
"Mama mau pergi cari Morgan." ucap Stella.
"Hah?" Logan terkejut dengan sikap Stella, ia tidak tau apa yang baru saja terjadi pada Stella.
"Besok aja sayang, udah malam." ucap Elang.
"Papa benar Ma, udah malam." ucap Logan.
"Kalau dia kenapa-napa gimana? kalau dia kedinginan? dia kelaparan?" tanya Stella.
Gak mungkin kelaparan dan kedinginan, dia kan lebih kaya dari pada kita. batin Elang.
•••
"Habisi dia cepat! Aku tidak mau jika dia masih hidup!" ucap seorang pria yang sedang menelfon seseorang.
"Kami sudah mencoba bos." ucap orang yang pria itu telfon
"Memang kalian itu bodoh! Sudah ku bilang untuk menekan saham perusahaannya tapi kenapa perusahaannya malah meningkat pesat?" tanya Pria itu.
"Cepat habisi dia, atau semua rahasia ku akan terbongkar. Aku tidak mau jika mereka tau apa yang aku lakukan, mereka akan mengusirku dari rumah." ucap pria itu.
"Baik bos, kami akan berusaha sebaik mungkin." ucap pria yang ia telfon. Pria itu mematikan telfonnya dan menatap ke kaca kamarnya.
Mati saja kau Morgan Bagaskara! batinnya lalu memukul kaca itu.
•••Bersambung...
Nah, hayo siapa ni? Siapa ni?
Yang tau boleh langsung comment ya.
Jangan lupa dukungannya terus ngalir biar author makin semangat 😁